1
Pasar Tunggal ASEAN 2015: Agenda Indonesia

Pasar Tunggal ASEAN 2015: Agenda Indonesia

Percepatan pembentukan Komunitas ASEAN dari 2020 menjadi 2015, sebagaimana disepakati para Kepala Negara ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN, memberikan tantangan tersendiri bagi ASEAN untuk mewujudkannya. Percepatan Komunitas ASEAN juga menyimpan tantangan bagi ASEAN untuk dapat menjaga keseimbangan pencapaian dari ketiga pilarnya agar saling mendukung dan berjalan secara bersama-sama sebagaimana diamanatkan dalam Bali Concord II.

Visi Pasar Tunggal ASEAN

Sejak berdirinya ASEAN pada tanggal 8 Augustus 1967 dengan 5 negara pemrakrsa, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura  dan Thailand, organisasi ini telah memutuskan untuk bekerjasama secara komprehensif di bidang keamanan, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam perkembangannya, kerjasama ASEAN lebih banyak dilakukan di bidang ekonomi, sementara kerjasama di bidang politik-keamanan masih belum maksimal akibat adanya persepsi ancaman yang berbeda-beda dan penerapan prinsip “non-interference”dan“sovereign equality” oleh negara-negara anggota ASEAN. Oleh karena itu tulisan ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana peran dan strategi Indonesia untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN melalui pembentukan Pasar Tunggal ASEAN 2015.

Implikasi bagi Indonesia

Pelaksanaan Pasar Tunggal ASEAN diproyeksi memiliki implikasi kuat bagi Indonesia. Pertama, perdagangan antar negara akan berlangsung sangat bebas, jauh lebih bebas dari era AFTA. Di dalam AFTA, pemerintah masih dimungkinkan misalnya menerapkan bea masuk 1 sampai 5 persen atau juga mengeluarkan kebijakan khusus untuk melindungi industri atau barang-barang produksi dalam negeri yang sangat sensitif. Sebaliknya, dalam era PTA barang-barang produk Indonesia akan sepenuhnya bersaing dengan barang-barang produksi negara lainnya.

Dengan kualitas yang ada saat ini serta tingginya pajak dan pungutan sebagaimana banyak dikeluhkan pengusaha, niscaya akan sangat sulit bagi barang Indoneisa untuk bisa bersaing. Vietnam dan Kamboja memiliki keunggulan dalam hal tenaga kerja yang lebih murah, sedangkan Singapura, Malaysia dan Thailand sangat bersaing dalam kualitas dan juga manajemen.

Kedua, pergerakan tenaga kerja akan terjadi secara bebas yang bisa memberikan dampak luar biasa bagi Indonesia.  Di satu sisi, persaingan tenaga kerja di dalam negeri akan sangat kompetitif.  Pekerja kita tidak hanya akan bersaing dengan sesama WNI, tetapi juga dengan seluruh warga ASEAN.  Konsekuensinya, tenaga kerja Indonesia harus memiliki kemampuan yang lebih tinggi atau minimal sama dengan tenaga kerja luar agar bisa memperoleh pekerjaan yang layak.

Ketiga, persaingan untuk menarik investasi bagi kelangsungan pembangunan juga akan semakin berat dengan adanya prinsip free movement of capital.  Jika dilihat dari kacamata ini, kasus hengkangnya Sony, Aiwa, Nike dan perusahaan lainnya dari Indonesia yang sangat ramai dibicarakan di tahun 2002 adalah fenomena yang sangat wajar dan tidak perlu ditanggapi secara emosional.  Bahkan, bukan tidak mungkin pengusaha-pengusaha nasional kita justru akan menanamkan modalnya di negara-negara anggota ASEAN lain demi mencapai efisiensi yang lebih baik.

Agenda Indonesia

Harus disadari bahwa keikutsertaan Indonesia ke dalam arus perdagangan semacam ini tentunya merupakan “keputusan politik“ pemerintah. Politik luar negeri Indonesia mesti dilaksanakan dan diperkuat untuk menopang kepentingan Indonesia (terutama kepentingan ekonomi Indonesia) di ASEAN. Oleh karena itu, Indonesia sudah seharusnya memetik pelajaran berharga. Sudah saatnya pemerintah maupun para ahli kita mengkaji secara mendalam dan memikirkan masak-masak segala persoalan yang terkait dengannya, lalu membuat agenda kuat untuk dilaksanakan bersama.

Agenda ini termasuk di dalamnya adalah persiapan untuk mengadakan penyesuaian domestik terhadap prinsip-prinsip yang termuat dalam kesepakatan pembentukan PTA untuk kemudian dibawa ke ranah regional ASEAN. Berbagai studi serta persiapan maksimal perlu dilakukan agar kita bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya. Tahapan-tahapan yang realistis perlu dipikirkan untuk menekan dampak negatif yang mungkin timbul.Peran negara diperkuat melalui memperkuat institusi-institusi pendidikan, memperkuat posisi para pelaku pembisnis Indonesia, serta memperkuat konektivitas antarwilayah.

Pada akhirnya, integrasi ekonomi ASEAN memberikan peluang yang besar bagi Indonesia untuk maju berkembang mencapai kemakmuran bersama anggota ASEAN lainnya. Di lain pihak, proses integrasi juga bisa menjadi ancaman besar bagi ekonomi Indonesia bila pemerintah dan rakyat Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan baik. Kalau ini yang terjadi, ekonomi negara-negara ASEAN tidak akan semakin membaik, tetapi justru semakin memburuk dan akhirnya memperlemah kawasan.

BUTON (Indonesia), 31 Mei 2013 @13.18 WITA  
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto