12

Idealisme Mahasiswa, Kampus, dan Pemilihan Umum Presiden

Pembaca sekalian, tulisan ini bertujuan untuk memahami seluk-beluk dunia mahasiswa meliputi bagaimana menjadi seorang mahasiswa ideal, memahami tanggung jawab mahasiswa, mendalami peran lembaga mahasiswa, memberi pandangan tentang aksi-aksi mahasiswa dan terakhir mengetahui harapan saya sebagai seorang mahasiswa. Dalam hal ini adalah mengenai status baru saya sebagai Mahasiswa Baru Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Kampus Merah Universitas Hasanuddin tahun 2008.

Mahasiswa ideal adalah sosok terpelajar yang mempunyai kriteria “unik”. Seperti, berpenampilan rapi, sopan dalam bertutur kata, kritis dalam menanggapi situasi, mampu beradaptasi, bertanggungjawab, disiplin, cerdas secara intelektual, dan terampil dalam menganalisa suatu masalah yang sedang dihadapinya.  Mahasiswa ideal harus bisa “beradaptasi” dan “bersosialisasi” secara “damai” di lingkungan tempat ia berada, baik di lingkungan masyarakat, keluarga, maupun di lingkungan kampus tempat ia menuntut ilmu dan mampu memposisikan dirinya dengan baik dan benar menurut peraturan yang mengikutinya.

Satu lagi bagian dari mahasiswa, yaitu ia harus memiliki kontrol sosial yang baik yang lebih spesifik lagi adalah bagaimana ia memposisikan dirinya agar ia bisa beradaptasi dan bisa berhubungan dengan baik terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Harus bisa menentukan pilihan yang terbaik guna kelangsungan kehidupannya di hari esok. Seorang mahasiswa mempunyai tanggung jawab. Ada dua jenis tanggung jawab yang berkaitan erat dengan mahasiswa, pertama tanggungjawab penuh terhadap dirinya sendiri secara sosial, selain itu mahasiswa pun memepunyai tanggung jawab sosial penuh terkait sesuatu yang ada di luar diri mahasiswa.”

Mahasiswa dan Kampus

Suatu bentuk tanggung jawab mahasiswa terhadap dirinya sendiri artinya mahasiswa memiliki suatu batasan-batasan tertentu terhadap dirinya sendiri, bagaimana ia mengatur dirinya agar bisa bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan sosialnya. ia harus berani bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, hal ini bisa saja berkaitan erat dengan pola pikir dari mahasiswa tersebut. Bila ia mempunyai pola pikir yang cukup baik maka akan dengan sendirinya  sifat dari tanggung jawab itu bisa melekat erat dengan dirinya sendiri.

Dalam lembaga kemahasiswaan tentunya terdapat berbagai macam organisasi yang menaung di dalamnya yang mana situs-situs keberadaannya cukup memberikan banyak gambaran-gambaran  umum bagaimana figur dari sebuah lembaga kemahasiswaan. Hal ini terkait dengan “kondisi kelembagaan” yang ada di lingkungan kampus dimana mahasiswa tersebut beraktivitas.

Peran lembaga mahasiswa yang kita rasakan sampai saat ini cukup memberikan stimulus kepada mahasiswa untuk meningkatkan kreaktivitas, menyangkut minat dan bakat setiap mahasiswa dalam bidang yang ingin digelutinya. Contohnya saja, mahasiswa yang berminat terhadap hal-hal yang berbau alam, maka ia tentunya bisa menggeluti hal itu dengan cara masuk ke sala satu  lembaga kemahasiswaan yang disebut dengan  Korpala. Bagi yang memeiliki minat atau bakat yang berhubungan dengan masaalah sosial maka ia bisa masuk ke dalam lembaga sosial kemahasiswaan yang skondisinyaesuai dengan dirinya.

Harapan saya sebagai mahasiswa adalah bisa menyelesaikan pendidikan secepat mungkin. Saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi, kalau bisa ke luar negeri. Status saya sebagai seorang mahasiswa harus betul-betul saya manfaatkan untuk meraih pendidikan selanjutnya. Ini tentunya memerlukan proses perjalanan yang cukup panjang. Saya berharap suatu saat saya bisa menyelesaiakan pendididkan secepat mungkin. Saya berharap suatu saat bisa membahagiakan orang tua saya termasuk orang-orang di sekitar saya. Saya pasti bisa, dan akan berjuang melakukan apapun untuk mencapai target sesuai dengan tujuan. Saya yakin potensi dan kapabilitas yang saya miliki saat ini bisa mendongkrak dan memotivasi diri saya untuk lebih serius lagi dalam menentukan sikap yang menjadikan diri saya lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan dan tentunya bisa mencapai goal saya.

Pandangan saya terhadap aksi mahasiswa selama ini cukup sederhana sebab fenomena realitas tentang hal itu sudah cukup saya ketahui sebelumnya walaupun tidak secara keseluruhan. Bila ditinjau dari segi pendidikan aksi-aksi yang pernah saya dapatkan cukup banyak. Berbagai jenis aksi yang ada, kesemuanya dikemas dan dibuat sedemikian rupa sehingga keberadaannya lebih diketahui oleh masyarak dalam lingkup yang cukup luas. Walaupun aksi mahasiswa cenderung anarkis dan frontal, tapi itulah satu-satunya jalan agar aspirai ditanggapi, setelah jalan diskusi tidak tercapai. Banyak aksi mahasiswa yang cukup mendidik, contohnya saja adanya sikap kritis dari sekelompok mahasiswa yang menginginkan perubahan-perubahan yang arah dan tujuannya cukup beralasan. Namun konsekuensinya menjadi prioritas utama dan dapat diterima oleh khalayak ramai. Hal ini cukup signifikan bila dibandingkan dengan aksi-aksi di luar mahasiswa. Menginginkan suatu perubahan secara positif yang mana konsekuensinya masih dalam lingkup kewajaran dan masih menyangkut aspek kemahasiswaan  keberadaannya sangatlah diperlukan.

Konsep gambaran kemahasiswaan yang pernah ada, terutama dalam dunia kampus menginginkan agar mahasiswa mampu mengklarifikasi segala bentuk perubahan asal prospeknya tidak bertentangan dengan apa yang menjadi tujuan bersama. Inilah mahasiswa dengan segala hal yang meliputinya, idealisme.

Pemilu merupakan ajang tergengsi bagi para politisi untuk setiap periodenya. Waktu pemilu adalah waktu yang tepat untuk menampakkan identitas diri bagi setiap politisi sebagai bagian dari proses berpolitik. Dalam pelaksanaannya pemilu memiliki efek paling besar terhadap eksistensi suatu negara. Karena di sinilah proses campur aduk kepentingan untuk mencapai satu tujuan dengan beribu-ribu rintangan dan persaingan antar sesama politisi, baik orang-orang yang memang menggeluti bidang politik, civitas akademik dalam hal ini mahasiswa dan dosen, ataupun masyarakat dari kalangan birokrat yang ikut mendedikasikan dirinya dalam dunia perpolitikan.

Mahasiswa dan Pemilu Presiden

Pemerintah punya peran besar dalam mengatur jalannya pemilu apalagi ketika calon presiden berkampanye. Dalam pemilu terlihat seakan-akan perhatian pemerintah terhadap negara mengalami penurunan drastis. Hal ini karena orang-orang yang secara struktural dan fundamental memiliki tanggung jawab penuh di pemerintahan dalam hal ini presiden dan wakil presiden masing-masing kembali ke peraduannya, menyiapkan dirinya untuk berkampanye yang tentunya untuk membuat basis-basis pemenangan di setiap tempat kemudian saling beradu kepentingan untuk mencapai kedudukan yang diinginkan. Dalam dunia politik hal ini lumrah terjadi sebagai bagian dari proses demokrasi –kata sebagian orang yang mendewa-dewakan demokrasi–dan ini merupakan bagian dari proses bergulirnya politik. Namun, di balik semua ini sudah banyak pihak yang menjadi korban terutama ketika proses kampanye itu berjalan, yaitu masyarakat kecil dan mahasiswa.

Dalam suatu negara misalnya Indonesia; pemilu, kampanye, masyarakat, dan mahasiswa semuanya saling berkaitan satu sama lainnya. Namun yang menjadi masalah utama dalam kajian ini adalah sejauh mana keterlibatan masyarakat dan mahasiswa dalam pilpres ketika kampanye? Bagaimana sikap kaum intelektual dalam hal ini mahasiswa terhadap kondisi seperti ini?  Mahasiswa merupakan bagian dari kelompok pemuda. Mahasiswa memiliki berbagai macam karakter positif, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan dirinya pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang terlalu besar. Anda dapat membandingkan misalnya Amien Rais (yang memiliki ‘beban’ sebagai mantan Ketua Muhammadiyah) dan seorang pemuda yang baru masuk menjadi anggota Muhammadiyah. Jika misalnya – sekali lagi misalnya – keduanya berfikir bahwa NU lebih baik, resistansi yang dimiliki oleh Amien Rais untuk beramal dalam wadah NU lebih besar dibanding pemuda tadi. Sedang energik berarti pemuda biasanya siap sedia melakukan ‘kewajiban’ suatu ideologi manakala dia telah meyakini akan kebenarannya.

Mahasiswa memiliki peran besar dalam mengarahkan tujuan yang ingin dicapai oleh rakyat terlebih lagi negara. Kaitannya dengan pemilu melalui proses kampanye adalah sejauh mana mahasiswa melibatkan dirinya dan sejauh mana mahasiswa mempengaruhi dan mengikutsertakan orang-orang yang ada di sampingnya untuk bersikap bijak terhadap kondisi yang sedang berjalan. Hubungan antara mahasiswa dan rakyat dalam pemilu biasanya sangat kental akan nuansa kekeluargaan, sehingga posisinya sangat strategis sebagai pusat kontrol masyarakat “agen of control.” Mahasiswa harus bisa membawa pemikiran rakyat ke arah yang benar ketika proses kampanye berjalan, mahasiswa melakukan fungsinya untuk menyadarkan rakyat agar tidak mudah terpengaruh terhadap janji sesaat, dan memberikan pemahaman yang jelas kepada masyarakat tanpa campur tangan dan tekanan dari pihak calon yang sedang berkampanye. Inilah tugas utama mahasiswa kepada rakyat ketika ada kampanye.

Mahasiswa memiliki pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan suatu negara, terutama terkait kebijakan-kebijakan pemerintah yang sepenuhnya pro-rakyat. Pada dasarnya pemerintahlah yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan bangsa. Namun, di sini peran mahasiswa tidaklah kecil melainkan ia adalah pembawa pengaruh besar sekaligus perubahan terhadap suatu kondisi yang dianggap tidak mendukung rakyat dan negara, terutama dalam hal menetapkan langkah-langkah konkret apa saja untuk mencapainya tujuan negara, baik itu memilih pemimpinnya, ideologi apa yang harus dipakai, eksistensi kedaulatan, dan bagaimana proses berjalannya hukum. Nah, proses kampanye pun turut mempengaruhi langkah-langkah ini, karena di sini terjadi perselingan dan percampuran ideologi dari berbagai pihak yang nantinya akan masuk dalam pemerintahan.

Mahasiswa adalah kaum intelektual yang berjiwa idealis dan dinamis. Dalam waktu-waktu tertentu mahasiswa bisa saja menjadi pemegang otoritas tertinggi negara dalam tanda kutip ketika kampanye pilpres dilaksanakan, mengapa? karena saat itu terjadi “vakum of power” selama tenggang waktu tertentu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ketika orang-orang yang secara struktural memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses berjalannya pemerintahan sudah tidak maksimal mengurusi pemerintahan dan lebih fokus pada tujuan partainya. Dalam situasi ini, mahasiswa punya peran strategis mengarahkan rakyat. Jika dalam kampanye tidak pro-rakyat, rakyat akan marah dan mendukung mahasiswa kemudian bersama-sama menyela kampanye tersebut.

Terakhir dari kajian ini adalah bagaimana usaha-usaha dan sikap mahasiswa dalam menghadapi tantangan dari luar, terutama dari birokrasi, maupun calon-calon pemerintah yang tidak pro-rakyat menjelang pemilu paska kampanye. Ini sangat jelas terlihat di berbagai wilayah yang sebelumnya menjadi tempat tujuan para calon presiden ketika berkampanye. Dalam kondisi seperti ini mahasiswa sepatutnya tetap menjaga idealitas yang dimilikinya, tidak mudah terpengaruh oleh isu sesaat yang tentu saja bisa menjadi bumerang bagi kelangsungan hidupnya, sikap kritis dan intelektual harus tetap dijaga dan dikembangkan, jika ada pemerintah yang menyeleweng melakukan kerja tidak sesuai dengan koridor yang ada, maka harus diadili menurut hukum yang adil. Hidup mahasiswa.

Indonesia, 11 Maret 2009 @14.41 WITA.
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."