1
Prinsip Multitrack Diplomasi

Prinsip Multitrack Diplomasi

Diplomasi menjadi tren paling krusial sepanjang masa. Munculnya globalisasi yang hampir meniadakan batas-batas wilayah sebuah negara-bangsa menyebabkan berkurangnya praktek diplomasi di kalangan aktor hubungan internasional. Diplomasi dalam dunia hubungan internasional mengalami perkembangan, baik secara politik sekaligus dalam berpolitik, baik itu secara sendiri-sendiri (individu), kelompok (sistem kelompok), maupun secara mendunia (negara-negara). Perjalanan perkembangan diplomasi berkaitan erat dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin berlimpah. Secara harfiah, diplomasi, berasal dari bahasa Yunani “a folded paper or document“[1] , yang berarti “kertas terlipat” atau “dokumen”, adalah seni dan praktek melakukan negosiasi antara perwakilan kelompok atau negara. Biasanya mengacu pada diplomasi internasional, pelaksanaan hubungan internasional  melalui perantaraan diplomat profesional berkaitan dengan isu perdamaian pembuatan, perdagangan, perang, ekonomi, budaya, lingkungan, dan hak asasi manusia.

Barston mendefenisikan diplomasi sebagai “diplomacy is the art and practice of conducting negotiations between representatives of states with regard to issues of peace-making, trade, war, economics, culture, environment, and human rights.[2]” Sedangkan, Louise Diamond, pendiri IMTD, menciptakan istilah “multi-track diplomacy,[3]” untuk menggabungkan semua aspek mediasi dari pekerjaan warga negara untuk pertemuan tingkat atas dari kepala negara. Multi-Track Diplomacy memanfaatkan semua lapisan masyarakat untuk menentukan kebutuhan dan memfasilitasi komunikasi antara semua lapisan masyarakat.  yang dimaksud dengan, multi-track diplomacy adalah cara konseptual untuk melihat proses perdamaian internasional sebagai sebuah sistem kehidupan. Ini terlihat pada kegiatan yang saling berhubungan, individu, lembaga, dan komunitas yang beroperasi bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama: dunia damai.[4]

Sistem multi-track muncul karena adanya peningkatan konflik intra (konflik dalam negara) pada 1990-an yang menegaskan menegaskan bahwa “track one diplomacy” bukanlah metode yang efektif untuk mengamankan kerjasama internasional atau menyelesaikan konflik. Sebaliknya, perlu ada pendekatan yang lebih antarpribadi selain mediasi pemerintah. Untuk itu, mantan diplomat Joseph Montville menciptakan “track diplomacy“, yaitu “track two diplomacy is not a substitute for track one diplomacy. Rather, it is there to assist official actors to manage and resolve conflicts by exploring possible solutions derived from the public view and without the requirements of formal negotiation or bargaining for advantage.”[5] dalam rangka untuk melibatkan warga negara dengan keragaman dan keterampilan dalam proses mediasi.

Duta Besar John McDonald menambahkan lebih lanjut “track” dengan memperluas “jalur dua diplomasi” menjadi empat jalur yang terpisah: profesional resolusi konflik, bisnis, warga negara, dan media. Pada tahun 1991, Dr. Diamond dan Duta McDonald memperluas jumlah “diplomasi track sembilan”. Mereka menambahkan empat tema baru: agama, aktivis, penelitian, pelatihan, dan pendidikan, dan filantropi. Trek dua sampai sembilan  mempersiapkan lingkungan yang akan menyambut perubahan positif yang dilakukan oleh “track-satu” atau pemerintah. Pada saat yang sama, mereka dapat memastikan bahwa keputusan pemerintah yang dilaksanakan dan diterapkan dengan benar. Ini fertilisasi silang dari sektor resmi dan non-pemerintah dari masyarakat memungkinkan terjadi nya perubahan.

Fungsi diplomasi diantaranya adalah untuk memperbaiki hubungan yang sebelumnya kurang baik/buruk, untuk mencegah perang, untuk mengusahakan terjalinnya kerjasama, untuk membangun opini, untuk melaksanakan politik luar negeri suatu negara. “Multi-Track diplomacy is a conceptual way to view the process.”[6] Di lain hal, “That term refers to a conceptual framework we design to reflect the variety of activities that contribute to international peacemaking and peacebuilding.”[7] Dalam usaha menjaga dan menciptakan perdamaian dunia, dikenal cara-cara yang sangat sangat kompleks, diantaranya adalah melalui diplomasi multijalur.

Multi-Track Diplomacy adalah sebuah kerangka konseptual yang dirancang oleh Louise Diamond dan John McDonald untuk merefleksikan keragaman kegiatan yang berkontribusi dalam menciptakan serta membangun perdamaian dumia. Konsep ini merupakan perluasan dari dua jalur diplomasi yang selama ini dikenal, yaitu diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah (government/Track One) serta diplomasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok individu (non-state/non-government actors/Track Two), yang kadang disebut sebagai citizen diplomats.

Keragaman kegiatan di dalam Multi-Track Diplomacy ini terdiri atas sembilan jalur, yaitu:

Track 1 – Government, atau Peacemaking through Diplomacy. This is the world of official diplomacy, policymaking, and peacebuilding as expressed through formal aspects of the governmental process.

Track 2 – Nongovernment/Professional, atau Peacemaking through Conflict Resolution. This is the realm of professional nongovernmental action attempting to analyze, prevent, resolve, and manage international conflicts by non-state actors.

Track 3 – Business, or Peacemaking through Commerce. This is the field of business and its actual and potential effects on peacebuilding through the provision of economic opportunities, international friendship and understanding, informal channels of communication, and support for other peacemaking activities.

Track 4 – Private Citizen, or Peacemaking through Personal Involvement. This includes the various ways that individual citizens become involved in peace and development activities through citizen diplomacy, exchange programs, private voluntary organizations, nongovernmental organizations, and special-interest groups.

Track 5 – Research, Training, and Education, or peacemaking through Learning. This track includes three related worlds: research, as it is connected to university programs, think tanks, and special-interest research centers; training programs that seek to provide training in practitioner skills such as negotiation, mediation, conflict resolution, and third-party facilitation; and education, including kindergarten through PhD programs that cover various aspects of global or cross-cultural studies, peace and world order studies, and conflict analysis, management, and resolution.

Track 6 – Activism, or Peacemaking through Advocacy. This track covers the field of peace and environmental activism on such issues as disarmament, human rights, social and economic justice, and advocacy of special-interest groups regarding specific governmental policies.

Track 7 – Religion, or Peacemaking through Faith in action. This examines the beliefs and peace-oriented actions of spiritual and religious communities and such morality-based movements as pacifism, sanctuary, and nonviolence.

Track 8 – Funding, or Peacemaking through Providing Resources. This refers to the funding community-those foundations and individual philanthropists that provide the financial support for many of the activities undertaken by the other tracks.

Track 9 – Communications and the Media, or Peacemaking through Information. This is the realm of the voice of the people: how public opinion gets shaped and expressed by the media-print, film, video, radio, electronic systems, the arts.[8]

Pada akhirnya, usaha menjaga perdamaian dunia melalui multitrack diplomacy terfokus pada positive peace, yaitu perdamaian jangka panjang yang memiliki dampak positif dalam jangka waktu yang lama (permanen). Dalam level internasional biasanya berupa pe-bangunan ekonomi yang berkesinambungan, tercapainya keadilan sosial, partisipasi politik, dsb. Dalam positive peace, dipahami bahwa penyebab konflik dan perang adalah kemiskinan dan penjajahan. Sedangkan peacemaking sendiri dapat dimengerti sebagai keseluruhan aktivitas yang terdiri dari peacekeeping, peacebuilding, peace research, peace studies, peace education, dan conflict resolution. Di dalamnya memuat konsepsi bahwa sebuah negara mampu berhasil dalam sebuah diplomasi bukan hanya ditentukan oleh diplomasi yang dilakukan aktor government saja, akan tetapi juga aktor-aktor di luar pemerintah yang dapat diberdayakan untuk mendukung diplomasi pada level elit tersebut. Dengan kata lain, diplomasi tidak hanya dilakukan hanya oleh lembaga pemerintah tetapi juga oleh semua segmen dalam masyarakat. Untuk itu, departemen luar negeri menggalang kemitraan dengan seluruh komponen masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri untuk mensukseskan politik luar negeri.

Catatan kaki

[1] Ronald Peter Barston, Modern diplomacy, Pearson Education, 2006, p. 1

[2] Ibid.

[3] Louise Diamond dan John McDonald, 1996, Multi-Track Diplomacy: A System Approach to Peace, West Hartford, CT: Kumarian Press, hal. 1.

[4] Louise Diamond dan John McDonald, 1996, Multi-Track Diplomacy: A System Approach to Peace, West Hartford, CT: Kumarian Press, hal. 1.

[5] J. Montville, 1991, Track Two Diplomacy: The Arrow and the Olive Branch, The Psychodynamics of International Relations, hal. 162-163.

[6] ibid

[7]  Ibid

[8] Opcit, Louise Diamond.

Jakarta, 29 Maret 2016, pkl 00.30 pagi.
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto