12

Jerman dan Arsitektur Keamanan Eropa Di bawah Konrad Adenauer 1949-1963

Konrad Hermann Josef Adenauer, atau Konrad Adenauer ialah seorang negarawan Jerman dimana pada tahun 1949 menjabat sebagai Kanselir Jerman yang pertama. Ia membawa kesan pertama sekaligus menjadi fondasi pemerintahan pertama Jerman pada pasca Perang Dunia II, terutama bagi pemulihan Jerman setelah mengalami kelumpuhan infrastruktur akibat peristiwa perang yang menimpa Eropa pada abad 20 tersebut.

Pada periode perjalanan menuju tahap demokrasi yang berasas kebebasan dan pemberlakuan awal sistem parlementer yang diharapkan berfungsi dengan baik, Jerman sesungguhnya telah banyak mengalami retakan historis, mulai dari pembagian dalam negara-negara kecil pada awal zaman modern, gagalnya Revolusi Maret dan Republik Weimar hingga lompatan keluar dari sejarah oleh kaum nasional sosialisme. Namun, bagi Adenauer hal tersebut merupakan sebuah tantangan berat yang mesti disikapi oleh negaranya. Pemerintahannya pun dimulai pada tahun 1949.

Sebagai kanselir Jerman Barat 1949-1963, ia memimpin pembangunan infrastruktur Jerman dari kelumpuhan Perang Dunia II. untuk itu, Jerman sebagai suatu bangsa yang kuat dan makmur harus mampu menempa hubungan dekat dengan Perancis sebagai musuh lamanya, Amerika Serikat dan bahkan Israel. Dan pada masa ini, Konrad Adenauer mampu membangun situasi ini sebagai langkah awal untuk perbaikan negaranya.

Pada tahun-tahun kekuasaan Adenauer, Jerman mampu menunjukan berbagai perbaikan, baik dari segi ekonomi, politik, maupun tata negara Jerman. Salah satu pencapaian Adenauer adalah kemakmuran, demokrasi, stabilitas dan kehormatan bagi bangsa Jerman.[1]

Hal ini merupakan langkah awal baginya sebagai kepala pemerintahan yang pertama Republik Federal Jerman (FRG, disebut Jerman Barat). Sebagai pendiri dan pemimpin Partai Uni Demokrat Kristen (CDU), tetap mempertahankan sebuah koalisi dari Katolik dan Protestan sehingga di masa kepemimpinannya dan karenanya telah menjadi partai yang paling dominan di Jerman.

Pemilihan di tahun 1949 dengan tema Adenauer untuk perdamaian, kebebasan dan kesatuan Jerman”, dengan itu atas CDU Adenauer berbicara di Bundestag tahun 1955. Setelah pemilihan federal Jerman, 1949 pada usia 73, Adenauer terpilih sebagai Kanselir pertama Jerman setelah Perang Dunia II dengan dukungan terbesar dari partainya sendiri, CDU, sebuah Uni Sosial Kristen dan liberal Partai Demokrat.[2]

Dilihat dari usianya, awalnya mengira ia hanya akan menjadi sebuah jalan bagi kemakmuran Jerman. Namun, pada masa pemerintahannya sejak terpilih, ia mampu memegang posisi ini selama 1949-1963, sebuah periode yang mencakup sebagian dari fase awal Perang Dingin. Selama periode ini, divisi pasca perang Jerman berkonsolidasi untuk mebentuk dua negara Jerman yang terpisah, Republik Federal Jerman dan Republik Demokratik Jerman.

Pemilihan pertama untuk Bundestag Jerman Barat diadakan pada tanggal 15 Agustus 1949, dengan Demokrat Kristen muncul sebagai partai terkuat. Theodor Heuss terpilih sebagai Presiden pertama Republik Federal Jerman sekaligus sebagai kepala negara, dan Kanselir Adenauer terpilih sebagai kepala pemerintahan pada tanggal 16 September 1949. Dalam pemilihan tersebut, Republik Federal Jerman atas jalan pikiran Adenauer memenangkan Bonn atas Frankfurt. Dimana ketika itu, Inggris telah sepakat untuk melepaskan Bonn dari zona pendudukan mereka dan mengkonversi daerah ke daerah otonom yang sepenuhnya di bawah kedaulatan Jerman. Amerika Serikat tidak siap untuk melakukan hal yang sama dengan Inggris, melepaskan Frankfurt kepada Jerman.

Pada Perjanjian Petersberg pada bulan November 1949 ia mencapai beberapa dari konsesi pertama yang diberikan oleh Sekutu, seperti penurunan jumlah pabrik yang akan dibongkar, tetapi khususnya setuju untuk bergabung dengan Otoritas Internasional, dan bagi Ruhr hal ini menyebabkan kritik berat. Dalam debat di parlemen berikut Adenauer berbicara banyak tentang pemberontakan di Jerman Timur yang mana kekerasan ditekan oleh adanya pihak Tentara Merah. Dan, pada bulan Juni 1953, Adenauer mengambil kesempatan penuh dari situasi ini dan dengan mudah terpilih kembali untuk masa jabatan kedua sebagai Kanselir.

Pada tahun 1959, Adenauer selama beberapa minggu dianggap meninggalkan kepemimpinan kanselirnya dan menjadi Presiden Federal. Dia awalnya percaya bahwa kantor bisa dipenuhi dengan cara yang lebih aktif daripada politik yang dilakukan oleh Presiden Heuss. Pertimbangan Adenauer ini antara lain, karena ia takut bahwa Ludwid Erhard akan menjadi kanselir baru yang sedikit memiliki konflik dengan Adenauer.

Temperamen ini telah berubah ketika pemilihan pada bulan September 1961. Selama 1961, Adenauer memiliki keprihatinan tentang status baik antara Berlin dan US, karena itu Soviet dan Jerman Timur membangun Tembok Berlin. Adenauer telah curiga pada kedatangan Presiden AS, John F. Kennedy. Dia meragukan komitmen Kennedy tentang Berlin yang bebas dan Jerman yang terpadu dan menganggapnya tidak disiplin dan naif.

Dalam periode ini, Presiden Amerikan Serikat, John F. Kennedy berpikir, bahwa Adenauer adalah peninggalan dari masa lalu Jerman, dengan menyatakan Masalah sebenarnya adalah bahwa beliau terlalu tua, dan bagi saya terlalu muda dalam hal saling memahami.[3]

Hubungan yang tegang di antara mereka menjadi hambatan bagi Barat untuk masuk di Berlin selama tahun 1961.

Adenauer telah merubah haluannya ketika ia mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri untuk jabatan presiden federal di tahun 1959, hanya untuk menarik keluar ketika dia menemukan bahwa di bawah Undang-Undang Dasar, presiden memiliki kekuatan jauh lebih sedikit dari yang dia lakukan di Republik Weimar. Selain itu, berangkat dari pengalaman Theodor Heuss, telah membentuk preseden bahwa seorang presiden haruslah seorang non-partisan, yang kala itu berbenturan dengan visi misi Adenauer.

Pembangunan Tembok Berlin pada bulan Agustus 1961 dan penyegelan perbatasan dengan Jerman Timur membuat pemerintah terlihat lemah. Untuk mencapai kesepakatan, Adenauer terpaksa membuat dua konsesi, yaitu melepaskan chancellorship sebelum akhir pemerintahan yang baru, dan untuk mengganti menteri luar negerinya.

Catatan kaki:


[1] Granieri, Ronald J, 2004, The Ambivalent Alliance: Konrad Adenauer, the CDU/CSU, and the West 1949-1966.

[2] Heidenheimer, Arnold J., 1960, Adenauer and the CDU: the Rise of the Leader and the Integration of the Party.

[3] Peter Hintereder, 2007, Tatsachen Uber Deutschland, Berlin: Societat-Verlag, Frankfurt/Main in collaboration with the German Federal Foreign Office, hal 48.

29 Desember 2011 @07.36 WITA
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."