12

Pemuda, Nasionalisme, dan Pertahanan Intelektualisme Indonesia

Dalam sejarah dunia tak satupun gerak perubahan tidak melibatkan kaum pemuda di dalam perubahannya. Hal tersebut disebabkan tingginya resistensi kelompok ini terhadap realitas sosial yang terjadi. Pemuda termasuk dalam kelompok ini sehingga setiap perubahan di negeri ini tidak luput dari keterlibatan pemuda Indonesia, yang memicu terjadinya pergerakan Pemuda dalam menyikapi fenomena sosial.

Fenomena di atas oleh ini oleh Max Weber dikarenakan oleh “the ethic of absolute ends” atau nilai-nilai luhur (idealisme) yang didapatkan oleh pemuda mahasiswa yang dijadikan sebagai main stream perjuangan dalam menyikapi fenomena social.

Gerakan pemuda sebagai pendorong perubahan sosial selama ini dianggap mampu namun pasca Reformasi menjadi tak menentu. Oleh karena itu penting memahami peran pemuda dalam 6 tahapan, yaitu pertama peran pemuda dalam hal injeksi nilai untuk perubahan, kedua regenerasi untuk kelangsungan, ketiga edukasi sebagai politik etis, keempat menilai kembali sejarah, kelima merevitalitas gerakan perubahan, dan keenam agenda pemuda dalam KNPI. Dari sudut pandang inilah sehingga pemuda dikatakan agent nilai, juga nilai-nilai luhur itupunlah yang dijadikan orientasi pemuda dalam mengawal segala perubahan untuk sebuah proses transformasi sosial sehingga pemuda mendapatkan predikat yang tinggi damata masyarakat maupun dimata birokrasi.

Maka, sangat wajar jika dalam dunia pemuda sendiri, terjadi proses kemapanan yang berlangsung terus menerus dan cenderung mempertahankan status quo.

Melihat fenomena yang dihadapi oleh gerakan pemuda yang tidak menentu arah dan semakin kurang menariknya kelembagaan pemuda  menjadi alasan yang mendasari perlunya kajian intensif dalam rangka memperjelas peran dan posisi pemuda. Sejarah Indonesia telah membuktikan kebenarannya. Revolusi 1945 adalah revolusi pemuda, yang merupakan klimaks dari long march perjuangan bangsa sejak masa pra-kemerdekaan.

Pendek kata, pemuda adalah nafas zaman, tumpuan masa depan bangsa yang kaya akan kritik, imajinasi, serta peran dalam setiap peristiwa yang terjadi di tengah perubahan masyarakat agent of change. Tidak bisa dipungkiri pemuda memegang peran penting dalam hampir setiap transformasi sosial dan perjuangan meraih cita-cita Indonesai.

Tokoh-tokoh sentralnya, seperti dr Sutomo dan dr Wahidin Sudirohusodo, yang menggagas perkumpulan Budi Oetomo, HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam, adalah orang-orang muda pada zamannya. Mereka adalah para pioner ulung, konseptor pergerakan pada masa pra-kemerdekaan. Bahkan Bung Karno dan Bung Hatta menjadi pimpinan negara pada usia muda, masing-masing 44 dan 43 tahun.

Pemuda menginjeksi nilai gerakan

Abad 20, dalam perspektif bangsa kita, sesungguhnya adalah sejarah anak-anak muda. Namun itu bukan hanya milik Indonesia. Revolusi Perancis yang menumbangkan monarki dan gereja di abad pertengahan digerakkan oleh kaum intelektual muda. Pemuda Rosseu, Montesquieu, menjadi motor penggerak revolusi menandai zaman baru dan mengilhami bangkitnya renaisans di Eropa. Di Rusia, Revolusi Bolsevik menumbangkan Tsar Nicholas II beserta Dinasti Romanov.

Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan mahasiswa yang  menetang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Eropa Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun 60- an: mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jenderal Franco pada 1965; hal yang sama juga terjadi di Perancis, Italia, Belgia, dan negara Eropa lainnya.

Di dunia Islam Asia-Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori perlawanan terhadap penjajah di sepanjang paruh pertama abad ke-20 sampai tahun 70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam Revolusi Aljazair 1954, mengenyahkan Perancis dari tanah itu. Mereka juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir. Sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda bahkan yang masih bocah, telah meletuskan gerakan intifadhah melawan penjajahan Israel di Palestina.

Pemuda Meregenerasi gerakan

Pemuda selalu identik dengan perubahan sosial di Indonesia, semenjak jaman kolonial hingga sekarang. Peran kesejarahan dan keterlibatan yang amat panjang telah menempatkannya sebagai kelompok strategis yang memiliki daya dorong transformasi sosial yang signifikan. Hingga tepatlah kiranya bila pemuda dianggap sebagai salah satu ikon penting dalam perubahan sosial di Indonesia. Membaca peran pemuda kontemporer, karenanya butuh diletakkan pada pembacaan historisitasnya.

Hal ini bisa dilihat dari peran dan fungsi pemuda Indonesia yang begitu kompleks dalam kehidupan berbangsa, diantaranya mulai perlawanan atas imperialisme, hingga penggulingan rezim kekuasaan despotis.

Upaya dekonstruksi formasi sosial masyarakat, fungsi sebagai motor penggerak, pengorganisasian dan sekaligus sebagai kekuatan yang berfungsi melawan kekuatan jahat dari luar negara saat ini (neoliberalisme-neoimperialisme).

Mungkin sedikit berkilas balik dan bernostalgia tentang romantisme perjuangan pemuda Indonesia di masa yang lampau. Berakhirnya tanam paksa (cultuur stelsel) telah mengilhami lahirnya politik etis, yang niatan awalnya adalah sebagai bentuk balas jasa pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat Indonesia, atas berbagai macam kekayaan alam bumi Indonesia yang telah dikeruk Belanda. Kaum liberal Belanda yang diwakili oleh Van Deventer mengusulkan program praksis politik dari kebijakan politik etis, yakni trias politica Van Deventer, yang terdiri dari irigasi, emigrasi dan edukasi.

Pemuda beredukasi sebagai politik etis

Edukasi merupakan bagian politik etis yang mendorong lahirnya sekolah modern di Hindia Belanda, tahun 1902 berdiri Sekolah Dokter Bumiputera (STOVIA). Dari sinilah kemudian lahir lapisan sosial terpelajar dalam masyarakat pribumi.

Salah satu pelopor gerakan di masa itu adalah dr. Wahidin Sudhirohusodo, pemimpin majalah Retnodumilah. Wahidin berpendapat bahwa kemajuan akan tercapai dengan ilmu pengetahuan barat lewat pendidikan, dengan tanpa meninggalkan warisan Jawa. Tahun 1907 di Jakarta dia bertemu mahasiswa STOVIA dan mendirikan perkumpulan pemuda Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Budi Utomo menjadi titik awal lahirnya gerakan kepemudaan yang sifatnya modern dan mengarah pada persatuan nasional, walaupun latar belakangnya masih Jawa sentris. BU menjadi generasi pendobrak bagi perjuangan pemuda Indonesia. Dengan lahirnya Budi Utomo kemudian muncul berbagai macam organisasi kepemudaan yang sifatnya modern, dan mempunyai tujuan politik secara tegas, yaitu melawan imperialisme kolonialisme.

Setelah berjalan dua puluh tahun, beraneka ragam organisasi kepemudaan yang ada di bumi Nusantara Jong Java, Jong Sumatra, Jong Cilebes, Pemuda Sekar Rukun, Jong Ambon, Jong Borneo, dll- mulai terketuk pintu hatinya untuk mengikatkan diri pada cita-cita luhur, membangun persatuan nasional Indonesia. Sehingga terselenggaralah Kongres Pemuda Indonesia I tahun 1927, dan kemudian dilanjutkan dengan Konges Pemuda Indonesia II pada 1928.

Kongres Pemuda II menghasilkan Sumpah Pemuda Indonesia, yang didalamnya menyatakan bahwa Pemuda Indonesia adalah bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, INDONESIA. Sumpah Pemuda menegaskan cita-cita perjuangan pemuda Indonesia, menuju Indonesia merdeka.

Belajar dari ghirah Sumpah Pemuda, pada perjalanannya, pemuda Indonesia selalu berandil besar dalam setiap moment-moment besar perjuangan bangsa Indonesia. Setidaknya, peristiwa 1945, 1966, 1974 dan peristiwa 1998 adalah merupakan keberhasilan emas perjuangan pemuda Indoensia, sebagai warisan nilai-nilai perjuangan 1928.

Kini, ketika arus pusaran kapitalisme mulai mengglobal, dengan semangat neoliberalismenya, yang berusaha untuk meruntuhkan tembok besar nasionalisme, pemuda Indonesia kembali ditantang untuk turun pada medan pertarungan. Virus globalisasi yang disemaikan oleh agen-agen neoliberal, bagaimanapun telah melahirkan gerakan emoh negara (I. Wibowo dan F. Wahono (ed), 2003).

Parahnya, sasaran utama gerakan ini adalah mereka para pemuda, yang sebagain besar memandang bahwa global itu adalah lebih baik daripada berkutat dalam lokalitas. Akibatnya, jiwa nasionalisme pemuda Indonesia, yang secara susah payah dibangun oleh para founding fathers negeri ini, melalui semangat Sumpah Pemuda, mulai digerogoti dan terkikis sedikit demi sedikit oleh virus globalisasi, yang sifatnya lebih endemik daripada flu burung. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, bagaimana bangsa Indonesia bisa bangkit, dan menjadi bangsa yang besar? Ketika semangat nasionalisme pemuda sudah tak ada lagi, mereka lebih berpikir untuk kepentingan diri pribadi masing-masing, tidak lagi memiliki semangat kebersamaan untuk memikirkan dan merubah nasib massa rakyat banyak.

Mampu menilai kembali sejarah

Pemuda Indonesia, baiknya kembali berkaca dan mengambil serpihan-serpihan warisan 1928, yang telah terkoyak-koyak. Dahulu, ketika transportasi masih sulit, komunikasi belum secanggih sekarang, mereka pemuda Indonesia di masa itu, telah memiliki semangat kebersamaan yang luar biasa. Mereka bersatu padu membangun persatuan nasional, guna melawan imperialisme yang telah menindas seluruh elemen bangsa Indonesia.

Saat ini, ketika tiap hari kita dimanja oleh kecanggihan teknologi, yang memungkinkan kita para pemuda Indonesia untuk berkomunikasi intens tiap hari, mengapa malah semangat kebersamaan itu menjadi semakin terpecah-pecah? Padahal, sekarang kita juga memiliki musuh bersama (common enemy), yang tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Perlu kebersamaan untuk menangkal badai besar globalisasi dan neoliberalisme, sebagai wujud nyata dari neo-imperilisme. Neoliberlisme telah melumpuhkan sendi-sendi bangsa Indonesia sedikit demi sedikit, yang akibatnya lebih berbahaya dibandingkan dengan imperialisme di masa yang lalu.

Pemuda harus segera mengambil peran, tidak terus-menerus terhegemoni oleh kaum tua, yang semangatnya telah melemah. Warisan 1928 mengajarkan kepada kita semua, untuk menempatkan pemuda pada garda depan perjuangan bangsa. Pemuda harus menjadi pelopor bagi setiap proses transformasi bangsa Indonesia.

Adalah salah ketika kita para pemuda senantiasa menunggu dawuh dari mereka kaum-kaum tua, karena Sumpah Pemuda juga tidak lahir dari pesanan kaum-kaum tua, melainkan lahir dari semangat kebersamaan pemuda Indonesia. Sekarang, ketika musuh bersama telah nyata di depan mata, maka sudah waktunya bagi seluruh pemuda Indonesia untuk membumikan kembali semangat bersamaan, yang telah lama terkoyak-koyak. Pemuda harus menjadi ujung tombak perubahan, bahu-membahu melawan neo-imperialisme, untuk merebut makna perjuangan 1928, guna menuju kebangkitan nasional yang sesungguhnya dan mencapai cita-cita luhur bangsa.

Setidaknya ada enam faktor: masalah konsep atau ideologi, sistem, lembaga, strategi, program, implementasi program, dan aktor politik.

Andaikata tidak ada persoalan pada kelima faktor terdahulu, maka kegagalan politik terkait pada aktor politik. Persoalan aktor politik yang bisa muncul adalah tentang visi dan kemampuan. Visi umumnya bersifat transenden untuk kepentingan mencapai cita-cita politik jangka panjang. Sedangkan kemampuan merupakan kesanggupan implementatif, yang selain skill, juga menuntut kemampuan fisik. Dalam politik yang menekankan pentingnya aktor yang bersifat personal, maka persoalan kemampuan fisik menjadi hal yang penting. Karena itu, sejauh mana politik mampu melakukan perubahan sangat tergantung sejauh mana lembaga politik melakukan regenerasi terhadap aktor-aktornya. Sebaliknya ada yang berpikir bahwa visi bisa diimplementasikan oleh skill dan kemampuan sistem yang bersifat impersonal.

Dalam hal ini, yang dilaksanakan bukan regenerasi, melainkan rejuvenasi terhadap visi sang aktor  Pilihan antara regenerasi dan rejuvenasi itu, jelas mengandung konsekuensi yang berbeda, di mana generasi muda diharapkan dapat memilih dengan cara yang tepat. Bahwa pilihan untuk melakukan, baik regenerasi maupun rejuvenasi, sangat terkait dengan keinginan agar politik mampu melakukan suatu perubahan yang signifikan. Sebab jika keduanya tanpa menawarkan konsep dan perubahan, berarti hanya merupakan suksesi biologis atau sekadar power shift. Hiruk- pikuk tuntutan tentang pentingnya kaum muda diberi peran politik lebih besar seharusnya tidak hanya menuntut dilakukannya regenerasi, tetapi juga mengangkat konsep perubahannya juga.

Munculnya Mahatma Gandhi sebagai tokoh politik muda anti kolonialis yang fenomenal di India, karena menawarkan suatu gerakan perubahan alternatif (swadeshi). Hal yang sama terjadi saat Mao Ze Dong muncul sebagai tokoh muda partai dengan konsep long march-nya. Sedangkan perubahan revolusioner digambarkan oleh sepak terjang Che Guevara dan Fidel Castro muda pada masa lalu.

Pemuda merevitalitas gerakan perubahan

Gerakan pemuda Indonesia, termasuk gerakan mahasiswa, mesti ditafsirkan ulang secara lebih aktual dan kontekstual sesuai dengan perkembangan sosio-kultural kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dewasa ini. Kontekstualisasi gerakan pemuda Indonesia penting sebagai konsekuensi logis perkembangan sejarah kehidupan manusia dan Bangsa Indonesia yang tidak lepas dari ruang dan waktu.

Dalam konteks pemikiran ini, kalau sebelum kemerdekan 1945 gerakan pemuda identik dengan perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan atau kolonialisme asing, dalam era Orde Lama mempertahankan kemerdekaan, para era Orde Baru mengisi ruang-ruang pembangunan, maka dalam konteks era reformasi kini, yang menuntut sejumlah perubahan paradigma, gerakan itu harus kita revitalisasi.

Visi dan misi gerakan pemuda Indonesia mesti diarahkan pada fragmentasi proses perubahan sosial politik dan ekonomi yang lebih berpihak pada kepentingan hidup masyarakat luas di negeri ini.

Termasuk yang sangat urgen di dalamnya adalah pemberantasan prilaku korupsi yang sangat membahayakan masa depan kehidupan umat manusia. Gerakan pemuda Indonesia itu harus lebih mengacu pada proses pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (community development), baik dalam kerangka pemikiran maupun praksisnya di lapangan. Gerakan-gerakan sosial seperti aksi jalanan atau demonstrasi sebagai satu model ekspresi kritik sosial atas kebijakan publik dan politik –yang dipandang kurang berpihak atas kepentingan hidup masyarakat luas– tetap penting. Tapi konseptualisasi-konseptualisasi gagasan yang bersifat sistematis guna merubah dan atau memengaruhi arah kebijakan politik itu juga penting, sehingga aksi ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Aspek inilah yang selama ini tampak diabaikan oleh para pemuda Indonesia, baik yang bergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), maupun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lain sebagainya. Implikasinya, dewasa ini banyak elemen gerakan pemuda atau mahasiswa menjadi sangat pragmatis. Ada banyak fakta yang menjadi rahasia umum di kalangan gerakan pemuda bahwa gerakan-gerakan yang eksis kini terlihat hanya merupakan sempalan dari gerakan politik tertentu. Banyak pemuda kini yang hidupnya mengabdi pada kepentingan kekuasan dan politik.

Lahirnya wacana ”gerakan mahasiswa bayaran”, misalnya, adalah contoh kuat argumentasi ini. Jelas, gerakan ini sama sekali tidak mencerminkan watak dasar gerakan kaum muda itu sendiri.

Di samping itu, gerakan yang ada kini terlihat tidak memiliki struktur pemikiran yang jelas. Oleh karena itu, mesti dilakukan revitalisasi bahkan rekonstruksi. Revitalisasi secara paradigmatik menemukan relevansinya. Dalam arti kata, revitalisasi atas gerakan pemuda Indonesia mesti diupayakan. Gerakan kaum muda kini terlihat sangat ideologis dan pragmatis, bahkan hedonis dan materialistis. Gerakannya tidak fokus, tidak memiliki arah yang jelas dengan artikulasi politik yang bisa ditafsirkan sebagai media proses pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemuda mesti memiliki Agenda

KNPI sebagai tempat berhimpunnya kalangan kaum muda sendiri terbukti tidak mampu menampung seluruh aspirasi. Bahkan, KNPI terlihat sangat mandul. Alih-alih akan menjadi jembatan untuk menampung aspirasi guna membangun akselarasi perjuangan bagi arah perubahan dan pembaharuan pembanguan bangsa, organisasi ini tak lebih sebagai ‘bajaj’: kendaraan murah untuk mengejar kekuasaan semata melalui koneksi para seniornya.

Yang jelas, KNPI tidak mampu melahirkan satu model pemikiran yang mampu menunjang arah perubahan perpolitikan nasional yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat secara luas. Demikian halnya dengan organisasi kepemudaan dan atau kemahasiswaan lainnya, dewasa ini tampak kurang memiliki artikulasi pemikiran politik perjuangan yang jelas dan memadai untuk konteks anak zamannya.

Hari ini kesejahteraan hidup masyarakat sebagai ibu kandung peradaban tidak memperoleh pembelaan secara memadai.

Demonstrasi-demonstrasi yang acapkali mereka lakukan lebih bersifat instan, tidak akademik, dan bahkan terkesan terselubung kepentingan politik tertentu. Salah satu ciri gerakan demonstrasi yang terkontaminasi dengan kepentingan komunitas politik tertentu adalah anarkisme. Anarkis menjadi satu titik fokus, sementara substansi pemikiran dan pesan moral di dalamnya begitu sempit, bahkan sama sekali hampa dari makna moralitas pergerakan yang semestinya.

Hemat saya, gerakan pemuda Indonesia dalam konteks perkembangan sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini melakukan kajian intensif menyangkut berbagai hal: sosial, politik, ekonomi, budaya, agama dan lain-lain sebagai satu referensi untuk memengaruhi proses-proses pengambilan kebijakan publik dan politik di sentra-sentra pemerintahan.

Hal ini penting dilakukan sebagai kontinuitas perjuangan dalam posisi dirinya sebagai elemen kaum intelektual dan aset masa depan bangsa. Baik KNPI maupun organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan lainnya memiliki tanggung jawab sosial yang sama, yakni mengabdi pada kebenaran sebagai satu dimensi ideologi perjuangan.

Sementara objektivikasi perjuangannya harus senantiasa mengacu pada klausul-klausul teoretis yang memungkinkan tercapainya tingkat kesejahteraan hidup masyarakat secara luas di negeri ini. Oleh karena itu, gerakan-gerakan kaum muda tidak sebatas mengkritisi berbagai kebijakan publik dan politik tetapi adalah bagaimana membangun konseptualisasi-konseptualisasi teoritis guna menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang kini menghambat proses pertumbuhan pembangunan bangsa.

Kritik sosial sebagai satu perwujudan sikap demokrasi adalah penting tetapi konseptualisasi teoritis sebagi media penyelesaian masalah (problem solving) jauh lebih penting dan bermakna bagi proses pembangunan bangsa ini. Dalam konteks ini, mestinya KNPI dan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan lainnya bergerak. Demonstrasi dalam konteks kebutuhan arah reformasi bangsa dan negara saat ini adalah bersifat mubazir. Untuk itu, perlu dipikirkan ulang menyangkut strategi masa depan pembangunan bangsa tercinta ini. Yang jelas, gerakan KNPI dan organisasi kepemudaan lainnya ke depan harus lebih bersifat intelektual, mengandung aspek pencerahan bagi seluruh totalitas proses pembangunan bangsa. Apapun bentuk gerakannya, kebenaran harus selalu menjadi satu standar perjuangan yang abadi.

5 Oktober 2013 @20.05 WITA
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."