12

Kampanye Politik Nuklir Ahmadinejad dan Diplomasi Nuklir Iran

Selama kunjungan kenegaraan Presiden Iran, Mahmoud Amadinejad ke Jakarta, dari Selasa 9 Mei hingga Jumat 12 Mei 2006 di Jakarta.[1] Ahmadinejad adalah dosen, politikus pejuang, Presiden, dan Sang Pembuat Berita. Ahmadinejad tampil sederhana. Seperti tampilan orang Persia lainnya, sulit menerka berapa umurnya, ternyata pria berkumis dan berjenggot dengan bintang skorpio ini akan merayakan ultah ke 50 pada 28 Oktober 2006.

Presiden Iran ini jauh dari tampilan glamor. Sepatu, kaus kaki, celana panjang, baju putih kerah, dan jas yang dia pakai tanpa embelembel merek terkenal dan biasa kita jumpai di dalam negeri. Ia pun tidak pernah berdasi sebagai salah satu ciri khasnya. Senyum tulus, lambaian tangan penuh kehangatan, perhatian pada semua orang, dan bahasa tubuh bersahabat adalah di antara kesederhanaan yang melekat pada diri Ahmadinejad. Ia sekolah di bagian sipil yang menekuni iptek transportasi dari Tehran University of Science and Technology. Ia adalah sosok aktivis sukses yang kemudian menjadi dosen. Ia juga Dosen Kampiun Se-Dunia dimana dari dua kali memberi kuliah umum, tak diragukan Ahmadinejad adalah dosen favorit. Tak banyak basa-basi membuang waktu dengan membaca kalimat-kalimat pembuka. Sapaan assalamualaikum dan puji syukur ke Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang adalah dua kalimat pembuka. Sesudah itu pasti keluar seloroh pemecah kebekuan yang instan dan orisinal.

Di Kampus Kuning, Depok, seloroh sambil memuji luasnya Kampus UI yang jika lahan tersebut dibagi rata per mahasiswa maka setiap mahasiswa akan kebagian 100 meter persegi. Idem dengan kuliah umum di Kampus UIN (d/h IAIN Syarif Hidayatullah), Ciputat, seloroh segar bahwa antusiasme dan yel-yel mahasiswa disebutkan sebagai bom atom Indonesia yang tentu semakin membuat auditorium gegap gempita. Pernyataan ini sangat dinantikan oleh para mahasiswa yang memang menunggu pernyataan bombastis. Tetapi, dengan senyum khasnya Sang Dosen menyatakan bahwa pernyataan bom atom yang dimaksud adalah kekuatan dan potensi besar yang dimiliki Indonesia yaitu generasi muda yang penuh semangat.

Walaupun banyak yang memperkirakan bahwa bahasa pengantar yang akan digunakan bahasa Inggris, namun Sang Dosen memilih menggunakan bahasa Persia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Penggunaan dwi bahasa ini tidak mengurangi kehangatan dialog yang terjadi. Semua pertanyaan yang diajukan dosen dan mahasiswa ditanggapi dengan hangat, komprehensif dan tanpa ada basa basi pujian apalagi cemooh atas “bodoh”nya pertanyaan yang diajukan. Penyampaian kuliah dilakukan tanpa banyak terikat pada naskah yang telah disiapkan, pandangan, senyum, dan bahasa tubuh yang terbagi merata pada peserta kuliah member kesan Ahmadinejad adalah Dosen Kampiun yang menjadi magnet kuat untuk diperhatikan dan disimak. Penguasaan iptek dan kemampuan sebagai dosen yang tentu menjadi modal Ahmadinejad menjadi politikus pejuang.

Aktivis dan Pejuang. Dari bincang-bincang tentang kehidupan masa mudanya sebagai mahasiswa, tak diragukan Ahmadinejad, anak dari seorang tukang di Garmsar dekat Teheran, adalah aktivis yang memperjuangkan hak dan moral yang tidak bisa didikte oleh siapa pun. Bekal pengetahuan dan pengalaman sebagai dosen ditambah dengan pengalaman segudang dalam organisasi profesi plus sikap pejuang yang kemudian mendorong Ahmadinejad untuk ikut pemilihan sebagai wali kota Teheran dan menang pada tahun 2003. Cuplikan menarik tentang Kontroversi Tekno-Nuklir:  “Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?”

Karakter politikusnya terlihat kuat saat kunjungan, perbincangan, dan dialog dengan para pimpinan MPR, DPD, DPR, PP Muhammadiyah, dan PBNU. Pertanyaan, komentar, dan kritik tentang pengarusutamaan jender, globalisasi, embargo ekonomi, dan teknologi sampai tekanan ekonomi-politik disikapi dengan lugas, logis, dan terkadang disampaikan dengan lucu.

Catatan kaki:


[1] Tulisan asli dari Kusmayanto KadimanMenteri Negara Riset dan Teknologi RI. Artikel ini  ditulis berdasarkan pengalaman Beliau menjadi menteri pendamping selama kunjungan kenegaraan Presiden Iran Mahmoud Amadinejad ke Jakarta.

Indonesia, 15 Maret 2009 @12.47 WITA.
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"