12

Dasar-Dasar Pemikiran Globalisasi: Akar dan Perkembangannya

Dalam pemahaman saya, definisi-defenisi globalisasi di bawah ini menjelaskan tantang bagaimana kondisi globalisasi sekarang adalah sesuatu berbeda dengan zaman yang dulu. Dibalik kebangkitan gerakan anti-globalisasi ternyata terdapat sisi gelap globalisasi yang mengincar yakni ketidak-merataan distribusi pendapatan negara. Alih-alih membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat internasional ternyata ada beberapa spekulasi tertentu terutama dari negara-negara dunia ketiga yang merasa globalisasi justru semakin meningkatkan ketidak-merataan pendapatan di dalam suatu negara, pengangguran yang tinggi, serta konsekuensi merusak perekonomian nasional akibat arus lintas negara yang tidak diatur.

Globalisasi dalam konteks negara (1), menurut David Graeber,  bahwa:

As I havee mentioned, the anti-globalization movement is increasingly anarchist in inspiration. In the long run the anarchist position on globalization is obvious: the effacement of nation-states will mean the elimination of national borders. This is genuine globalization. Anything else is just a sham. But for the interim, there are all sorts of concrete suggestions on how the situation can be improved right now, without falling back on statist, protectionist, approaches.[1]

Analisis di atas bisa saja benar atau salah. Menurut penulis sendiri analisis tersebut bisa saja salah dengan tetap langgengnya ideologi kapitalis di dunia ini. Hal ini penulis dasarkan dengan anggapan bahwa globalisasi tidak akan pernah terhenti dengan munculnya grup-grup ekonomi regional yang terintegrasi. Sebagaimana diketahui tujuan dari integrasi regional adalah memberikan benteng perlindungan bagi setiap negara yang turut di dalamnya untuk bersatu menghadapi globlisasi ekonomi. Terintegrasinya beberapa negara menjadi sebuah kesatuan justru akan memperkuat posisi negara tersebut. Walaupun nantinya konsep kedaulatan negara akan sedikit kacau karena integrasi membawa kepada kesatuan komunitas internasional yang penuh integrasi akan mampu menyeimbangkan posisi multipolar dunia sehingga berada pada posisi balance of power. Dalam posisi seperti ini penulis meyakini bahwa paham Post-Marxisme maupun Neo-Marxisme akan sulit untuk menembus dinding integrasi.

Robert Sinnerbrink, bahwa:

Globalization is allowed to obfuscate certain domestic hierarchies, thus rendering them more difficult to challenge and dismantle.[2]

Meneurut hemat saya, definisi di atas berbicara tentang globalisasi kearah pengkaburan batas-batas wialayah suatu negara, termasuk pengakburan hirarki status suatu negara dalam pergaulan internasional. Berbagai aspek kehidupan, seperti produk, gaya hidup ataupun praktek-praktek politik saat ini cenderung tidak lagi dibatasi oleh kaidah-kaidah atau batasan-batasan geografis ataupun kultural. Globalisasi bisa muncul dalam bentuk penggandaan praktek ataupun produk yang telah ada sebelumnya, tetapi bisa juga muncul dari hal-hal yang baru. Berbagai produk, seperti Coca Cola atau Jean, saat ini tersedia di seluruh belahan bumi dan bisa dinikmati oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Pada saat yang sama, demokrasi telah berkembang menjadi sebuah praktek politik yang diidealkan tanpa medapatkan tantangan & perlawanan.

(2)Globalisasi dalam konteks Transnational Crime. Globalisasi dalam konteks Transnational Crime, menurut Ray Kiely, bahwa:

As an ideology, globalization implies both the inevitability and desirability of the above described tendencies toward integration and the denial of the existence of dysfunctional movements arising from this tendency (James Cypher, cited in Dowd, 2000: 170).[3]

Menurut hemat saya, definisi di atas memaparkan secara jelas, bahwa globalisasi merupakan sebuah ideology yang dirancang khusus untuk menjelaskan fenomena internasional yang keberadaannya niscaya. Ia menunjuk pada makin menguatnya kesadaran mengenai dunia sebagai satu kesatuan dalam bentuk integrasi wilayah. Kesadaran ini terwujud melalui meningkatnya saling ketergantungan dalam hubungan antarabangsa serta pertemuan antar budaya. Kenyataan ini terkesan merobohkan sekat-sekat nasional dan kultural serta membuka peluang untuk saling memengaruhi satu sama lain dalam hubungan internasional. Dalam hal ini gloalisasi memiliki tujuan ganda. Efisiensi politik transnasional merupakan salah satu diantaranya. Sebagai contoh, fenomena globalisasi menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Secara nyata, fenomena ini dapat terlihat pada penggunaan komputer pribadi (personal computer). Dimana komponen-komponen yang terdapat di dalamnya diproduksi oleh industri-industri dari berbagai negara. Ini menunjukkan bahwa batas negara tidak menjadi kendala dalam memproduksi suatu barang.

Menurut definisi di atas, tujuan lain dari globalisasi adalah menumbuhkan kesamaan gaya hidup yang tercermin dalam budaya makan dan berpakaian. Dalam kenyataannya globalisasi mampu menghapus sekat-sekat antar negara yang awalnya di pisahkan oleh jarak, ruang dan waktu. Namun seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dimensi jarak, ruang, dan waktu kini seolah menjadi bias dan tidak menjadi sesuatu yang diperhitungkan keberadaannya lagi. Dunia berada dalam genggamanmu, The world is in your hand, mungkin itulah kata yang tepat bagi orang yang mampu memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari keberadaan globalisasi itu sendiri.

Kini semua negara di dunia telah bersiap-siap menghadapi sebuah era yang membuat perbatasan negara tidak lagi mempunyai arti penting. Terlebih semua negara memiliki peluang dengan terbukanya pasar dalam negeri bagi produk-produk asing dan serbuan budaya dari negara-negara pengekspor produk-produk itu. Oleh karena itu seluruh negara-negara yang ada didorong untuk berkompetisi dalam pasar bebas tersebut, dan sebagaimana layaknya sebuah persaingan tentu ada yang jadi pecundang dan ada yang jadi pemenang pemenang.

(3)Globalisasi dalam konteks Politik dan Gerakan Sosial. Globalisasi dalam kacamata ISEAS, tentang ASEAN Economic Buletin,

Political and legal change as well as economic changes have shifted the agents of change from the hands of the government of countries to multinational companies, and lastly to individual. Globalization in its current era describe by the author being in its third wave following overseas venture to seek colonies and industry revolution as the first and the second wave has shifted the focus of mind from globalization itself to regionalization.[4]

Menurut hemat saya, definisi di atas menunjuk pada politik-ekonomi baru di suatu komunitas baru, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keungan. Berdasarkan pada sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan perpecahan yang terjadi pada negara-negara komunis, yang pemerintahnya enggan menghandel system ekonomi politik yang berlandaskan pada perusahaan multi nasional. Keberadaan revolusi elektronik ternyata mampu melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Disintegrasi yang terjadi di antara negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin sangat memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itulah sebabnya dibidang deologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai  Dekolonisasi (Oommen), Rekolonisasi (Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga.

Bahkan bila diteliti lebih dalam, globalisasi menurut definisi di atas bias menciptakan sebuah kehidupan komunitas yang disebut dengan regionalisme penduduk di suatau wilayah. Menurut Ray Kiely:

Globalization is a central driving force behind the rapid social, political and economic changes that are reshaping modern societies and world order’. They go on to suggest that “contemporary processes of globalization are historically unprecedented such that governments and societies across the globe are having to adjust to a world in which there is no longer a clear distinction between international and domestic, external and internal affairs” (Held et al. 1999: 7).[5]

Menurut hemat saya, definisi di atas menjelaskan bahwa Globalisasi merupakan suatu fenomena yang keberadaannya tidak begitu saja ada. Ia ada karena adanya kekuatan pendorong yang cepat di belakang kehidupan sosial, politik, dan perubahan ekonomi yang membentuk kembali masyarakat modern dan tatanan duniaGlobalisasi ada setelah melalui beberapa proses yang sangat kompleks dan berkesinambungan.

Bagi masyarakat awam, banyak yang menganggap bahwa globalisasi merupakan suatu perubahan yang membawa angin keuntungan yang sangat besar bagi peradaban umat manusia. Akan tetapi pada kenyataannya, yang terjadi sebenarnya sangat bertolak belakang dengan harapan. Globalisasi merupakan suatu gerakan yang di dalamnya berisi tantangan sekaligus ajakan untuk menciptakan sistem perdaganan yang bebas hambatan. Sebagai suatu fenomena, globalisasi bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit (taken from grannted), tetapi ia merupakan suatu proses yang dalam perjalanan waktu menimbulkan pro dan kontra hingga saat ini mengenai keberadaannya.

Dalam hal ini globalisasi merupakan serangkaian proses yang kompleks, bukan proses tunggal dan semua ini berlangsung dalam wujud yang kontradiktif atau bertentangan satu sama lain. Kebanyakan orang memandang globalisasi hanya sebagai pengaruh atau daya yang berusaha untuk ”bergerak meninggalkan” bangsa dan komunitas lokal memasuki arena global, dan inilah salah satu konsekuensinya. Bangsa-bangsa memang kehilangan sebagaian kekuataan ekonominya, namun demikian globalisasi juga mempunyai dampak yang sebaliknya. Globalisasi tidak hanya menarik ke atas, melainkan juga mendorong ke bawah, menciptakan tekanan-tekanan baru bagi otonomi local, baik berdamapak internal maupun eksternal negara.

(4)Globalisasi dalam konteks Ekonomi. Globalisasi dalam konteks Ekonomi, menurut Antony Anghie adalah Guru Besar Hukum di Sekolah Quinney SJ Hukum, University of Utah. Ia menerima gelar LLB (Hons.) dan BA (Hons.) derajat dari Monash University, Melbourne, Australia, dan SJD gelar dari Harvard Law School. Berikut defenisi tentang Globalisasi hubunganya dengan ekonomi internasional:

Globalization has signified the dominance of neo-liberal economic policies, the “Washington Consensus”, promoting privatization and liberalization; these policies have been forcefully advanced by the three major international economic institutions, the World Trade Organization (WTO), the World Bank (hereafter, “the Bank” and the International Monetary Fund (IMF).[6]

Menurut hemat saya, definisi di atas menjelaskan secara detail bagaimana dominasi ekonomi berjalan di pasar bebas. Dalam hal ini segala bentuk kebijakan dan mekanisme ekonomi akan di arahkan menuju sistem ekonomi yang mulai liberal atau bebas. Akar dari system kebijakan ini adalah berlandaskan atas sebuah doktrin ekonomi dari negara dimana dulu lahirnya sistem ekonomi kapitalisme, yaitu Consensus Washington.

Konsensus Washington adalah sebuah doktrinasi ekonomi pasar internasional yang menggiatkan diri pada usaha-usaha untuk mempromosikan privatisasi dan liberalisasi sector ekonomi suatu Negara untuk bias ikut terlibata dalam penentuan mekanisme pasar yang cenderung tidak adil. Ketidakadilan ini tentunya akan berpengaruh pada kondisi kehidupan dan kesejahteraan suatu Negara. Jika suatu Negara mengalami gangguan dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonominya, tentu akan berpengaruh pula pada dasar ideology ekonomi suatu Negara. Suatu Negara yang tidak memiliki ideology ekonomi yang jelas dalam mengatur arus ekonomi dalam negeri tentunya akan sulit dalam hal mensejahterakan rakyatnya. Karena ketidakadilan ideology adalah sumber ketidakadilan kehidupan. Sama halnya dengan adanya keditakadilan ekonomi yang akar permasalahannya cukup kompleks bial dikaji secara m,endalam melalui perspektif ekonomi tentunya. Keterlibatan yang kuat tiga besar lembaga-lembaga ekonomi internasional, World Trade Organization (WTO), Bank Dunia (WB), dan Dana Moneter Internasional (IMF) menyebabkan arus ekonomi dunia menjadi mudah dipolitisasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun hal ini sudah diantisispasi oleh hadirnya lembaga internasional yang menfokuskan diri pada masalah ekonomi (WEF) dan sosial (WSF) rakyat global.

Menurut Manfred B. Steger, lima klaim utama globalisasi yang dikritisi oleh Steger didapat dari berbagai pernyataan, pidato dan tulisan para pendukung globalisme yang berpengaruh. Adapun lima klaim utama globalisasi tersebut adalah:

Pertama, bahwa globalisasi adalah liberalisasi dan integrasi pasar. Kedua, globalisasi adalah sesuatu yang tak terelakkan dan tak berbalik. Ketiga, tak seorangpun memegang kendali atas globalisasi. Keempat, gobalisasi menguntungkan semua orang. Kelima, globalisasi meningkatkan penyebaran demokrasi di seluruh dunia.[7]

Menurut hemat saya, definisi di atas menyoroti secara sistematis mengenai hubungan negara dengan pasar. Perdebatan antara kaum Realis (Kepentingan nasional Negara) dan kaum Marxis (mekanisme pasar bebas). Term utama yang dipakai adalah penghargaan dan perlindungan kebebasan individu dalam masyarakat demokratis mampu mendorong terwujudnya fungsi pasar bebas.

Kaum globalis tidak menghendaki pemerintah ikut campur tangan dalam ruang privat pasar. Mereka menuntut liberalisasi pasar yakni deregulasi perekonomian nasional. Tindakan ini tidak hanya akan memunculkan pasar global yang terintegrasi namun juga akan melahirkan kebebasan politik yang lebih besar bagi semua warga dunia.

Globalisasi merefleksikan penyebaran kekuatan pasar yang tidak bisa dibendung yang dikendalikan oleh inovasi teknologi dan menjadikan integrasi global perekonomian nasional menjadi tidak terelakkan. Pemerintah, partai politik, dan gerakan sosial tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan dengan ketakterelakkan globalisasi tersebut. Hal ini membawa konsekuensi bahwa negara dan sistem antar negara harus bekerja untuk menjamin kinerja logika pasar. Masyarakat tidak bisa memegang kendali atas globalisasi. Globalisasi dipegang oleh pasar dan teknologi.

Memang manusia dapat mempercepat atau memperlambat globalisasi namun sebenarnya yang memainkan peran kendali adalah tangan gaib pasar yang selalu menerapkan kebijaksanaannya yang superior. Klaim ini didasarkan pada ideologi bahwa globalisasi yang tertuang dalam perdagangan bebas dan pasar terbuka memberikan prospek terbaik bagi penciptaan lapangan kerja, merangsang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan standart hidup bagi masyarakat di seluruh dunia. Keuntungan globalisasi akan menyebar ke seluruh penjuru dunia dan ke seluruh sektor masyarakat.

Klaim ini didasarkan pada wacana publik yang menyamakan antara pasar bebas dan demokrasi. Strategi yang sering dibuat oleh kaum neoliberal untuk menarik dukungan massa adalah pendiskreditan tradisionalisme dan sosialisme. Para pendukung globalisasi sangat menekankan korelasi antara tingkat perkembangan ekonomi suatu negara dengan keberhasilan demokrasi.

Memang korelasi yang terjadi tidak dapat ditangkap secara langsung namun tingkat perkembangan ekonomi yang dihasilkan globalisasi memberikan situasi yang kondusif bagi terciptanya masyarakat sipil dan kelas menengah yang kuat. Kelas menengah yang kuat inilah yang akan mendorong terciptanya system demokrasi di berbagai negara. Namun, hingga hari ini proses demokratisasi system politik di berbagai Negara menjadi semakin tidak jelas, bahkan lebih banyak menimbulkan ketidakadilan politik di berbagai Negara. Hal ini di lihat dari semakain banyaknya arus kontra dari kalangan masyarakat menengah ke bawah yang merasa dirugikan oleh hadirnya system politik demokrasi yang tidak layak di negaranya.

(5)Globalisasi dalam konteks Feminisme. Globalisasi dalam konteks Feminisme menurut David Harvey adalah kondisi dimana antara laki-laki dan wanita menjadi tidak terbatas statusnya dalam kehidupan ekonomi.

David Harveyadalah satu di antara teoritisi yang paling terhormat dan termahir dalam mengakji teori-teori Marxis pada generasinya. Selama lebih dari tiga dekade ia telah menerbitkan karya-karya besar wawasan dan orisinalitas yang telah menantang dan mengubah intelektual-politik dominan kerangka pengertian dalam studi perkotaan, geografi, sosiologi dan seterusnya. Dia tetap menjadi salah satu paling tajam kritikus kontemporer kapitalisme global dan dampaknya, berikut teorinya yang berhubungan dengan Gender:

I want to add that in the present moment of globalization, women are being made to serve as models for the more generally feminized, virtual workers demanded by contemporary globalized capitalism and flexible accumulation. That is to say, as women have been increasingly drawn into the wage- labour force worldwide, men have been increasingly forced to work under conditions which were formerly only enforced for women – conditions which include the increasing flexiblization of labour, part- time work, the absence of job ladders, etc….

lalu ia juga menambhakan:

…then, I would like to suggest that it is perhaps women’s structural position as differently and more complexly connected to the market and barred from it that may have allowed women theorists to notice more easily some of the links with non- market contexts in the context of capitalist reproduction and accumulation, whether or not they were interested in accounting for women’s roles in the social division of labour. This has some signifi cance for understanding contemporary globalization.[8]

Menurut hemat Saya, definisi yang telah dikemukakan oleh David Harvey di atas mengkaji gender secara spesifik tentang kondisi kaum perempuan di era globalisasi yang statusnya menjadi semakain umum feminin, dalam hal ini adalah model ‘virtual’, yaitu kondisi dimana antara laki-laki dan wanita menjadi tidak terbatas statusnya dalam kehidupan ekonomi, terutama dalam mencari pekerjaan, dalam hal ini adalah  mencakup peningkatan fleksiblitas kerja, kerja paruh waktu, termasuk tidak adanya pekerjaan yang lowong. Kemudian, bahwa saat ini kaum wanita menjadi semakin layak untuk dipekerjakan di pasar bebas sesuai dengan kebutuhan pekerja.

Hal ini mungkin saja lebih sering terjadi karena didukung oleh status wanita yang secara harfiah memiliki soft power dalam menarik daya beli konsumen di pasaran yang porsinya tentu lebih besar. Hal ini tentunya tidak terlepas juga dari posisi struktural perempuan di kehidupan sosial yang lebih agresif menarik massa untuk melakukan kegiatan ekonomi secara berkelanjutan. Posisi kaum wanita lebih didukung oleh banyaknya variasi pasar kerja global yang membutuhkan tenaga kerja wanita dibanding pria, memang sangat berbeda dan lebih kompleks bila masalah ini dikaitkan dengan pasang-surutnya kondisi pasar yang secara terus-menerus terhubung ke pasar internasional.

Sebagai konsekuensinya, masalah gender hubungannya dengan kaum perempuan adalah sebuah permasalahan yang cukup komplek, karena ia ikut melibatkan aktor feminisme dalam studi Ilmu Hubungan Internasional. Sehingga, butuh waktu yang cukup lama dan signifikan untuk memahami kajian gender dalam globalisasi kontemporer yang menjadi lebih diminati oleh kaum akademisi.

(6)Globalisasi dalam konteks HAM dan Lingkungan Hidup. Globalisasi dalam konteks HAM dan Lingkungan Hidup, Ray Kiely, berpendapat bahwa:

Although globalization is sometimes associated with the rise of a cosmopolitan, universal human rights regime, this has not led to anything like a global consensus around human rights. This is partly because of the power of the critiques of universal rights (though, as we will see, some of these are problematic), but also because of the diffi culty of finding an effective enforcer of global human rights, which again brings us back to the question of US hegemony in the global order.[9]

Dalam pandangan ini, globalisasi menfokuskan diri untuk menjelaskan perkembangan perkembangan manusia beserta hak dan martabatnya di bumi. Alasan pertama adalah globalisasi tidak serta-merta mampu menjadikan dirinya sendiri ada tetapi lebih pada campur tangan kekuatan-kekuatan yang ada di baliknya, yaitu kekuatan sosial politik atau institusi  pemerintah maupun organisasi-organisasi yang telah dikuasai oleh Multinational Corporasion (MNCs) maupun Transnational Corporasion (TNCs). Dalam hal ini adalah memicu lahirnya teori hegemoni, dimana satu kekuatan yang akan mengendalikan semuanay, baik ekonomi, politiki, maupaun budaya masyarakat dunia ke dalam sebuah aturan yang menyatu.

Fakta membuktikan akibat adanya globalisasi perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs) menjadi lebih bebas dalam membuka cabangnya di berbagai negara. Sehingga, produk-produk yang biasanya hanya ditemukan di satu atau beberapa negara kini merambah ke negara-negara lain di seluruh dunia. Keberadaan berbagai MNC-MNC tersebut bagi kaum liberalis dinilai sangat menguntungkan baik semua pihak. Argumen kedua merupakan argumen yang historis dan sosial. Argumen ini menggaburkan peran begitu banyak aktor dan begitu banyak negara yang mencoba mengintervensi dan mempertajam gerak modal. Selain itu sulitnya menemukan penegak yang efektif global hak asasi manusia, yang sekali lagi membawa kita kembali ke pertanyaan tentang hegemoni Amerika Serikat dalam tatanan global.

Dari perspektif sejarah itu terlihat bahwa peran negara dalam proses terjadinya globalisasi tidak bisa diabaikan. Peran negara sekarang pun tetap ada dalam penciptaan tata ekonomi dunia melalui forum-forum yang dibentuknya seperti forum negara-negara maju atau G7 maupun MEE yang masing-masing mewakili dari kepentingan MNCs dan TNCs yang memberikan kontribusi besar dalam pendapatan negaranya. Di sinilah lahirnya hegemoni secara perlahan-lahan di negara kapitalis.

Selanjutnya, tekanan dari negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang dan dunia ketiga sangat ampuh untuk segera merealisasikan produksi MNCs dan TNCs dari negara-negara maju. Jadi penggerak utama dari globalisasi adalah negara-negara maju dan kelas-kelas dominan dalam negara tersebut yaitu kaum kapitalis yang terwujud dalam MNCs dan TNCs yang menyatu membentuk sebuah tatananan ekonomi yang hegemonik. Hal ini pula lah yang mendorong terciptanya kekuatan ekonomi dan politik yang memusat di Amerika Serikat atas kuasa perusahaan-perusahaan kapitalnya.

(7)Globalisasi  dalam konteks Pembangunan. Globalisasi  dalam konteks Pembangunan, menurut Andreas Bieler, bahwa:

Globalization is best understood to denote a multicentric, multiscalar, multitemporal, multiform, and multicausal process whose scales are no longer in a neat hierarchy but are co-existing and interpenetrating in a tangled and confused manner. As a consequence, globalization is multicausal because it results from a complex, contingent interaction of many different causal processes the complex, emergent product of many different forces operating on many scales. In sum, the global economy is the fast economy that privileges the executive over the legislature and the judiciary, finance over industrial capital, consumption over long-term investment.[10]

Menurut hemat saya, definisi di atas menjelaskan banyak hal tentang keanekaragaman dimensi kehidupan manusia hubungannya dengan pembangunan, baik pembangunan nilai dan sumber daya manusia maupun pembangunan sarana fisik non-manusia. Peningkatan pembangunan yang saat ini menjadi fokus utama negara-negara maju dan berkembang adalah sebuah peningkatan pembangunan yang lebih focus pada aspek material non-manusia.

Hal ini dapat dilihat dari semakin ditingkatkan brang-barang complement manusia untuk menunjang aktivitas hidup melalui berbagai dimensi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Proses pembangunan yang porsinya membutuhkan waktu yang cukup lama, tentu faktanya di lapangan akan memakan banyak waktu dan tenaga dalam hal pencapaian pembangunana yang berskala panjang.

Proses-proses yang pada umumnya tersirat dalam setiap pembangnana biasanya mencakup beberapa dimensi dan instrument dalam hal penilaian pembangunan yang lebih baik, yaitu: dimensi multi-sentrik, multi-skalar, multi-temporal, multi-bentuk, and multi-sebab-akibat. Kelima dimensi ini dalam prosesnya tentu akan saling mempengaruhi satu sama lainnya guna memenuhi target pembangunan yang telah dicanangkan sebelumnya.

Menurut Robert Paul Resch dalam bukunya, menjelaskan tentang efek Globalisasi dalam pembangauan di suatu negara, yaitu:

As daunting as this process of globalization seems to us now, the final outcome of capitalism’s multinational restructuring will be to put democratic socialism back on the table internationally, once again, but this time at a much higher level of socio-economic development and integration. The development of capitalism is, after all, the development of the conditions of the possibility for socialism: “communism is not a state of affairs which is to be established, an ideal to which reality [will] have to adjust itself,” it is rather “the real movement which abolishes the present state of things” (Marx and Engels 1978, 162).[11]

Menurut hemat Saya, dalam definisi di atas melihat globalisasi dari sudut pandang pembangunan berskala panjang dan berkesinambungan. Pembangunan yang dimaksud di sini adalah bukan hanya terletak pada bagaimana manusia mengembangakan kehidupan ekonominya, tetapi juga dalam hal meningkatakan kehidupan sosial yang nyata. Mengingat bahwa manusia hidup tidak bisa terpisah dari komunitas lainnya, ia adalah makluk yang terbatas yang sangat memerlukan bantuan manusia lainnya.

Dalam definisi di atas dijelakan pula tentang pembangunana ekonomi dan pembanguan struktur politik dalam skala internasional. Dalam hal pembangunan ekonomi, misalnya, di sini lebih menekankan pada restrukturisasi kapitalisme multinasional yang lebih menfokuskan diri pada perluasan ekonomi global. Kemudian dalam hal pembangunan struktur politik, di sini menekankan pada perluasan politik sosialisme demokratis yang pada abad ini kembali hadir dan bertempur di atas meja-internasional.

Namun, kali ini pembangunan tersebut lebih menfokuskan diri pada peningkatan kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi yang pada kenyataannya lebih tinggi daripada pembangunan lainnya. Pembangunana sosial-ekonomi dan integrasi adalah sebuah hal yang menjadi focus utama dalam definisi ini. Fokus utamanya adalah bagaimana mengurusi perkembangan ekonomi kapitalisme yang semakin menyengsarakan rakyat kecil di mata internasional.

Kemudian, setelah semua pembangunan ekonomi dan social tercapai, maka porsi untuk perkembangan politik akan dilanjutkan pembangunannya, dan selanjutnya akan dikondisikan kemungkinannya untuk kaum atau para penganut sosialisme yang berpaham komuni

Catatan kaki:


[1] David Graeber, 2004, Fragments of an Anarchist Anthropology, Chicago: Prickly Paradigm Press, South University Avenue, Hal 78-79.

[2] Robert Sinnerbrink, 2006, Critique Today; Social and Critical Theory, A Critical Horizons Book Series, Volume 3, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, Hal 131.

[3] Ray Kiely, 2005, Empire in the Age of Globalisation US Hegemony and Neoliberal Disorder, London: Pluto Press, Hal 36.

[4]ISEAS (Institut of Southeast Asian Studies), Jurnal Tentang ASEAN Economic Buletin, 2007, Think ASEAN! Rethingking Marketing Toward ASEAN Community 2015, Singapure: ISEAS, Cross Ref, Hal 279.

[5] Ray Kiely, 2005, “Empire in the Age of Globalisation US Hegemony and Neoliberal Disorder, London: Pluto Press, Hal 25.

[6] Antony Anghie, 2004, Imperialism, Sovereignty and the Making of International Law, New York: Cambridge University Press, Hal 245.

[7] Manfred B. Steger, 2005, Globalisme, Bangkitnya Ideologi PasarYogyakarta: Lafadl Pustaka. Hal x.

[8] David Harvey, 2006,A Critical Reader, United Kingdom: Blackwell Publishing, Hal 178-179.

[9] Ray Kiely, 2005, Empire in the Age of Globalisation US Hegemony and Neoliberal Disorder, London: Pluto Press, Hal 129

[10] Andreas Bieler, 2006, Global Restructuring, State, Capital and Labour; Contesting Neo-Gramscian Perspectives, New York: Palgrave Macmillan, hal 47.

[11] Robert Paul Resch, 1992, Althusser and the Renewal of Marxist Social Theory, California: University of California Press, Hal 16.

Yogyakarta, 30 November 2013 @16.30 WIB. 
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."