1
Indonesia, ASEAN, dan Regionalisasi Alutsista Maritim

Indonesia, ASEAN, dan Regionalisasi Alutsista Maritim

Alutsista. Ada korelasi yang sangat signifikan antara kecanggihan alutsista sebuah negara, lokasi negara tersebut di kawasan, dan kekuatan negara tersebut di level regional. Sama halnya dengan Indonesia, dimana kecanggihan alautsista dalam negeri tumbuh berkembang seiring dengan meningkatnya pengaruh percaturan geopolitik kawasan dan prestige Indonesia di level kawasan, Asia tenggara.

Melihat lebih dalam situasi geopolitik di Asia tenggara dan Pasifik, Posisi Indonesia nampaknya diuntungkan dengan adanya posisi status quo laut Indonesia yang secara langsung terhubung satu sama lain. Ini memberi dukungan kepada Indonesia menjadi satu-satunya negara Maritim di Asia tenggara yang wajib meningkatkan alutsista melebihi negara lain di kawasan. Tentu saja karena negara yang memiliki wilayah laut yang luas mestinya memiliki teknologi yang kekuatannya berbanding lurus dengan luas lautnya. Dalam tulisan saya yang terdahulu, saya menyatakan bahwa “laut Indonesia akan berdaulat penuh jika pemanfaatannya dimaksimalkan untuk kepentingan nasional Indonesia, yang tentu saja didukung oleh teknologi alutsista darat, laut, dan udara yang baik.”

Oleh karena itu, penggunaan laut untuk meningkatkan prestige negara di kawasan masih tidak cukup jika tidak didukung oleh teknologi yang memadai. Sehingga, agenda Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu, di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mulai menjabat sejak 27 Oktober 2014 untuk melakukan reformasi Alutsista nasional sudah semestinya kita dukung bersama.

Perimeter dan Postur Keamanan Nasional

Keamanan nasional sebuah negara dapat diukur dengan melihat seberapa kuat prestige sebuah negara terhadap negara lain di kawasannya. Mengacu pada poin ke 1 dan 2 bahwa “lokasi negara tersebut di kawasan, dan kekuatan negara tersebut di level regional,” maka keamanan nasional Indonesia adalah melihat seberapa kuatnya “pengaruh” Indonesia di hadapan negara-negara tentangga di Asia tenggara. Hal tersebut tentu saja mengacu pada kekuatan alutsista Indonesia. Sehingga perimeter kemanan nasional berjalan seiring dengan kemajuan alutsista dalam negeri. Dan, karena Indonesia sedang menggencarkan politik luar negeri “negara Maritim”, maka seluruh faktor-faktor yang mendukung tercapainya kenamanan nasional didasarkan pada seberapa jauh Indonesia mengamankan wilayah maritim nya.

Secara resmi, Indonesia diakui sebagai negara Maritim sejak Deklarasi Djuanda ditandatangi pada tahun 1955. Pengakuan ini sekaligus melegitimasi kekuatan sumber daya laut Indonesia di level regional Asia Tenggara sebagai satu-satunya negara ASEAN yang yang memiliki wilayah laut terluas di Asia tenggara. Tidak hanya itu, secara geopolitik, laut Indonesia telah menempatkan posisi Indonesia jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan negara lain di kawasannya. Untuk itu, mempertajam dengan melakukan reformasi kekuatan alutsista nasional Indonesia sebagai “kekuatan alutsista regional” di Asia Tenggara dan Pasifik sudah seharusnya dilakukan.

Indonesia: Maritimisasi Alutsista Nasional

Saya ingin menekankan, bahwa meningkatkan kekuatan alutsista hanyalah salah satu cara untuk menyelamatkan keamanan nasional Indonesia. Sehingga, itu bukan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai kemananan tersebut. Tetapi yang paling penting adalah bagimana membiasakan alutsista tersebut beroprasi dalam medan Maritim di lingkungan domestik Indonesia. Satu-satunya jalan adalah dengan mebiasakan alutsista tersebut beroprasi di wilayah-wilayah laut strategis Indonesia.

Dalam pemikiran saya, jika sebuah negara sudah cukup kuat secara domestik, maka kekuatan tersebut akan mengalami perluasan ke level regional. Demikian pula kekuatan Maritim Indonesia, mesti kuat dulu di dalam negeri, kemudian memperluas di level kawasan. Sehingga, sebelum kekuatan alutsista maritim Indonesia mencapai level Asia tenggara, ia mesti terlebih dahulu mencapai puncaknya di level maritime nasional. Itulah proses yang saya sebut sebagai “Maritimisasi Alutsista Nasional.”

Indonesia: Regionalisasi Alutsista Maritim

Setidaknya ASEAN memiliki alat perang atau penangkal ancaman yang berbasis regional di kawasan Asia Tenggara. Jika ini terlaksana, maka agenda Indonesia untuk mencapai “poros Maritim Dunia dan bahkan Poros Geopolitik Dunia” akan lebih mudah tercapai. Termasuk membentuk “Forum Maritim ASEAN” di level regional Asia Tenggara yang alutsistanya berbasis pada peningkatakan kemanan kawasan Maritim Dunia. Postur alutsista Indonesia di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik mesti ditata sekali lagi sebelum akhirnya menjadi kekuatan global. Dan hal itu tentu saja menuntut Indonesia untuk lebih berperan besar di ASEAN dan forum lainnya. Saya rasa dukungan pengadaan alutsista dan infrastruktur yang canggih dari Rusia dan Tiongkok akan mampu lebih efektif membawa Indonesia menjadi calon kekuatan global di masa mendatang. Pertanyaan penting adalah apakah agenda Maritimisasi alutsista nasional mampu ditransfer ke level regional Asia Tenggara. Tentu saja, memperkuat Indonesia di level kawasan masih belum cukup meyakinkan jika Indonesia tidak mampu meyakinkan negara-negara tetangga di Asia tenggara.

Dengan demikian, agenda Menteri Pertahanan Indonesia di bawah Pemerintahan Joko Widodo mengenai reformasi alutsista mesti dilakukan secara bertahahap, dimulai dari menentukan “perimeter keamanan nasional”, “maritimisasi alutsista secara internal”, dan akhirnya “maritimisasi alutsista di evel regional Asia Tenggara.” Hal ini sangat penting, mengingat besarnya kemauan Indonesia untuk menjadi kekuatan regional yang disegani di Asia Tenggara sebelum akhirnya menjadi kekuatan global di masa depan.

Adi Rio Arianto | Yogyakarta. Minggu, 01 Februari 2015. Pkl 22.00 malam.

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto