Tulisan Manfred Steger dalam bukunya Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar[1] hendak mengangkat permasalahan seputar justifikasi globalisasi dengan lima klaim utama globalisasi yang dilontarkan oleh kaum globalis. Gagasan-gagasan utama dalam klaim globalisasi coba dikritisi oleh Manfred Steger. Steger bukannya mau menunjukkan negatifitas globalisasi namun hendak mengangkat kepentingan-kepentingan dibalik klaim-klaim yang ditawarkan oleh kaum globalis.[2]

Melalui klaim-klaim ini, kelompok neoliberal berupaya mengisi konsep globalisasi dengan nilai, kepercayaan, dan makna yang menopang perwujudan masyarakat global yang berdasar atas prinsip-prinsip pasar. Lima klaim utama globalisasi yang dikritisi oleh Steger didapat dari berbagai pernyataan, pidato dan tulisan para pendukung globalisme yang berpengaruh. Adapun lima klaim utama globalisasi tersebut adalah:

Klaim pertama: globalisasi adalah liberalisasi dan integrasi pasar. Klaim ini menyoroti hubungan negara dengan pasar. Term utama yang dipakai adalah penghargaan dan perlindungan kebebasan individu dalam masyarakat demokratis mampu mendorong terwujudnya fungsi pasar bebas. Kaum globalis tidak menghendaki pemerintah ikut campur tangan dalam ruang privat pasar. Mereka menuntut liberalisasi pasar yakni deregulasi perekonomian nasional. Tindakan ini tidak hanya akan memunculkan pasar global yang terintegrasi namun juga akan melahirkan kebebasan politik yang lebih besar bagi semua warga dunia.

Klaim kedua: globalisasi adalah sesuatu yang tak terelakkan dan tak berbalik. Globalisasi merefleksikan penyebaran kekuatan pasar yang tidak bisa dibendung yang dikendalikan oleh inovasi teknologi dan menjadikan integrasi global perekonomian nasional menjadi tidak terelakkan. Pemerintah, partai politik, dan gerakan sosial tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan dengan ketakterelakkan globalisasi tersebut. Hal ini membawa konsekuensi bahwa negara dan sistem antar negara harus bekerja untuk menjamin kinerja logika pasar.

Klaim ketiga: tak seorangpun memegang kendali atas globalisasi. Masyarakat tidak bisa memegang kendali atas globalisasi. Globalisasi dipegang oleh pasar dan teknologi. Memang manusia dapat mempercepat atau memperlambat globalisasi namun sebenarnya yang memainkan peran kendali adalah tangan gaib pasar yang selalu menerapkan kebijaksanaannya yang superior.

Klaim keempat: gobalisasi menguntungkan semua orang. Klaim ini didasarkan pada ideologi bahwa globalisasi yang tertuang dalam perdagangan bebas dan pasar terbuka memberikan prospek terbaik bagi penciptaan lapangan kerja, merangsang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan standart hidup bagi masyarakat di seluruh dunia. Keuntungan globalisasi akan menyebar ke seluruh penjuru dunia dan ke seluruh sektor masyarakat.

Klaim kelima: globalisasi meningkatkan penyebaran demokrasi di seluruh dunia. Klaim ini didasarkan pada wacana publik yang menyamakan antara pasar bebas dan demokrasi. Strategi yang sering dibuat oleh kaum neoliberal untuk menarik dukungan massa adalah pendiskreditan tradisionalisme dan sosialisme. Para pendukung globalisasi sangat menekankan korelasi antara tingkat perkembangan ekonomi suatu negara dengan keberhasilan demokrasi. Memang korelasi yang terjadi tidak dapat ditangkap secara langsung namun tingkat perkembangan ekonomi yang dihasilkan globalisasi memberikan situasi yang kondusif bagi terciptanya masyarakat sipil dan kelas menengah yang kuat. Kelas menengah yang kuat inilah yang akan mendorong demokrasi.

Lima klaim globalis ini menunjukkan bahwa globalisme cukup komprehensif dan sistematis untuk dianggap sebagai ideologi. Lima klaim inilah yang coba dikritisi oleh Manfred Steger dengan berbagai argumen pertimbangan yang masuk akal. Dalam kesimpulan, ia menyebutkan bahwa ideologi globalisasi ini mampu merengkuh keuntungan politik dengan memanfaatkan konsep globalisasi sebagai kendaraan untuk memperkuat dan meningkatkan ekspansi paradigma pasar mereka. Globalisasi menyediakan perekat kultural dan konseptual yang mempertahankan kekuasan politik dan sosial elit-elit neoliberal di seluruh penjuru dunia.

Apa fungsi negara atau state? Negara mempunyai tanggung jawab untuk memberikan jaminan bagi hak milik pribadi kepada rakyatnya, termasuk kaum pengusaha. Keamanan dan hak milik pribadi dijamin oleh negara, dan hal ini pada gilirannya menimbulkan konsolidasi dan legitimasi bagi negara. Namun apakah jaminan ini benar-benar diupayakan oleh negara? Melalui tulisan Manfred Steger ini, dapat dilihat bahwa kedaulatan negara menjadi dipertanyakan. Mengapa demikian?

Arus globalisasi telah menghantam tembok-tembok kedaulatan negara. Apa yang diupayakan negara pastilah bukan lagi jaminan kesejahteraan bagi semua warga tetapi kesejahteraan bagi para pengusaha, pemimpin negara dan juga kaum globalis sendiri. Klaim bahwa kesejahteraan ekonomi berbanding lurus dengan perkembangan negara yang demokratis, bagi saya tidak masuk akal. Negara yang demokratis tentunya punya kewajiban melindungi hak-hak warganya namun kalau mekanisme pasar bebas dijalankan jelas akan meruntuhkan demokrasi suatu negara.

Mekanisme pasar bebas selalu menuntut supaya tidak ada campur tangan negara, mereka dapat secara leluasa beroperasi di dalam suatu negara yang otoriter dimana tidak banyak aturan, buruh bisa didapat secara murah dan tanpa jaminan kesejahteraan, tingkat pajak yang rendah dll. bahkan dampak dari pasar bebas akan terasa lebih ngeri lagi apabila negara menjadi kendaraan kaum kapitalis.

Para pemimpin negara dengan mudah dapat menjual negara kepada para pemodal asing dengan dalih untuk membangun iklim ekonomi yang kondusif. Tentunya para pemimpin negara tidak mau kalau dikatakan sebagai agen kapitalisme global, mereka tetap akan mengatakan bahwa perangkat negara telah mengusahakan perkembangan kondisi ekonomi yang semakin stabil bahkan meningkat sebagai dalih.

Apabila kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang dalam suatu negara, niscaya akan menyebabkan runtuhnya demokrasi karena rakyat tidak mempunyai akses dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah dan tidak mendapatkan kesejahteraan sebagai bagian dari haknya sebagai warga. Fenomena lain mungkin bisa terjadi bahwa negara kelihatan demokratis diluarnya tetapi yang terjadi di belakang layar, para pemimpin negara dan para pelaku politik berkonspirasi dengan kapitalis global.

Kedaulatan negara tidak lagi berada di tangan rakyat namun kedaulatan suatu negara sudah dimiliki oleh para kapitalis global. Klaim-klaim yang diajukan oleh kaum globalis semata-mata hanya semacam propaganda belaka.

Catatan kaki:


[1] Manfred b. Steger, 2005, Globalisme, bangkitnya ideologi pasar. Jakarta: Lafadl Pustaka.

[2] Penilaian kritis Steger tentang lima klaim utama globalisasi menandaskan bahwa bahasa neoliberal mengenai globalisasi bersifat ideologis dalam pengertian bahwa ia didorong secara politis dan berperan menyumbang terciptanya konstruksi kepercayaan dan nilai-nilai masyarakat.

28 Juli 2009 @14.07 WITA
Adi Rio Arianto