12

Rusia-Cina dukung Program Nuklir Iran: Langkah Strategis Menghadapi Politik Nuklir Amerika

Rusia-Cina dukung Nuklir Iran.” Iran bangsa yang mandiri.[1] Uji coba peluru kendali jarak jauh pekan ini mempertegas kemampuan Iran dalam pengembangan program persenjataan canggih termasuk nuklir yang saat ini sedang menjadi fokus utama Iran dalam membangun tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik di negaranya.

Peluru kendali (rudal), peluncuran itu sekaligus mempertonton kemajuan Iran dalam meningkatkan kemampuan rudalnya. Selama ini Iran sudah sukses dengan kemajuan rudal jarak pendek dan menengah. Jangkauan jelajah rudal yang diluncurkan hari Rabu, 20 Mei 2009, diperkirakan 2.000 sampai 2.500 Kilometer. Dengan demikian Israel dan semua basis kepentingan Amerika Serikat di timur tengah dan Eropa Timur berada dalam jangkauan serangan rudal Iran.

Peluncuran rudal jarak jauh pekan ini juga memperlihatkan Iran tidak tergeming oleh kritik dunia internasional, terutama dunia barat. Sikap tidak peduli itu sering diartikan sebagai ekspresi sikap menantang. Tidak sedikit pula yang mengaitkan sikap semacam itu dengan sosok Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang dimata barat dianggap berhaluan keras, namun sebaliknya dimata rakyatnya Ahmadinejad adalah sosok yang intelek, cerdas, dan sederhana yang berani memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil menuju keadilan dan terciptanya perdamaian.

Para pengamat cenderung menempatkan peluncuran rudal pekan ini sebagai bagian kampanye politik Presiden Ahmadinejad menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan 12 Juni 2009 mendatang. Peluncuran itu tidak hanya membangkitkan kebanggaaan tentang pencapaian Iran dalam bidang teknologi, terutama dalam bidang persenjataan, tetapi juga untuk menegaskan kemandirian Bangsa Persia yang tidak tunduk terhadap tekanan dunia barat ( sebelumnya Barat menerapkan peraturan peraturannya yang menyesatkan) kepada setiap bangsa yang mau maju. Bangsa Persia adalah bangsa yang besar yang dulunya memiliki sejarah penting terhadap Peradaban Islam.

Setelah mampu bertahan dan berkembang dibawah embargo ekonomi  dan militer barat sejak revolusi Islam tahun 1979, Iran menemukan kepercayaan dirinya yang semakin besar. Lebih dari itu Iran telah membuat dunia barat justru terganggu, tertutama oleh program persejataan dan pengembangan nuklirnya. Iran terus bertahan dengan program nuklirnya meski dikecam dunia barat.

Sejauh ini pemerintah Iran menegaskan, program nuklirnya bertujuan damai  untuk energi pembangkit tenaga nuklir, namun, Barat berpandangan program nuklir untuk energi listrik itu merupakan langkah menuju pengembangan persenjataan nuklir. Secara teknis, tinggal satu langkah lagi menuju program persenjataan nuklir jika sudah mampu mengembangkan program energi nuklir untuk pelistrikan. Menurut Rusia dan China, kemampuan Iran dalam usaha mengembangkan nuklir merupakan sebuah wujud perkembangan teknologi yang luar biasa yang dimiliki oleh pemerintahan Iran.

Hal ini secara langsung menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Iran adalah negara yang mampu mengembangkan teknologi nuklir secara mandiri. Rusia dan Cina sebagai anggota tetap Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki “hak Veto” berhak memberikan dukungan kepada negara-negara dunia dalam mengembangkan teknologinya, terutama Iran untuk mengembangkan nuklirnya, sebab itu merupakan bagian dari kemandirian suatu bangsa untuk mengembangkan teknologinya, apalagi menyangkut kedaulatan negara yang eksistensinya tidak dapat ditawar-tawar lagi. Namun, secara diam-diam dan terangan-terangan hal itu mendapatkan kecaman dari dunia Barat, Amerika Serikat.

Oleh masyarakat Internasional hal ini secara telanjang menunjukkan pada dunia betapa besarnya arogansi AS. Bahkan apabila langkah lebih lanjut AS untuk melangsungkan serangan militer ke Iran benar-benar dilakukannya, tentulah menjadi bertambah gamblang sikap kesombongan AS terhadap negara lain. Belum terhapus dari benak masyarakat internasional bagaimana AS menghancurkan Afghanistan dan Irak. Kini, AS telah merencanakan untuk menghancurkan Iran. Menariknya semuanya termasuk dalam kategori negara-negara Islam, atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kecemasan dunia barat bertambah setelah Iran terus meningkatkan pengembanan program rudalnya. Rudal itu akan menjadi sumber bencana besar jika sampai dipasang nuklir pada hulunya. Dalam mengantisipasi resiko itu, Iran perlu didekati, diajak berunding untuk perdamaian, bukan terus dipojokkan.

Upaya mengucilkan Iran pasti kontraproduktif, karena membuat Negara itu justru bersikeras dengan pilihannya sendiri. Sebagai Negara merdeka dan berdaulat, Iran mempunya harga diri dan ingin diperlakukan sederajat oleh bangsa lain dan tidak ingin tunduk dengan tekanan Barat Amerika Serikat. Sebab, banyak diantara negara-negara Non-Barat yang memiliki persenjataan nuklir: Rusia, Cina, Israel, India, Pakistan, dan Kore Utara, termasuk Iran saat ini.

Sementara yang saat ini sedang berusaha keras untuk mendapatkannya adalah Iraq, Libya, dan Algeria, dan negara-negara Non-Barat lainnya yang kemudian menempatkan diri pada posisi yang jika diperlukan, dengan cepat dapat melakukannya.

Catatan kaki:


[1] diadaptasi dari: Kompas, Jumat 22 Mei 2009; Tajuk Rencana; Halaman 6

23 Mei 2009 @17.12 WITA
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"