12

Matematika adalah Pondasi Arsitektural Bumi Universal Manusia

Mewakili pandangan saya tentang polemik ini dapat Anda baca tulisan saya yang sudah terbit di sejumlah Media Online Nasional di antaranya di situs Merdeka, Berita Kaskus Indonesia, Berita Yahoo IndonesiaMedia Islam Indonesia dan di Warta Ekonomi Nasional yang terbit pada Senin, 22 September 2014 12:36. Tulisan saya mendapat banyak komentar, terutama di Yahoo Indonesia dan Media Merdeka. “Matematika adalah pondasi dunia, karenanya dunia adalah Himpunan Arsitektur dan Spektrum Matematika”. Aksioma di atas perlu untuk didalami sebab semua hal yang menopang kehidupan manusia adalah berasal dari alam yang eksak dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu manusia diberi akal untuk memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan Psikologi yang berkaitan dengan rasa, Materi yang berkaitan dengan eksak, maupun Intuisi yang berkaitan dengan intelektual. Dan, kali ini Matematika memiliki porsi penting dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.

Matematika adalah ilmu eksak dan penting untuk kemajuan umat manusia ke depan. Matematika dapat menjelaskan dirinya sendiri dan menjelaskan ilmu-ilmu lainnya di seluruh alam semesta. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengetahui jari-jari bumi jika bukan karena mempelajari Matematika, bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui ledakan nuklir yang begitu dahsyat jika tidak karena persamaan Matematika nya yang dapat dihitung secara konstan oleh para Ilmuwan. Karena Ilmuwan juga adalah seorang manusia yang sebelumnya memulai belajar nya dari nol dari bayi mungil yang tidak tahu membaca, menghitung, dan menganalisis hingga besar menjadi seorang Ilmuwan di bidangnya masing-masing.

Melalui skema pemikiran di atas, saya ingin menegaskan bahwa “Tidak akan lahir Ilmuwan Matematika sekelas Phytagoras jika tidak belajar Ilmu Matematika dari n0l, dan tidak ada Ilmuwan Fisika sekelas Albert Einstein jika tidak mempelajari Ilmu Matematika dahulu dari nol. Bagaimana dengan Anda? Orang-orang di dekat Anda? Pasangan Anda? atau mungkin generasi dari anak-anak yang Anda lahirkan ke depan?

Terkait pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan menghasilkan beberapa aksioma di atas, saya ingin mengajak teman-teman dan masyarakat Indonesia bahwa betapa pentingnya Ilmu Matematika bagi manusia, bagi generasi mendatang, termasuk anak-anak kita ke depan. Terkait tulisan yang dimuat di media online Merdeka.com, dengan rincian:

(1).Judul: “PR matematika anak SD heboh di FB, yang benar proses atau hasil?” dan “PR Matematika anak kelas 2 SD bikin heboh Facebook”
(3).Tertanggal Minggu, 21 September 2014 21:39 dan Senin, 22 September 2014 00:01.
(4).Penulis/Reporter: Saudara Didi Syafirdi.
Pertama saya ingin berterima kasih kepada media online Merdeka.com sudah menebitkan tulisan di atas. Tulisan ini sangat baik dan motivatif untuk masyarakat Indonesia. Dan juga kontroversial. Mari kita dalami, ada beberapa pertanyaan besar, sebagai berikut:
(1)Kritik buat anak bangsa sebagai objek terdidik. Bagaimana jika anak seusia kelas 2 SD yang bernama Habibi di atas menimpa orang-orang terdekat Anda bahkan keluarga Anda atau teman Anda sendiri? Sebagai putra bangsa, saya tentu merasa sangat terpukul atas peristiwa ini. Terlepas dari benar atau tidaknya jawaban yang diberikan oleh anak tersebut, namun saya pikir salah satu dari 3 sifat Matematika Murni Asosiatif, Distributif, dan Komutatif. Dan saya pikir jawaban anak tersebut jauh lebih baik dibanding yang dikoreksi oleh gurunya. Bahkan Wikipedia pun membenarkan jawaban Habibi, cek di sini. Bagaimana mungkin seorang anak sedini itu mendapat perlakuan yang secara non-materi dapat mengikis semangat belajarnya. Memang kita mesti mampu bersikap bijaksana kepada manusia manapun, namun berlembut-lembutlah dengan anak-anak yang sedang dalam usia pertumbuhan. Jika saya keliru dengan sudut pandang ini hanya karena beberapa argumen yag sudah disampaikan oleh teman-teman bahwa anaknya harus dikasih pelajaran biar besar tidak terbiasa salah. Saya pikir ini ada benarnya, namun yang paling penting adalah memberikan evaluasi dengan metode yang membangun buat psikologi dan perkembangan intelektual anak tersebut. langkah ini jauh lebih baik. Saya sangat yakin, anak ini bersama keluarganya merasa terpukul dengan peristiwa yang menimpa Habibi.
selanjutnya,
(2).Kritik buat para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa sebagai subjek pendidik. Ada hal fundamental yang mesti diperhatikan oleh para pendidik di negeri ini. Anda-anda sebagai guru dengan gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” sudah mendapat kepercayaan sepenuhnya dari para orang tua di negeri ini. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka dengan harapan bisa memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih baik dari orang tuanya. pesan saya, berhati-hatilah dan carilah metode yang paling efektif ketika memberi evaluasi kepada anak seusia Habibi. Saya menyampaikan permohonan maaf jika dalam waktu yang sudah berjalan beberapa hari ini. Dan, mungkin peristiwa ini sudah direspon oleh kedua belah pihak baik siswa, keluarga siswa, dan guru pengajarnya di sekolah. Terlepas dari anak tersebut yang sedikit perlu belajar lagi atau pendidiknya yang kurang tanggap dengan perkembangan Matematika siswanya, saya pikir ini adalah masalah besar yang akan menentukan kualitas generasi manusia Indonesia ke depan. Manusia yang sudah mendapatkan pendidikan hari ini mestilah menjadi penentu bagi sejarah bangsa yang kesemuanya akan bergantung pada kualitas anak didik hari ini.
terakhir,
(3).Kritik buat seluruh manusia Indonesia sebagai generasi bangsa. Apa yang sedang terjadi pada anak seusia Habibi adalah pelajaran besar bagi para penggiat ilmu Matematika dan terkhusus bagi para Olimpiadian Matematika di seluruh Indonesia. Mungkin ini terkesan sepele, namun ini adalah persoalan soft-skill anak bangsa Indonesia. Yah, ini menyangkut masa depan anak-anak Indonesia terkait perkembangan Ilmu Matematika yang mereka tekuni termasuk saya yang sudah berkecimpung dengan Matematika sejak 24 tahun silam. Beberapa pertimbangan khusus ini jika tidak dilihat secara mendalam, jelas akan merugikan perkembangan dan kemampuan intelektual seseorang, tidak hanya bagi Habibi, tetapi juga bagi anak-anak lain yang baru akan, sedang, dan yang sudah menempuh pendidikan dasar seusia nya.
Untuk persoalan ini, diluar yang berkaitan dengan kapasitas pendidikan yang diemban anak tersebut, bagaimanapun juga anak-anak punya hak dasar untuk memperoleh pendidikan yang layak yang dibarengi dengan metode yang layak pula. Saya pikir tidak hanya pihak institusi KOMNAS HAM Anak-Anak, Asosiasi Pemerhati Ilmu Matematika Se-Indonesia, tetapi juga para pendidik termasuk orang tua siswa perlu mengevaluasi peristiwa di atas. Mohon untuk ditindaklanjuti. Terima kasih. Salam kreatifitas.
note: Tulisan ini saya tulis dalam posisi saya sebagai Matematikawan dan Pemerhati Ilmu Matematika untuk
menanggapi polemik PR Matematika Anak Kelas 2 SD di media Merdeka.com.
Yogyakarta, Indonesia (Asia Tenggara).
Adi Rio Arianto
Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "MHP — Strategi. Pertahanan. Keamanan"