1

Kebijakan Moneter Indonesia; Implikasi Peredaran Uang Kertas Dua Ribu

Pernahkah kita berpikir mengapa dua ribu itu ada di sini? Apa yang dapat kita rasakan sebenarnya dari hadirnya dua ribu itu di negeri ini. Apakah kehadirannya berindikasi baik-baik saja? Ataukah mungkin kehadirannya adalah sebagai penindas halus untuk rakyat yang mana kondisi kita semakin hari semakin tertindas oleh gerak riak kaum capitalist asing yang tak bermoralkan islam.

Bagaikan senjata pemusnah massal yang mana tampak wajahnya yang pucat mati, siap menikam manusia dari arah yang tak terduga. Hal ini mungkin saja terjadi dan mendekati pasti. Setidaknya, manusia nampaknya semakin membenci dan lantang mencemooh pemimpinnya di bawah pemerintahan yang busuk, namun di lain pihak manusia juga harus tetap memperjuangkan hak-hak hidup rakyatnya dimana ia berpijak.

Satu yang perlu saya tekankan:

Dulu sekali-nya: yang kaya dan miskin selalu saling membantu dan bekerja sama demi perjalanan hidup di bumi ini” Dulu adalah ini: yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin Sakarang adalah: yang kaya semakin Berjaya, yang miskin semakin tertindas Mungkin ke depannya adalah: yang kaya akan tetap hidup, yang miskin tidak boleh hidup (alias harus mati) bisa saja kan?

Itulah kata-kata yang harus saya lontarkan kepada bangsa ini bersama pemimpinnya yang anti-arif dan tidak bijaksana, busuk, dan tak berharga dihadapan rakyatnya. Okelah kalo kita belum sempat terpikir oleh hadirnya kertas yang bertulisakan dua ribu itu, kalo belum sekaranglah waktunya, bahwa adakah sedikit waktu yang tersisa dari kita untuk berpikir sejenak, mengingat, dan menganalisis kembali bagaimana dan kapan sosok dua ribu itu hadir, kemudian mengkaitkan pikiran kita terhadap kondisi dan realita sosial yang ada di sekitar kita, lumrahkah itu?

Perumpamaannya adalah, dua ribu itu bagaikan sebuah tombak yang siap dilempar oleh si pemburu untuk menghujam target buruannya, dan tidak kah kita berpikir siapa buruan sesungguhnya di sini? rakyatlah buruannya, yaitu kita sendiri yang saat ini mulai tahu apa-apa yang tadinya belum sempat tahu apa-apa.

Berangkat dari sini, setidaknya kita bisa melihat dan menganalisis apa sebernarnya yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, mengapa kondisi ekonomi rakyat semakin rusak, diperparah lagi dengan pembenahan ekonomi yang tak berbasis rakyat, belum lagi campur tangan dari pihak asing yang mulai menggeliat di negeri ini tanpa ada yang berani dan secara tegas men-cut to recycle bind aktivitas sesatnya.

Inilah Indonesia yang selalu tergantung oleh ekonomi liberal yang semakin tidak berdaya dihadapan ideologi kapitalisme yang menyesatkan. Rupanya gerakan-gerakan kaum kapitalist telah sampai pada tingkatan eksekutor di negeri kita yang kaya ini. Bagaimana tidak seorang pemimpin bahkan presiden sudah nyata-nyata melihat rakyatnya tertindas, malah diacuhkan bahkan menindasnya kembali bersama-sama kaum kapitalist lainnya yang sudah lama duduk dan bersanding dengannya.

Satu hal yang perlu saya tekankan terhadap hal ini bahwa jika seseorang pada saat tertentu berada dalam kondisi nyaman, maka ia tidak akan mudah dipisahkan atau dilepas terhadap apa yang telah ia dapatkan. Walaupun, dengan ia berada di tempat tersebut dominan merampas hak orang lain.

Inilah kondisi yang sedang terjadi saat ini, di negeri yang penuh dengan lumuran darah dan air mata kaum tertindas. Indonesia belum merdeka kawan, kemerdekaan yang kita dapatkan kemarin adalah kemerdekaan formalitas-semu, kemerdekaan yang hanya terlisankan oleh kaum-kaum penindas. Sadarlah, karena kemerdekaan yang kita perjuangkan hanyalah satu, kermerdekaan hati dan ketenangan hidup yang iklas.

Inilah konsep kemerdekaan yang rasional karena ia benar, yaitu kemerdekaan hidup yang sesuai dengan fitrah hidup manusia, ia membawa kepuasan terhadap akal, dan memberikan ketenangan hati yang iklas tanpa keterpaksaan. Cam-kanlah hal ini dengan baik dan bijaksana.

Kita kembali fokus ke uang dua ribu. Pada Bulan Juli 2009 uang kertas rupiah pecahan dua ribu mulai berlaku di Indonesia. Uang kertas tersebut diresmikan oleh beberapa pejabat Bank Indonesa.[1] Dan setidaknya rakyat yang sempat  menyaksikan peresmian tersebut merasa bangga terhadap peristiwa ini. Wah, Indonesia punya uang baru lagi nih, asyik dech, tapi kok warnanya pucat yah?(oknum).

Fokus kajian: (1).Adakah tujuan atau unsur lain dikeluarkannya uang kertas dua ribu tahun ini, dan apa dampaknya? (2).Adakah gerakan-gerakan kecil arus kapitalistik yang mulai nampak dan bergerak dari kalangan masyarakat bawah dalam strata sosial sehubungan dengan penerbitan uang tersebut?

Nah untuk menjawab ini kita harus tahu dulu apa tujuan BI sebenarnya mengeluarkan uang kertas bernominal dua ribu rupiah. berikut adalah penjelasannya Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang.

Adapun tujuannya adalah Pertama, memenuhi kebutuhan uang rupikah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup. Kedua, sebagai jenis pecahan yang sesuai. Ketiga, bersifat tepat waktu. Dan keempat, uang-uang yang beredar harus dalam kondisi yang layak edar, demikian Penjelasan dari Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom, dalam sambutannya pada Awal Juli 2009 kemarin.

Asumsi dasar penerbitan uang kertas dua ribu ini adalah berawal dari pemikiran beberpa pejabat BI, inggat beberapa, bukan semuanya yang mana dilatarbelakangi untuk melestarikan salah satu budaya di Indonesia khususnya berhubungan dengan Pahlawan Nasional yang berasal dari Kalimantan. Bagi saya tentunya ada motif lain yang melatarbelakangi dari penerbitan uang kertas dua ribu ini, melihat dari legalitas hukum dan informasi peluncuran uang tersebut yang tidak tersebar secara luas di seluruh wilayah Indonesia, namun hanya terfokus telaten pada satu wilayah saja. Misalnya Kalimantan.

Kemudian, adanya ketidak-teraturan dari pemerintah dalam mengurusi masalah perbankan adalah sebuah kriminalisasi besar dalam politik fiskal dan perbankan Indonesia, bagaimana tidak, Indonesia di tengah hiruk-pikuknya masalah Bank Century, kasus penggunaan uang rakyat yang tidak sesuai dengan kondisi realitas ekonomi rakyat Indonesia, Ehh tiba-tiba terbit lagi uang baru. Jelas terlihat bahwa di sini tidak adanya kerjasama yang pasti antara pihak pemerintah dan pejabat BI.

Dan, kondisi seperti ini tentu sekali akan berpengaruh terhadap tatanan ekonomi Indonesia ke depannya. Dan bagi kaum capitalist ini adalah waktu yang tepat dan menjadi sasaran empuk untuk mengibaskan sayap selebar mungkin, sehingga secara tersirat rakyat Indonesia semakin tergantung, sedangkan di lapangn banyak yang tertindas. Mengapa Indonesia tidak bisa hidup mandiri? Haruskah berhubungan Inter-teritorial untuk mendapatkan makanan buat menghidupi rakyat dan aku.

Tahun 2009, 2010, dan seterusnya arus ekonomi Indonesia adalah antara positif dan negatif dan cenderung liberal. Dengan berbagai dampaknya adalah jelas fundamental dan ironis.

Sehubungan dengan penerbitan uang kerta dua ribu tadi, perkiraan beberapa dampak yang akan muncul kepada rakyat ketika uang kertas tersebut beredar adalah pertama, munculnya gap-gap sosial yang baru. Kedua, naiknya harga secara dratis. ketiga, praktek ekonomi yang tak arif. Keempat, harga barang cenderung semakin mahal, karna harga dipatok menjadi kelipatan dua. Kelima, mengikuti aturan internasional yang cenderung liberal, indikasinya setiap penerbitan uang baru harus ada tanda dari Uncut Banknotes.[2] Yang keenam adalah membentuk opini publik secara perlahan-lahan namun pasti tentang isu pemindahan sektor pemerintahan ke Kalimantan yang sebelumnya pernah terbit di surat kabar.

Namun, bila berbicara mengenai dampak positif pasti ada, tetapi ada hal yang perlu ditelaah secara mendalam yaitu bagaimana proses dan kelanjutan dari kejadian ini nantinya. Di lain hal, mungkin ada maksud lain yang belum sempat diungkapkan secara jelas oleh oleh pejabat BI. Atau tidak ada hal lain yang terselubung di balik ini semua.

Catatan kaki:


[1] Di sini, pejabat sementara (Pjs.) Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom, didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang pengedaran uang, S. Budi Rochadi, Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin, dan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, secara resmi meluncurkan uang kertas baru pecahan dua ribu tahun emisi 2009 sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia, tepatnya pada Kamis, 9 Juli 2009, di Banjarmasin.

[2] Uncut Banknotes lazim dikeluarkan di berbagai negara sebagai penerbitan uang khusus, dengan demikian negara-negara yang baru saja mengeluarkan uang baru, dapat diketahui kondisi ekonominya yang mana akan memudahkan negara lain untuk mendikte arus ekonomi negara yang bersangkutan, sehingga parakterk dari teori ketergantungan akan selalu ada di Indonesia.

8 November 2009 @16.13 WITA
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto