12

Sejarah Lahirnya Pemikiran Diplomasi: Akar dan Perkembangannya

Diplomasi menjadi tren paling krusial sepanjang masa. Munculnya globalisasi yang hampir meniadakan batas-batas wilayah sebuah negara-bangsa menyebabkan berkurangnya praktek diplomasi di kalangan aktor hubungan internasional. Diplomasi dalam dunia hubungan internasional mengalami perkembangan, baik secara politik sekaligus dalam berpolitik, baik itu secara sendiri-sendiri (individu), kelompok (sistem kelompok), maupun secara mendunia (negara-negara). Perjalanan perkembangan diplomasi berkaitan erat dengan perkembangan teknolgi informasi yang semakin berlimpah.

Diplomasi secara harfiah, berasal dari bahasa Yunani “a folded paper or document[1] , yang berarti “kertas terlipat” atau “dokumen”, adalah seni dan praktek melakukan negosiasi antara perwakilan kelompok atau negara. Biasanya mengacu pada diplomasi internasional, pelaksanaan hubungan internasional melalui perantaraan diplomat profesional berkaitan dengan isu perdamaian pembuatan, perdagangan, perang, ekonomi, budaya, lingkungan, dan hak asasi manusia.

Perjanjian internasional biasanya dinegosiasikan oleh diplomat sebelum pengesahan oleh politisi nasional. Dalam arti formal atau sosial, diplomasi adalah kerja bijaksana untuk mendapatkan keuntungan strategis atau untuk menemukan solusi yang dapat diterima bersama dengan tantangan bersama, satu set alat menjadi kalimat pernyataan dengan cara non-konfrontatif, atau sopan.

Salah satu pemikiran “realis” awal dalam teori hubungan internasional abad ke-6 SM adalah terkait strategi militer Sun Tzu (w. 496 SM), penulis The Art of War.[2] Dia menganalisis selama waktu di mana negara-negara saingan yang mulai kurang memperhatikan hal tradisional dibimbingan ke Dinasti Zhou (1050-256 SM c.), dimana wilayah kerajaan setiap tokoh raja digambarkan dalam bentuk kekuasaan dan jumlah penaklukan. Namun, banyak diplomasi digunakan untuk membangun sekutu, tanah barter, dan menandatangani perjanjian damai yang sangat diperlukan bagi setiap negara berperang, dan peran ideal dari “pembujuk /diplomat” yang dikembangkan.

Dalam zaman modern, diplomasi berjalan karena ada ketergantungan kepentingan. Banyaknya kepentingan yang dimiliki oleh seseorang, membuat hal tersebut harus disharing kepada orang lain yang secara nyata itulah yang menjadi tujuan diplomasi sebenarnya. Kepentingan suatu negara tentunya tidak akan pernah luput dari kepentingan rakyat yang ingin mendapatkan perhatian banyak dari pemerintah negaranya. Selanjutnya, diplomasi akan terus dilakukan demi kestabilan negara, baik itu politik, ekonomi, sistem militer, kebudayaan, keilmuan, maupun moral manusia dalam negara tersebut.

Perlu diketahui bahwa dalam setiap diplomasi, cenderung lebih banyak memaparkan masalah-masalah suatu negara dalam lingkup internasional beserta cakupannya, sehingga penulis menyarankan kepada setiap pembaca bahwa dalam setiap praktik diplomasi selalu saja terjadi benturan, baik itu dalam cakupan kecil maupun cakupan besar-besaran yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi suatu negara di kancah internasional.

Catatan kaki:


[1] Ronald Peter Barston, Modern diplomacy, Pearson Education, 2006, hal. 1
[2] Loewe, Michael; Shaughnessy, Edward L., eds. (1999). The Cambridge History of Ancient China: from the origins of civilization to 221 B.C.. Cambridge University Press. p. 587. ISBN 978-0-521-47030-8. Retrieved 2011-09-01. “The writings that preserve information about the political history of the [Warring States] period [...] define a set of idealized roles that constitute the Warring States polity: the monarch, the reforming minister, the military commander, the persuader/diplomat, and the scholar.”
Indonesia, 12 Maret 2009 @12.25 WITA.
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"