12

Buton, Indonesia, dan Dunia: Mengenal Kekayaan Segitiga Dunia di Buton

Indonesia mestinya berbangga sebab di negeri inilah situs benteng terluas di dunia berada, termasuk dua situs lainnya yaitu Wakatobi Island dan Hutan Lambusango yang hari ini kedunya sudah menjadi konsumsi masyarakat dunia.

Terminologi “The Triangle of Buton” atau “Kekayaan Segitiga Buton” penting untuk dipahami sebagai bentuk simplikasi wilayah andalan dari suatu daerah, dimana keberadaannya mesti ditata dengan baik. Melihat gencarnya promosi pariwisata menjelang dibukanya ASEAN Community 2015 mendatang, terminologi dan substansinya mestilah bisa dipahami. Jika ini tidak dibijaksanai dengan sebuah langkah yang baik, maka situs tersebut tidak akan bisa mendongkrak popularitas Indonesia, terutama Kota Buton di Indonesia Timur. Saya berharap Indonesia semakin baik dalam mengenal situ-situs penting dalam negeri.

Namun, ada pemandangan menarik yang saya alami ketika berada di Jawa. Ternyata masih banyak yang belum mengenal popularitas situs ini. Ini menunjukkan bahwa “Indonesia masih belum mengenal Buton dengan baik.”  Hal ini didukung pula oleh minimnya kalangan akademis terutama mahasiswa tentang situs ini. Menurut saya ini merupakan sebuah masalah struktural dan kultural, dimana informasi kebudayaan kurang berjalan dengan baik di seluruh Indonesia. Sebagai kasus, sejak 1 minggu di Jogjakarta dan Jawa Tengah bersama teman-teman kuliah baru dan juga dosen baru, tidak di kampus, di tempat makan, di teman-teman pondok, dan kuliah. Masih banyak yang tidak tahu Buton itu ada dimana. Fakta ini cukup menantang informasi saya.

Melihat kasus ini sebenarnya ada 3 sisi yang mesti dioreksi. Pertama, kurangnya kemampuan generasi Buton dalam bersoislialisasi ke luar, padahal ada sebagian besar generasi yang sudah berhasil menempuh pendidikan tinggi yang setidaknya menjadi icon “Duta” Buton di luar daerah. Kedua, kurangnya perhatian dan kesadaran Pemda untuk bersosialisasi lewat jalur diplomasi yang berkelanjutan, padahal mereka punya porsi besar untuk melakukannya: “branding informasi”. Ketiga, kurangnya perhatian pusat dalam mengakomodasi wilayah-wilayah strategis di Indonesia, khususnya Indonesia Tengah.

Pemerintah daerah adalah pihak yang paling diharapkan untuk melakukan sosialisasi terstruktur lewat kebijakan daerah, sedangkan yang lainnya perlu memberikan dukungan secara langsung. Selanjutnya, penting untuk diperhatikan, untuk solusi sebaiknya buat “branding” bahwa banyak kota di Sulawesi yang masih perlu diperhatikan, tidak berfokus pada satu wilayah saja. Ini penting agar tidak terjadi dominasi informasi bahwa Sulawesi hanyalah milik beberapa kota saja. Kota Buton mesti dilihat sejajar dengan kota-kota lainnya di seluruh wilayah Indonesia Tengah.

Perlu diketahui, daerah paling kaya di Indonesia Timur adalah Buton yang hingga hari ini menyimpan 3 kekayaan Dunia: ‘The Triangle of Buton’ (Wakatobi Island oleh Bank Dunia, Hutan Lambusango oleh Operation Wallacea, dan Benteng Keraton Buton oleh UNESCO*). Ketiganya berpotensi besar, tapi masih belum dikemas dengan baik, sehingga tenggelam oleh dominasi wilayah lain akibat tidak sinkronnya informasi yang tersebar.

Selanjutnya, mesti hadir slogan positif yaitu “Sulawesi adalah Buton, dan Buton ada di Sulawesi.” Buton dengan “The Triangle of Buton” nya, yaitu Benteng Keraton Buton, Wakatobi Island dan Hutan Lambusango. Ketiganya adalah situs terbaik di Indonesia yang telah dikonsumsi oleh masyarakat dunia.

Adi Rio Arianto | Buton, 29 September 2013. pkl 09.03 WITA

Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."