1
Indonesia: Pusat Maritim dan Geopolitik Global

Indonesia: Pusat Maritim dan Geopolitik Global

Dalam pemikiran saya, abad ini, Indonesia adalah pemegang status quo “poros maritim dunia” sekaligus “poros geopolitik dan keamanan Dunia.” Bagaimana tidak, dampak yang muncul akibat perlombaan untuk meningkatkan dan memperkuat keamanan laut di Asia Pasifik telah mampu mengundang reaksi geopolitik bagi negara-negara yang berada di sekitar laut Indonesia. Status quo kedaulatan perairan Indonesia yang tertuang dalam doktrin Deklarasi Djuanda  turut mempengaruhi pedoman bersama dalam memahami implementasi hukum laut internasional. Benar adanya, bahwa doktrin ini nampaknya mulai digali kembali setelah isu tentang “poros maritim dunia” hangat diperbincangkan di berbagai forum nasional dan internasional menjelang mulai berjalannya kepemimpinan Indonesia yang baru tahun 2014. Padahal istilah ini sudah lahir berabad-abad yang lalu yang juga menjadi telaah khusus literatur saya sejak 7 tahun silam. Oleh karena itu, saya terpanggil untuk membahas dan membaginya lebih dalam terkait istilah poros maritim dunia yang berakibat pada pembentukan “poros geopolitik dan keamanan Dunia.”

Hukum laut internasional adalah instrumen dasar dalam mengolah dan menganalisa  bagaimana wilayah laut suatu negara menjadi jauh lebih penting yang berefek pada kekuatan politik negara tersebut di level kawasan. Sebab, bagaimana mungkin wilayah maritim sebuah negara dipandang sebagai poros maritim dunia jika tidak memiliki kekuasaan laut sesempit-sempitnya adalah di internal kawasan. Oleh karena itu, sebebelum jauh membicarakan mengenai status quo Indonesia sebagai poros maritim dunia, ada baiknya membahas bagaimana pandangan situasi geopolitik dan keamanan kawasan di Asia Tenggara dan Asia Pasifik, termasuk wilayah laut bersama —laut ASEAN.

Istilah poros maritim dunia dalam kacamata Hukum Laut Internasional nampaknya akan terus menjadi tema krusial di kalangan akademik dan ilmuwan HI. Sebab pada dasarnya, seluruh ilmuwan akan kembali pada aturan dasar ini ketika mulai membedah tentang wilayah kekuasaan laut atas suatu negara. Demikian halnya dengan wilayah poros maritim dunia. Benarkah isu penguasaan atas laut melegitimasi kekuasaan suatu negara menjadi lebih kuat atas negara lain yang wilayah lautnya lebih sempit.

Prof Hasim Djalal, tokoh Hukum Laut Internasional dalam orasinya pernah menyampaikan betapa pentingnya memahami kedaulatan laut Indonesia, termasuk bagaimana memahami proyeksi laut dan nilai strategisnya. Ia juga menjelaskan dengan baik mengenai prinsip pokok dalam memahami perbatasan negara oleh jalur laut. Ia juga telah mencontohkan keberhasilan negara Tiongkok yang merintis jalur eksplorasi di Lautan Hindia. Pembahan menarik yang disampaikan oleh Prof Djalal adalah terkait “seabed authority” dalam menngolah kedaulatan laut negara-bangsa di seluruh dunia.

Seabed authority merupakan ketentuan-ketentuan yang mengurusi masalah laut, tidak hanya mencakup pelayaran perkapalan untuk tujuan perdagangan dan transportasi melainkan juga untuk menganalisai fungsi laut sebagai bahan eksplorasi dalam menemukan kebutuhan industri negara dari sumber daya laut.

Dalam kasus ini, Tiongkok telah menjadi negara terkuat yang telah mampu mengolah zona laut internasional menjadi wilayah eksplorasi dalam membangun industri nasionalnyaa. Tiongkok telah melakukan penelitian di dasar laut Samudera Hindia di sebelah Timur Negara Afrika. Dalam kegiatan ini, Tiongkok tentu saja telah memiliki visi untuk menjadi negara pertama yang mampu mengolah sumberdaya laut ke dalam kebutuhan industri dalam negeri.

Sejalan dengan pandangan di atas, saya nampaknya memahami kegelisahan yang dialami oleh tokoh ini. Wilayah laut, udara, dan daratan Indonesia yang begitu luas nampaknya memancing negara tetangga untuk memastikan kemampuan Indonesia dalam mengeksplorasi situasi ini. Oleh karena itu membahas poros maritim dunia nampaknya terlalu sempit, sebab Indonesia tidak hanya menjadi poros maritim, tetapi juga sebagai poros Asia Pasifik dan poros geopolitik dan keamanan dunia. Saya bahkan jauh hari telah memikirkan suatu saat Indonesia akan memegang kendali menjadi sebuah benua, yaitu “Benua Indonesia” atau “Benua Nusantara.”

Untuk menjadi poros maritim dunia, setidaknya suatu negara memiliki wilayah laut terluas di kawasan dan dunia. Bagaimana kekuatan kepemilikan laut tersebut dibandingkan dengan sumber daya pemicu keamanan. Sebagaimana mengukur keamanan dan kedaulatan laut sebuah negara, Indonesia nampaknya telah menyanggupi persyaratan ini.

Namun, perlu digaris bawahi, ketika masuk ke dalam ranah kekuatan sumber daya Indonesia dalam mengolah lautnya. “Kekuatan” inilah yang pada akhirnya berujung pada maksud pemikiran inti tulisan saya, yaitu penggunaan wilayah laut untuk tujuan politik dan kekuasaan atas  negara-negara di Asia Tenggara dan Pasifik, singkatnya saya ingin mengetahui sebeberapa bagus Indonesia mengolah situasi ini sebagai arus geopolitik yang kuat bagi posisi Indonesia di level global. Inilah yang saya maksudkan bahwa Indonesia adalah pemegang status quo “poros maritim dunia” sekaligus “poros geopolitik dan keamanan Dunia” hanya saja jika mampu mengolah kekuatan lautnya dengan baik dan efektif bagi kawasan dan penopang laut dunia.

Adapun, pertanyaan yang menyusul kemudian adalah seberapa besar penguatan kemanan laut Indonesia. Seberapa besar kemauan Indonesia dalam membangun branding kedaulatan laut di negara-negara tentangganya. Bagaimana laut Indonesia telah begitu kompleks menjadi komoditas politik lokal, nasional, dan internasional di kawasannya sendiri. Bagaimana laut telah menjadi komoditas ekonomi pariwisata Indonesia, dan bagaimana laut telah menjadi komoditas bagi seluruh negara yang berada dalam kawasan Asia Tenggara meliputi ASEAN dan Pasifik Selatan.

Semua pertanyaan di atas adalah untuk mempertajam jangkauan pemanfaatan sumber daya “maritim” Indonesia di mata dunia. Meskipun saat ini Indonesia masih belum memiliki visi yang jauh mengarungi samudera. Indonesia nampaknya telah menaruh visi yang kuat melihat laut sebagai salah satu komponen pembangun kekuatan nasional Indonesia. Inilah yang yang akan mendorong Indonesia menjadi poros geopolitik dunia, mampu eksplorasi sumber daya laut di zona lautan internasional dan berkuasa atas laut yang dimilikinya.

Pada masa mendatang, kecenderungan laut Indonesia selalu berkaitan dengan kekuatan pertahanan nasional. Sehingga Rancangan Undang-undang kemanan nasional menjadi topik penting dalam membahas kedaulatan laut terkait hukum laut internasional. Diantaranya adalah terkait water security, air security, dan homeland security yang ketiganya masuk dalam ranah geografi yang bersentuhan dengan isu geopolitik dan keamanan regional. Hal ini juga berkisar tentang bagaimana usaha indonesia dalam memperkuat preventif diplomasi dalam mensosialisaikan posisi lautnya. Sehingga menjadi poros maritim dunia perlu juga menjadi poros nelayan dunia.

Pada akhirnya, yang masih menjadi permasalah pokok adalah apakah pemahaman penduduk perbatasan —anggap saja “nelayan” Indonesia dan pemangku lainnya memiliki pemahaman yang sama dengan para ilmuwan dan tokoh yang memahami arti laut dengan baik, atau bahkan sebanding dengan pemahaman Dewan Kelautan dalam memahami nilai-nilai strategis laut di sekitarnya. Ke depan, nampaknya nelayan Indonesia segera menjadi “diplomat maritim” yang sesungguhnya. Ada baiknya membangun poros maritim dunia juga ikut membangun “poros nelayan dunia” dan diplomat maritimnya. Dalam artian, para nelayan ini diikutkan dalam setiap negosiasi kelautan yang bisa secara sederhanya menghubungkan antara pemahaman maritim secara lokal, nasional, dan internasional.

Bagimanapun juga saya sangat yakin wilayah laut Indonesia sangat luas. Laut yang luas ini akan menjadi kekuatan “power” besar Indonesia untuk menopang kelautan dunia. Salah satunya agenda dan cita-cita besar Indonesia adalah menjadi  —”poros maritim dunia yang berakibat pada pembentukan “poros geopolitik dan keamanan Dunia.”  Saya adalah pendukung besar agenda dan cita-cita ini.

Yogyakarta, Indonesia (Asia Tenggara).
Minggu, 16 Oktober 2014 @03.38 WIB.
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto