Info Sekolah
Wednesday, 19 Jan 2022
  • Selamat datang di halaman Website "Ilmu Antarbangsa sebagai Paradigma Timur (World Relations as Eastern Paradigm)
12 March 2009

Sejarah Lahirnya Pemikiran Diplomasi: Akar dan Perkembangannya

Thursday, 12 March 2009 Kategori : Indeks / Politik Internasional

Diplomasi menjadi tren paling krusial sepanjang masa. Munculnya globalisasi yang hampir meniadakan batas-batas wilayah sebuah negara-bangsa menyebabkan berkurangnya praktek diplomasi di kalangan aktor hubungan internasional. Diplomasi dalam dunia hubungan internasional mengalami perkembangan, baik secara politik sekaligus dalam berpolitik, baik itu secara sendiri-sendiri (individu), kelompok (sistem kelompok), maupun secara mendunia (negara-negara). Perjalanan perkembangan diplomasi berkaitan erat dengan perkembangan teknolgi informasi yang semakin berlimpah.

Diplomasi secara harfiah, berasal dari bahasa Yunani “a folded paper or document[1] , yang berarti “kertas terlipat” atau “dokumen”, adalah seni dan praktek melakukan negosiasi antara perwakilan kelompok atau negara. Biasanya mengacu pada diplomasi internasional, pelaksanaan hubungan internasional melalui perantaraan diplomat profesional berkaitan dengan isu perdamaian pembuatan, perdagangan, perang, ekonomi, budaya, lingkungan, dan hak asasi manusia.

Perjanjian internasional biasanya dinegosiasikan oleh diplomat sebelum pengesahan oleh politisi nasional. Dalam arti formal atau sosial, diplomasi adalah kerja bijaksana untuk mendapatkan keuntungan strategis atau untuk menemukan solusi yang dapat diterima bersama dengan tantangan bersama, satu set alat menjadi kalimat pernyataan dengan cara non-konfrontatif, atau sopan.

Salah satu pemikiran “realis” awal dalam teori hubungan internasional abad ke-6 SM adalah terkait strategi militer Sun Tzu (w. 496 SM), penulis The Art of War.[2] Dia menganalisis selama waktu di mana negara-negara saingan yang mulai kurang memperhatikan hal tradisional dibimbingan ke Dinasti Zhou (1050-256 SM c.), dimana wilayah kerajaan setiap tokoh raja digambarkan dalam bentuk kekuasaan dan jumlah penaklukan. Namun, banyak diplomasi digunakan untuk membangun sekutu, tanah barter, dan menandatangani perjanjian damai yang sangat diperlukan bagi setiap negara berperang, dan peran ideal dari “pembujuk /diplomat” yang dikembangkan.

Dalam zaman modern, diplomasi berjalan karena ada ketergantungan kepentingan. Banyaknya kepentingan yang dimiliki oleh seseorang, membuat hal tersebut harus disharing kepada orang lain yang secara nyata itulah yang menjadi tujuan diplomasi sebenarnya. Kepentingan suatu negara tentunya tidak akan pernah luput dari kepentingan rakyat yang ingin mendapatkan perhatian banyak dari pemerintah negaranya. Selanjutnya, diplomasi akan terus dilakukan demi kestabilan negara, baik itu politik, ekonomi, sistem militer, kebudayaan, keilmuan, maupun moral manusia dalam negara tersebut.

Perlu diketahui bahwa dalam setiap diplomasi, cenderung lebih banyak memaparkan masalah-masalah suatu negara dalam lingkup internasional beserta cakupannya, sehingga penulis menyarankan kepada setiap pembaca bahwa dalam setiap praktik diplomasi selalu saja terjadi benturan, baik itu dalam cakupan kecil maupun cakupan besar-besaran yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi suatu negara di kancah internasional.

Catatan kaki:


[1] Ronald Peter Barston, Modern diplomacy, Pearson Education, 2006, hal. 1
[2] Loewe, Michael; Shaughnessy, Edward L., eds. (1999). The Cambridge History of Ancient China: from the origins of civilization to 221 B.C.. Cambridge University Press. p. 587. ISBN 978-0-521-47030-8. Retrieved 2011-09-01. “The writings that preserve information about the political history of the [Warring States] period […] define a set of idealized roles that constitute the Warring States polity: the monarch, the reforming minister, the military commander, the persuader/diplomat, and the scholar.”

Indonesia, 12 Maret 2009 @12.25 WITA.
Adi Rio Arianto

3 Comments

munawar , Tuesday 7 Apr 2009

Assalam…
Betul sekali apa yang Dinda Adi ucapkan, seperti penjelasan dalam buku Benturan Antar-Peradaban bahwa suatu saat akan terjadi yang namanya benturan-benturan yang lebih besar lagi, dan benturan itu terjadi karena adanya perbedaaan kelas budaya yang ada di dunia, baik itu agama, suku/etnic, maupun kepentingan-kepentingan politik lainnya. Dalam Kitab Suci Al-Qur’an pun telah dijelaskan sebelumnya akan kejadian ini, dan seluruh umat Islam telah mengetahui akan hal ini. Mudah-mudahan dalam penyusunan buku anda bisa sukses dan cepat selesai… Amin.

Reply
LA ODE MUHAMAD FATHUN , Thursday 9 Apr 2009

Assalamu Alaikum Kanda Adi Rio…
Salam Perjuangan…
Banyak hal yang harus ditelaah dalam membahas benturan-benturan yang terjadi di dunia ini. Namun, ada baiknya jika anda mengklasifikasikannya kedalam hal yang lebih spesifik lagi, dan untuk mencapai hal itu tentunya diperlukan analisah yang lebih mendalam terhadap setiap kejadian-kejadian yang ada di setiap penjuru negeri ini, seperti buku yang pernah saya baca yaitu, Buku Kebeasan dan Kebudayaan. Di dalamnya membahas tentang kelas-kelas dan pertikaian antara budaya (baca:peradaban) di dunia. ini merupakan ajang yang sangat mengerikan sepanjang sejarah dunia, sama halnya Ketika Kejayaan Islam yang berhasil meruntuhkan Peradaban Konstatinopel melalui Khilafah Islam sesuai dengan Janji Rasulullah dalam Al-hadits.
Mudah-mudahan buku Anda cepat terselesikan.. Amin.
Wassalam….

Reply
ISMIRA , Saturday 11 Apr 2009

assalamualikum…

secara tidaksengaja. membuka blok ini… sewaktu mENCARI TENTANG materi diplomasi publik dan permasalahannya….

sekedar informasi… semoga bisa berguna…

bahwaanda perlu juga mencantumkan… tentang sejarah diplomasi itu sndiri yng sangat konvensional… yang pertam kali dilakukan oleh salah seorangpaus vatikan saat inginberinteraksi menyampaikan pesannya kepada penguaa italy pada abad ke 15. mlalui sebentuk benda yang bernama
” Duppata” (ASAL kata dari diplomasi)

diplomasi secara umum terbagi atas : diplomasi tradisional dan modern….

kalo diplomasi tradisional.. pada umunya sangat bersifat klasik… dimana aktor pelaku sentralnya dilihatsebagau entitas yang tak terlepas dalam membawa nama negara dan lebih banyak memuat unsur politis………
sedangkan diplomasimodern…cakupannya lebih luas..dan lebih sering dinterpretasikan dalam konteks siplomasi publik… melibatkan seluruh elemen masayarakat dan melibatkan berbagai bidang diluar politik……

dalam diplomasihal yang sengat perlu dperhatikanadalah bagaimana membangun image atau pncitraan bangsa terhadap bangsa lain…apalagi jika berbicara pada kontek diplomasi makro… …
segitu dulu deh nanti kalo ada waktu se kirim info lagi… coz ini aja masih dikit banget … sharingnya… mudah-mudahan besok-besok bisa kupost judul2 buku terkait..

Reply

Tinggalkan Komentar

 

Pengunjung

Flag Counter

Facebook