12

Hubungan Strategis Uni Eropa-Turki Pasca Perang Dingin

Sejak diadakannya Masyarakat Ekonomi Eropa,sebagian besar di negara Eropa mulai banyak memperkirakan bagaimana bentuk organisasi penyatuan dari beberapa negara yang ada di kawasan Eropa dan prospek kedepannya. Pada awalnya Masyarakat Ekonomi Eropa ini diebntuk untuk menguatkan kembali perekonomian negara-negara di Eropa pasca Perang Dunia II.Untuk Turki sendiri, MEE ini juga membawa keuntungan mengingat perekonomian dan kondisi Turki sendiri pasca Perang Dunia II sedang hancur.

Saya berpendapat bahwa MEE ini dijadikan katalis oleh Turki untuk membangun kembalinya negaranya. Hal ini pula yang membuat Turki,sebuah negara yang notabene geografisnya lebih condong ke Asia tersebut ikut menyuarakan suaranya untuk berintegrasi ke dalam Uni Eropa.Hal ini telah dirintis sejak Musthafa Kemal Attaturk mendeklarasikan Turki sebagai negara sekuler untuk mempermudah Turki untuk berintegrasi ke dalam Uni Eropa.Seperti diketahui bahwa masyarakat Eropa masih trauma pada saat Turki dikuasai oleh kekaisaran Ottoman yang notabenenya dari kalangan Islam. Meskipun secara eksplisit Uni Eropa tidak pernah menyinggung secara langsung mengenai masalah perbedaan agama dalam proses penundaan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa.

Masyarakat Ekonomi Eropa yang menjadi cikal bakalnya Uni Eropa ternyata telah membuat negara-negara di Eropa mengalami kemajuan yang pesat. Tidak hanya perbaikan ekonomi yang didapat akan tetapi juga dari bidang lainnya.Hal ini pula yang membuat Turki ingin ikut bergabung dengan Uni Eropa. Kemajuan-kemajuan yang didapat dari negara anggota UE membuat Turki iri dan ingin segera mendapat kepastian mengenai status keanggotaannya. Untuk dapat diketahui bahwa sejak tahun 1959 Turki telah mengajukan negaranya untuk menjadi bagian dari MEE (sekarang ini bernama UE).

Keinginan dari Turki dapat dimaklumi mengingat mereka juga ingin seperti negara-negara di Uni Eropa yang dapat berkembang dengan cepat pasca berintegrasi ke dalam Uni Eropa itu sendiri. Bahkan hal ini mendapat respon dari negara-negara sekutu Turki (Azerbaijan,Kazakhstan,Kyrgyzstan dan Turkmenistan) yang mendukungnya untuk dapat berintegrasi ke dalam Uni Eropa. Hal ini setidaknya dapat membuat perkembangan yang cakupannya tidak hanya mengenai politik dan ekonomi saja melainkan juga aspek lainnya. Setidaknya hal ini dapat mempengaruhi di kawasan tersebut dengan Uni Eropa. Tidak hanya keuntungan dari aspek ekonomi yang dapat diambil dari proses berintegrasinya Turki ke dalam Uni Eropa,posisi bargaining pun secara tidak langsung dapat menempatkan Turki pada posisi yang cukup menguntungkan.

Hal lain yang mendorong Turki ingin berintegrasi ke dalam Uni Eropa adalah karena gengsi. Untuk kasus ini mungkin kita dapat ambil contoh seperti yang terjadi pada Meksiko di dalam NAFTA. Alasan bergabungnya Meksiko ke dalam NAFTA adalah karena gengsi meskipun secara internal mereka belum mampu bersaing dengan dua negara lainnya. Dalam hal ini rakyat Turki pun berharapa dengan bergabungnya mereka ke dalam Uni Eropa dapat menaikkan gengsi mereka di mata dunia, dan hal ini pula yang membuat jajak pendapat di Turki menghasilkan 70% warganya menginginkan Turki bergabung. Tidak hanya masalah gengsi,harapan lain yang ingin dicapai adalah keinginan orang-orang Turki melihat negaranya dapat bersaing seperti negara maju lainnya.

Selama ini proses pengintegrasian Turki ke dalam Uni Eropa mengalami pasang-surut. Hal ini dapat dilihat dari usaha keras pemerintah Turki sejak tahun 1959 dimana mereka yang pertama kali mengajukan negaranya untuk bergabung dalam MEE. Tidak hanya samapi disitu,usaha mereka tetap dilakukan hingga saat ini. Maka dari itu,ketika diadakan perundingan untuk pertama kalinya pada tanggal 3 Oktober 2005 pemerintahan Turki menyambutnya dengan sangat antusias meningat telah lebih dari 40 tahun mereka berusaha untuk dapat memastikan masyarakat Uni Eropa untuk menerima mereka sebagai bagian dari mereka. Meskipun demikian,proses perundingan ini pun masih tanda Tanya mengingat hingga sekarang ini status keanggotaan mereka masih dipertanyakan. Apalagi Austria masih mempertanyakan masalah Siprus sebagai salah satu alasan mereka menolak Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1974 pemerintah Turki mengirim pasukan ke wilayah Siprus Utara yang mayoritas etnis Turki. Sedangkan di pulau bagian selatannya lebih banyak etnis Yunani.

Permasalahan HAM di Siprus inilah yang membuat perundingan Turki dengan Uni Eropa mengalami kemandekan atau belum menghasilkan kemajuan yang signifikan. Hal lain yang menjadi ganjalan adalah pengadopsian Undang-undang Turki terhadap Undang-undang Uni Eropa.

Seperti diketahui bahwa pembicaraan UU ini berhenti pada 8 bab terakhir dimana Austria kembali mempermasalahkan kasus Siprus yang setidaknya dapat mengganggu stabilitas internal Uni Eropa itu sendiri. Hal lain yang juga patut diperhitungkan oleh pemerintah turki adalah suara-suara miring dari rakyatnya mengenai isu ini. Memang pada awalnya sebanyak 70% warga Turki menyetujui proses berintegrasinya Turki ke dalam Uni Eropa demi kepentingan negaranya. Namun,dalam perjalanannya interaksi masyarakat Turki dengan masyarakat Uni Eropa terdapat ketidakpuasan mengingat perekonomian mereka justru melemah pasca dibukanya arus perekonomian diantara kedua belah pihak yang akhirnya membuat hanya 30% warganya menyetujui proses integrasi ini.

Hal ini disebabkan banyaknya perusahaan asing yang lebih kuat finansialnya menekan perusahaan lokal di Turki. Perekonomian lokal yang dahulunya disubsidi oleh pemerintah sekarang malah dicabut bahkan hal ini menimbulkan ironi tersendiri dimana mengeingat negara eropa bagian barat makin kaya sedangkan negara eropa tengah cukup kaya dan eropa bagian timur dan selatan justru semakin miskin.

Harapan warga Turki yang ingin melihat perubahan kualitas hidup mereka justru harus menerima kenyataan bahwa kualitas mereka justru semakin rendah pasca dibukanya perdagangan tersebut. Hal ini merupakan dampak dari neoliberalisme yang dianut oleh negara-negara eropa dan dampaknya sangat terasa oleh perusahaan lokal yang dibiarkan mati karena ditindas oleh perusahaan asing yang lebih maju dan berkualitas.

Maka adalah sebuah kebohongan bila mereka dapat menciptakan lapangan pekerjaan justru yang tercipta adalah pengangguran dimana-mana. Akan tetapi yang lebih menjadi perhatian adalah bagaimana UU Turki belum dapat selaras dan masalah Siprus yang berlarut-larut. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Turki untuk memikirkan kembali usaha mereka untuk bergabung ke dalam Uni Eropa. Pemikiran demokrasi yang dikembangkan oleh negara-negara di Uni Eropa setidaknya membuat benturan di dalam UU Turki itu sendiri. Hal ini pula yang membuat kesepahaman bahwa untuk saat ini Turki belum siap bergabung dengan Uni Eropa,mungkin sekitar 5 hingga 10 tahun yang akan datang baru Turki siap untuk berintegrasi secara penuh kedalam Uni Eropa setelah memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimilikinya.

6 Mei 2013 @18.38 WITA
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"