12

Pasar Tunggal ASEAN 2015: Peluang Dan Tantangan Bagi Negara Anggota

Sebelum jauh berbicara tentang pembentukan Komunitas ASEAN ada baiknya kita menelaah lebih jauh mengapa pembentukan Komunitas ASEAN sangat dinantikan. Tentu kita akan melihat sejarah di belahan bumi lain yang menjadi cermin utama pembentukan Komunitas ASEAN, yaitu sejarah pembentukan Komunitas Eropa yang hingga tahun 2014 telah memiliki 28 negara anggota. Hal ini tentu menjadi salah satu tolak ukur atau pembanding dalam memahami proses pembentukan Komunitas ASEAN seperti diharapkan bersama.

ASEAN adalah salah satu kawasan yang saat ini gencar melakukan integrasi kawasan, khususnya dalam bidang ekonomi. Integrasi ASEAN membentuk sebuah kawasan yang bernama “ASEAN Community” diilhami oleh kisah sukses integrasi kawasan Eropa (UE) yang mampu menyatukan 15 negara Eropa barat ke dalam satu kesatuan pasar, yang ditandai dengan diciptakannya mata uang bersama “Euro”.

Tahun 2004 bahkan menjadi momen bersejarah bagi Eropa dan dunia, ketika UE menambah keanggotaannya hingga menjadi 25 negara dengan memasukkan 10 negara Eropa Timur dan bekas Uni Sovyet. Proses integrasi belum akan berakhir, karena ada beberapa negara yang akan bergabung dalam tahun-tahun selanjutnya. UE bagaimanapun telah berhasil menyatukan Eropa ke dalam satu wadah dimana hal ini sebenarnya sudah dicita-citakan sejak jaman Napoleon Bonaparte, yang menjadikan Eropa satu kawasan yang damai dan stabil.

Tuntutan Ekonomi Kawasan

Keberhasilan UE membentuk satu pasar tunggal mengilhami ASEAN untuk melakukan hal yang sama. Pada KTT ASEAN Oktober 2002 di Kamboja, PM Singapura Goh Cok Tong mengusulkan agar di tahun 2020 dibentuk apa yang disebutnya sebagai Pasar Tunggal ASEAN (PTA) mencontoh keberhasilan pembentukan pasar tunggal Eropa yang diberlakukan di kawasan Uni Eropa.

Usulan ini langsung mendapat dukungan penuh dari PM Thailand Thaksin Shinawatra dan PM Malaysia Mahathir Mohammad.  Ide ini akhirnya terwujud dengan ditandatanganinya Bali Concorde II  pada tanggal 7 Oktober 2003, yang menyepakati terbentuknya ASEAN Community pada tahun 2020 dengan tiga pilar utama: ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community.

Penyatuan Ekonomi Kawasan

Penyatuan ASEAN ke dalam ASEAN Community ini akan membawa dampak yang luar biasa besar, terutama dari sisi ekonomi yang akan diikuti aspek kehidupan lainnya. Dari sisi ekonomi, penyatuan ini akan menciptakan pasar yang mencakup wilayah seluas 4,5 juta km2 dengan populasi sekitar 500 juta jiwa (jumlah yang hampir setara dengan UE saat ini), total perdagangan lebih dari 720 milyar dollar pertahun serta produk domestik bruto (PDB) lebih dari 737 milyar dollar.

Sebagai gambaran, kesepakatan perdagangan bebas ASEAN mampu meningkatkan perdagangan intra ASEAN dari 43,26 milyar dollar pada tahun 1993 menjadi 80 milyar dollar pada tahun 1996, atau dengan rata-rata pertumbuhan 28,3 persen per tahun. Share perdagangan intra ASEAN terhadap total perdagangan juga meningkat dari 20 menjadi 25 persen. Penyatuan ASEAN ke dalam pasar tunggal diyakini akan memberikan dampak sangat besar.

Pasar Tunggal ASEAN 2020 digambarkan sebagai satu kawasan ekonomi tanpa frontier (batas antar negara) dimana setiap penduduk maupun sumber daya dari setiap negara anggota bisa bergerak bebas (sebagaimana dalam negeri sendiri).  Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat kegunaan yang paling optimal yang pada akhirnya akan mendorong tercapainya tingkat kemakmuran (kesejahteraan) yang sama (merata) diantara negara-negara anggota ASEAN.

Konsep ini dilandasi oleh dua pilar utama sebagai berikut: Pertama, Free movement of goods and services. Konsep ini memungkinkan terjadinya pergerakan barang-barang dan jasa tanpa ada hambatan (pajak bea masuk, tarif, quota dll), yang merupakan bentuk lanjut dari kawasan perdagangan bebas (sebagaimana AFTA) dengan menghilangkan segala bentuk hambatan perdagangan (obstacles) yang tersisa. Kedua, Freedom of movement for skilled and talented labours.

Konsep ini dimaksudkan untuk mendorong terjadinya mobilitas tenaga kerja sesuai dengan tuntutan pasar dan memberi kesempatan kepada pekerja menemukan pekerjaan terbaik sesuai kualifikasi yang dimiliki oleh sesama penduduk negara ASEAN.

Peluang dan Tantangan

Berbeda dengan konsep UE yang memungkinkan terjadinya pergerakan tenaga kerja secara bebas, ASEAN hanya akan mengijinkannya untuk tenaga kerja pada kategori terdidik. Konsekuensinya, hanya orang-orang terdidik lah yang bebas bekerja dimana saja, sementara tenaga kerja tak terdidik tidak akan mendapat kesempatan. Hal ini menurut hemat saya merupakan satu kecolongan buat Indonesia, mengingat kondisi mayoritas tenaga kerja kita belum masuk ke dalam kategori ini.

Pertama, Freedom of establishment and provision of services and mutual recognition of diplomas.  Konsep ini menjamin setiap expert warga negara ASEAN bebas membuka praktek layanan di setiap wilayah ASEAN tanpa ada diskriminasi kewarganegaraan.  Konsekuensinya setiap dokter, akuntan, pengacara dan WNI profesional lainnya akan bebas membuka praktek di negara-negara ASEAN lainnya, sebagaimana halnya dokter serta profesional dari negara ASEAN akan bebas membuka praktek di seluruh wilayah Indonesia. Kedua, Free movement of capital.

Konsep ini akan menjamin bahwa modal akan bisa berpindah secara leluasa diantara negara-negara ASEAN, yang secara teoritis memungkinkan terjadinya penanaman modal secara efisien.  Dengan demikian, setiap pemilik modal baik WNI maupun waga negara lainnya akan bebas dan leluasa memindahkan investasinya dari Indonesia ke negara ASEAN atau sebaliknya demi mencapai efisiensi tertinggi tanpa bisa dicegah.

BUTON (Indonesia), 31 Mei 2013 @13.17 WITA.
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"