1

Jepang dan Visi Perang Dunia III

Fenomena Perang Dunai I dan II menunjukkan bahwa bom atom adalah senjata paling mematikan bagi perkembangan politik internasional di kala itu, dimana Jepang menjadi korban geopolitik dengan hancurnya kota Hirosima dan Nagasaki oleh senjata tersebut. Ini adalah fenomena yang menarik untuk dikaji.

Setelah Jepang mengaku menyerah kepada sekutu pada PD II karena dijatuhi bom atom oleh Amerika. Bisa dilihat dari sejak itu sampai sekarang Jepang terkesan tunduk dan pada setiap perintah Amerika. Ini benar karena Amerika memiliki kontrak militer tersembunyi dengan Jepang sebagai bahasa taktik geopolitik tingkat tinggi kedua negara. Pasca kejatuhan Bom Atom Hirosima dan Nagasaki, maka perlahan Jepang melakukan pembenahan dengan menggelar “geopolitik isolasi penuh” dengan bantuan Amerika Serikat.

Politik isolasi ini dilakukan dengan melaksanakan pembangunan di tiga bidang utama, yaitu Keamanan, pendidikan, infrastruktur. Keberhasilan politik isolasi ini didukung oleh salah satunya karena Jepang memiliki latar belakang sejarah yang kokoh dan disiplin, maka waktu tidak menjadi hambatan untuk melaksanakan tiga program ini. Selain itu, karena Jepang adalah satu negara pada zaman PD II yang memiliki berperadapan tertinggi pertama di Asia, Jepang juga yang menginvasi Cina di kala itu. Jepang bangkit bersama Jerman dan Italia sebagai bangsa paling mematikan menjelang pecahnya Perang dunia II, dan menjadi negara terkuat di Asia sebagai aliansi kekuatan militer jarak jauh.

Apakah bangsa yang dulu sehebat itu tunduk selamanya pada sekutu setelah PD II berahir? Mungkinkah tidak ada dendam sedikit pun yang menyala di hati para pemuda Jepang dan pasukan bela diri Jepang atas sekutu? Jikapun ada, apakah secerbis nyala api dendam itu akan menjadi lautan api nasionalisme yg membakar hati pemerintah Jepang untuk merealisasikan dendam yang selama ini terpendam, suatu saat? Mengingat ratusan ribu leluhurnya telah dibantai sekutu dg bom atom hanya dalam beberapa menit saja.

Perubahan struktur politik dan keamanan dunia ke depan akan mendorong Jepang melakukan percepatan kekuatan negara. Pertumbuhan Geopolitik Jepang pada periode Pra Perang Dunia III menjadi visi pembangunan militer Jepang. Jepang bukanlah negara jika ia tidak memiliki dendam, sama dengan sifat manusia di bumi akan disebut manusia jika memiliki dendam. Karena dengan dendam manusia akan lebih produktif dan fokus pada tujuannya. Jepang bersama Jerman, juga Italia akan bangkit kedua kalinya sebagai negara kecuali Jerman untuk ketiga kalinya sebagai “aliansi pemangsa aliansi” dari negara-negara status quo, ini juga didukung oleh fakta sejarah dalam catatan Morgenthau.

Ini menunjukkan bahwa ketiga negara ini memiliki visi untuk merealisasikan dendam yang selama ini terpendam. Menjelang munculnya peradaban baru melalui kebangkitan Bangsa Horizontal untuk membentuk Daerah Horizontal Dunia yang dipegang oleh Tiongkok, Rusia, Indonesia, India, dan Mongolia (Bar-Bar) akan bangkit kembali di Bumi. Kelompok negara ini dalam analisis saya sebagai negara-negara calon pemegang Status Quo Keamanan Dunia. Inilah “Pakta Asiana” yang akan tergenapi pada Pasca Perang Dunia III.

Perang Dunia III sudah dirancang dengan baik oleh para ahli Geopolitik dan Keamanan Dunia, dan perang nuklir akan segera berkobar. Dalam beberapa dekade ke depan, diproyeksi akan muncul calon kekuatan dunia baru yang terikat dalam rumpun Orthodox dunia yang terdiri dari Indonesia bersama-sama dengan China, Rusia, India, dan Mongolia. 

Selain itu, munculnya posisi dan peran baru Indonesia dalam jajaran negara-negara yang diproyeksikan dalam beberapa dekade ke depan akan tergabung dalam barisan TRIIM yaituTiongkok, Rusia, Indonesia, India, dan Mongolia dan negara-negara BRICS yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kemunculan kekuatan baru ini akan menambah ketegangan dunia menjelang pecahnya Perang Dunia III.

Dengan bantuan analisa yang ilmiah, setelah mengkaji generasi peradaban 7 abad ke belakang, maka visi meletusnya Perang Dunia III akan melibatkan Jepang, Jerman, dan Italia untuk kesekian kalinya. Bersambung di ulasan berikutnya.

Yogyakarta, Indonesia (Asia Tenggara), 24 Januari 2014 @19.23 WIB
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto