1
Cita Humanisme Islam Abad Renaisans

Cita Humanisme Islam Abad Renaisans

Cita Humanisme Islam,Panorama Kebangkitan Intelektual Dan Budaya Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans Barat.[1] Mengkaji kemunculan gerakan Skolastik yang kemudian mempengaruhi kelahiran ilmu – ilmu humaniora, buku ini dipungkas dengan pemaparan tentang kesejajaran antara Humaniora Islam Klasik dan Humaniora Eropa Kristen secara khusus pada masa Renaisans Iatalia.

Pada Bagian Satu di Bab pertama buku ini menjelaskan tentang “Gerakan Skolastik” dan “Humaniora”yang pertama kali muncul dikawasan timur dunia Islam, yang kemudian terus bergerak ke arah barat mulai dari Irak ke Suriah, Mesir, sebagian Afrika Utara, Spanyol, dan Sisilia. Dari Spanyol dan Sisilia, kedua gerakan ini merambat ke kawasan barat Kristen, dan muncul di sana pada waktu yang hampir bersamaan pada paruh kedua abad ke-11. Gerakan Skolastik merupakan gerakan mahab-mahzab, kelompok-kelompok dalam kajian hukum, yang terbentuk karena adanya pertentangan antara teologi hukum melawan teologi kalam.[2]  Kelahiran skolastik dalam islam ditandai dengan munculnya buku risalah karya AL Syafi’i. karya Al Syafi’I diwarnai dengan terjadinya berbagai peristiwa penting yang mengarah pada terbentuknya mahzab-mahzab hukum dalam perjuangannya melawan gerakan rasionalis muktazillah. Dalam karyanya itu, Al Syafi’i menyebut orang Muktazillah sebagai ahli Khalam yang  secara harfiah berarti “Tukang Omong”. Istilah ini secara teknis merujuk pada para teolog fillufis (Mutakallimun). Kalangan tradisional menganggap kata-kata mereka sebagai omong kosong semata, karena mereka menolak otoritas Al Qur’an. Penyebutan kalam sebagai “Teologi Skolastik” tampak ironis karena justru gerakan Skolastik muncul untuk menentang filsafat, terutama kalam. Dengan kata lain, kedua pihak yang bertentangan, yakni Al Syafi”I dan muktazillah melambangkan pertentangan fiqih dan kalam.

Humaniora kajiannya menyangkut masalah kemanusiaan, dalam perkembangannya kajian tentang humaniora sangat menarik minat banyak intelektual dari hampir semua bidang pengetahuan, sebagaimana yang terjadi di dunia barat  pada periode Renaisans Italia.  Para peminat ilmu-ilmu humaniora tersebut terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu professional yang menjadikan disiplin humaniora sebagai sumber kehidupan mereka dan bekerja di sektor yang berkaitan dengan humaniora, dan kelompok amatir, yaitu kelompok yang mengandalkan sumber penghidupannya pada usaha di bidang lain. Kelompok pertama biasanya bekerja sebagai administrator pemerintahan di tingkatan yang berbeda, mulai dari yang menjadi perdana mentri, sekretaris negara, kepala kantor administrasi, atau menjadi sekretaris pribadi khalifah, sultan, amir, atau orang-orang penting lainnya yang terbiasa meneruskan percakapan atau surat kepada sejawatnya, hingga pegawai administrasi paling rendah.

Di samping tugas pokoknya, para sekretaris ini sering juga diperintahkan untuk menuliskan secara resmi versi penguasa yang sedang memerintah. Diantara mereka ada juga yang menjadi sebagai guru privat di keluarga-keluarga istana kerajaan atau keamiran, atau di rumah-rumah pribadi orang kaya para pejabat dan para tokoh petinggi lainnya. Selain sebagai tutor biasanya mereka juga berperan sebagai pembantu dekat yang menyemarakan kehidupan keluarga istana; mereka menjadi penyair, pengkhutbah, atau sebagai utusan para raja dan bangsawan. Sedangkan kelompok amatir biasanya bekerja di luar disiplin keilmuan mereka, seperti dalam ilmu-ilmu keagamaan dengan menjadi pengacara dan notaris, atau dalam ilmu-ilmu asing ingin menjadi dokter, ahli perbintangan, dan penerjemah karya-karya klasik tentang ilmu-ilmu asing lainnya. Di antara mereka ada yang lebih suka menjauhkan diri dari kekuasaan pemerintahan, dan lebih memilih kehidupan asketis (Zuhud). Kelompok ini biasanya memperoleh penghasilannya dari profesi yang berkaitan dengan produksi dan distribusi buku, yaitu sebagai penyalin naskah, penyalin-penyalin buku atau sebagai kaligrafer.

Kemudian pada Bagian Tujuh di Bab Kedua buku ini mebahas tentang tradisi ilmiah zaman klasik dan segala aspeknya. Aspek tersebut merupakan kajian dari adanya hubungan antara Sisilia dan dunia Islam pada abad pertengahan yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Frederick II. Dalam masa renaisans Italy, yaitu masa yang menjadikan bangsa Italia mengalami pencerahan (renaissance) dalam setiap aspek kehidupan Negara. Di sini terdapat ke istimewaan Italia dibanding dengan Negara-negara Eropa lainnya pada zaman tersebut. Selain itu pada masa yang sama juga dikatakan pula bahwa banyak orang Italia yang menguasai berbagai disiplin. Sebelumnya terdapat kesepakatan yang mendasar antara Kristeller dan Burckhardt dalam persepsi mereka bahwa tradisi ilmiah zaman klasik hanyalah salah satu dari berbagai unsur yang membentuk renaisans, atau yang membidani kelahiran humaniora.  Adapun tentang unsure-unsur pembentuk lain, Burckhardt bersikeras menyatakan bahwa yang paling berperan adalah kejeniusan bansa itali, sedangkan kriteller bersikeras bahwa unsure lainnya adalah kepustakaan yang diproduksi oleh para humanioris Italia. Selain itu dalam buku ini Burckhardt menjelaskan pula bahwa pada abad ke-15, Italia sarat dengan para cendekia yang menguasai banyak bidang, dalam Islam disebut Mutafannin.di dalam lingkaran-lingkaran para pedagang, para pejabat Negara, dan para humanioris, “pendidikan privat untuk pertama kalinya digarap secara serius”.  Di samping terdidik dalam bidang filogi, sejarah, sejarah alam, dan geografi, orang yang menguasai banyak bidang, juga berperan sebagai hakim, sekretaris dan diplomat. Tampaknya tidak ada batasan untuk apa hal semacam itu dikerjkan. Pada periode tersebut sangat sarat sekali dengan orang-orang yang berjuang membangun dirinya sendiri, khususnya para cendekiawan otodidak, seperti Leon Batista Alberti (1404-1472) yang mengatakan “Manusia dapat melakukan segala hal apabial ia menghendakinya”.

Secara keseluruhan buku ini secara gambling menjelaskan jejak warisan Islam Klasik dalam cabang-cabang pengetahuan humaniora Eropa Kristen. Bagian demi  bagian buku ini menjelaskan sejumlah bukti yang menunjukan diterimanya kedua gerakan yang berasal dari dunia Islam ini oleh dunia barat latin Kristen. Sebagai sebuah hasil penelitian yang sangat mendasar dan komprehensif, buku ini merupakan rujukan yang sangat berharga bagi kalangan akademis, dan pembaca umum yang hendak mengetahui perkembangan “Ilmu – Ilmu Budaya dan Kemanusiaan” serta berbagai aspek yang meliputinya, termasuk metode pengajaran, produksi karya ilmiah dan lisensi mengajar.

Catatan kaki:


[1] Pengarang: George A. Makdisi, Jumlah halaman 600, Ketebalan buku 2,5 cm, Penerbit: Serambi, Bahasa Indonesia, Harga buku Rp 75.000.

[2] Makdisi, George A., 2004, Cita Humanisme Islam, Panorama Kebangkitan Intelektual Dan Budaya Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans Barat. Penerbit: Serambi.

28 Juli 2009 @14.04 WITA 
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto