12

Arsitektur Keamanan Eropa Pasca Pengesahan Elysee Treaty 1963

Pasca ditandatanganinya perjanjian Elysee (Elysee Treaty atau Treaty of Friendship) di Paris pada tanggal 22 Januari 1963 antara Perancis dan Jerman membawa konsekuensi bagi terbentuknya tatanan Eropa yang baru. Setelah kehancuran tatanan politik Eropa pada Perang Dunia II yang terjadi selama seperdua dekade lebih (1939-1945), berbagai bentuk konsolidasi struktural antara negara-negara Eropa mulai dijalankan. Berbagai bentuk perjanjian sejak Perjanjian Paris (1951) dalam bidang pertahanan, Perjanjian Roma (1957) dalam bidang ekonomi, hingga penandatangan European Economic Community (EEC), Greece (1961), kesemuanya tidak lain adalah untuk membangun tatanan Eropa yang lebih kondusif dan stabil.

Perjanjian Elysee 1963 merupakan sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh Perancis dan Jerman untuk membangun kerjasama yang lebih konprehensif bagi kedua negara. Perjanjian ini sekaligus menjadi pondasi kuat (strength foundation) bagi kedua negara untuk membuka iklim perdamaian dan kemanan bersama yang selanjutnya mengakhiri rivalisasi yang berkelanjutan (state of rivalry) bagi kedua negara di Eropa. Keputusan penandatanganan perjanjian ini berdasarkan usul dari Presiden Perancis, Charles de Gaulle dan Kanselir Jerman yang pertama, Konrad Adenauer.

Pertemuan pertama antara kedua kepala negara dilaksanakan di rumah kediaman Charles de Gaulle di Colombey-les-Deux-glises pada bulan September 1958. Semenjak itu, kedua belah pihak terus memegang ikatan persahabatan tersebut hingga hari ditandatanganinya perjanjian Elysee. Saat itu, sebenarnya Jerman tengah dilanda krisis struktural dimana pembagian negara menjadi dua blok, Republik Federal Jerman (FRG, disebut Jerman Barat) dan Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) turut mempengaruhi postur politik dan stabilitas Eropa.

Namun, bagi Adenauer pembagian tersebut akan segera pulih jika Jerman terus fokus pada tujuan utamanya. Yaitu, memperjuangkan cita-cita kesatuan dan kebebasan, pengertian yang telah dijunjung tinggi sejak abad ke-19, yang tetap dipegang oleh orang Jerman selama pembelahan negaranya setelah Perang Dunia II. Dan, akhirnya, ”masalah Jerman“dapat diselesaikan dengan reunifikasi pada tahun 1990. Berikut pidato yang sempat dikutip dalam suasana pasca penandatangan perjanjian ini:

I believe that this close friendship, this close connection between France and Germany will act like a new momentum in Europe. Imagine if this friendship did not exist every attempt to develop Europe would be condemned to death from the very outset. Konrad Adenauer. Pidato ini disampaikan setelah makan malam di honour of the French president Charles de Gaulle di Bonn, 4/7/1963.[1]

Bagi Perancis, maklumat yang termaktub dalam Elysee treaty merupakan langkah awal untuk membangun Eropa melalui pembenahan struktur internal kedua negara. Untuk itu, perjanjian ini lebih menekankan pada pembentukan badan konsultasi tingkat tinggi (high level consultations Agency) Perancis dan Jerman dalam berbagai bidang, termasuk untuk membahas hal-hal paling subtansial di antara kedua negara. Selain itu, langkah nyata dari perjanjian ini adalah terbentuknya Badan Franco-German Office for Youth (l’Office franco-allemand pour la jeunesse/ Deutsch-Franzsisches Jugendwerk), pembentukan Sekolah Tinggi Perancis-Jerman, dan Pendirian Gedung Kembar kedua negara.

Bagi Eropa, Perancis dan Jerman merupakan dua negara yang telah lama memegang peranan penting bagi kelangsungan tatanan politik Eropa.[2] Kedua negara juga menjadi mesin pengendali (driving force) bagi pelaksanaan integrasi Eropa yang hingga hari ini digulirkan. Oleh karena itu, pembentukan badan konsultasi kedua negara di bawah perjanjian ini merupakan sebuah langkah yang tepat untuk mengimbangi kekuatan baru baik di dalam maupun di luar Eropa.

Sebagai kelanjutan dari pelaksaaan isi perjanjian ini, pada bulan Januari 2003, kedua negara menyelenggarakan upacara perinngatan yang pertama kalinya sebagai bentuk baru perkembangan hubungan bilateral bagi kedua negara. Pertemuan ini kemudian, disepakati sebagai bentuk pertemuan Badan Kementerian Perancis-Jerman (Franco-German Ministerial Council) yang telah dilaksanakan setiap dua kali dalam setiap tahunnya, pada setiap musim semi (spring) and musim gugur (autumn) secara bergantian di masing-masing negara.

Upacara perayaan ini telah menjadi sebuah buku sejarah pertama hubungan Perancis-Jerman yang dapat digunakan untuk menjadi bahan evaluasi untuk memantau kemajuan hubungan kedua negara dalam membangun visi dan misi (shared vision) Eropa. Hingga saat ini pertemuan Franco-German Ministerial Council kurang lebih telah dilaksanakan sebanyak 14 kali sejak Januari 2003 di Paris.

Referensi:


[1] Sankt Augustin, 2007,  Konrad Adenauer and the European Integration, Berlin: Konrad Adenauer Fundation, Archive for Christian Democratic Policy, hal  19.

[2] Werner Weidenfeld dan Wolfgang Wessel, 1997, Europe from A to Z, Guide to European Integration, Luxembourg: Institut fur Europaische Politik, hal 10.

6 Januari 2012 @06.53 WITA.
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."