1

Soeharto dan Kebijakan Dehorizontalisasi Indonesia

Era Soekarno mendahului Soeharto dan kemajuan pemikiran Horizontalisme bergerak terbalik. Berbagai arus yang berkecenderungan melawan penindasan dan penghisapan kapitalisme––sebagaimana berlangsung selama kurun penjajahan––berusaha mendorong perubahan masyarakat ke bentuk yang baru, sosialisme. Tidak dapat dipungkiri Partai Komunis Indonesia (PKI) mengemban misi ini. PKI dibentuk pada 23 Mei 1920 sebagai polarisasi dan kristalisasi dari arus radikal Sarekat Islam, Vereeniging Van Spoor en Traam Personeel (VSTP), dan Indesche Social Democratische Vereeniging (ISDV). Popularitas PKI dalam mengangkat berbagai kesenjangan sosial, mendapat sambutan hangat dari masyarakat disebabkan pengalaman pahit yang dialami selama penghisapan kapitalisme kolonial yang berlangsung bertahun-tahun. Partai ini bergiat dalam memotivasi kaum buruh untuk membebaskan dirinya dan masyarakat luas dari ketidakadilan sosial yang dikonsolidasi dalam struktur masyarakat kapitalis.

Disisi lain, Presiden Soekarno yang mencoba menjadi pusat dari berbagai kekuatan sosial politik, telah lama––sejak tahun 1920-an––mengakomodir kedalam tiga kekuatan utama yaitu agama-nasionalis-komunis (NASAKOM). Atau dalam rumusan Soekarno tahun 1926 Pengkawinan Nasionalisme, Marxisme dan Islam. Arus anti-imperialisme Amerika––yang sebetulnya tidak berarti anti-kapitalisme, jika dilihat dari program-program perekonomian yang diambil pemerintah waktu itu––membuat kecenderungan semakin kekiri menemukan pendukung yang cukup kuat.

Dalam kesenian, Soekarno memberangus berbagai aktifitas yang mendukung imperialisme Amerika seperti, membungkam dan memenjarakan kelompok Koes bersaudara (Tony Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, dan Jan Mintaraga – belakangan Jan, Vokalis, mengundurkan diri) di awal tahun 1960-an disebabkan merekamempertahankan bentuk penampilan yang nge-Beatles (band rock’nroll Inggris yang hijrah ke Amerika Serikat). Sehingga Soekarno pun dalam posisi tidak menghalangi lagi derasnya arus budaya kiri yang disampaikan ke masyarakat luas oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), maupun Harian Rakjat – salah satu organ resmi PKI.

Lagu-lagu yang lahir di bawah naungan ‘sosialisme ala soekarno’ antara lain adalah “Madju Sukarelawan”, “Nasakom Bersatu”, “RE-SO-PIM”. Kegarangan lirik “Madju Sukarelawan” (karya Sudharnoto) dapat ditengok di bawah ini :

Bulatkan semangat tekad kita barisan sukarelawan Indonesia ke medan tempur, siap bertempur setiap tantangan kita lawan pantang mundur, hey ! awas imperialisme durhaka landjutkanlah tjita kita kuat perkasa ini dadaku, mana dadamu kamu menjerang kita ganjang djadi abu.

Ajolah kawan, buruh tani, pemuda dan angkatan kita madju melawan siap senjata dan serbu ke kandang lawan, pastilah menang, pastilah menang, pasti menang revolusi ’45.

Suatu kegarangan anti imperialisme dan tekad menghancurleburkannya, ditanamkan di dada para pemuda Indonesia. Sedang kecenderungan kearah sosialisme lebih tajam tertuang melalui lagu “RE_SO_PIM” karya Soebroto Ki Atmojo :

Re-so-pim, re-so-pim, revolusi Agustus ’45. Re-so-pim, re-so-pim, sosialisme ditangan negara. Kita tuntut pimpinan yang jujur. Rakyat harus hidup adil makmur. Re-so-pim, re-so-pim, maju, maju, re-so-pim. Kita tuntut murah sandang pangan minggir-minggir pimpinan yang curang re-so-pim, re-so-pim, hidup, hidup re-so-pim.

Kecenderungan semakin ke kiri ini membuat PKI dengan mudah memperkenalkan  ke masyarakat lagu-lagu revolusi Rusia (Oktober 1917) melalui Harian Rakjat (9 Nopember 1962) yang––setelah diterjemahkan––berjudul “Saat Telah Tiba”. Sebuah lagu yang sarat dengan jargon politik revolusioner khas komunis. Seperti, Penyebutan “Surya merah” dan “Pandji merah”:

Kawan saat ini telah tiba/ Kita tjapai merdeka/ masa gelap telah bubar/ surja merah bersinar/ Lihat barisan djutaan/ Madju tegap ke depan/ dengan semangat menjala/ Menjerbu dunia kita/Kawan semua bersatu/ senjum ! dan ajo madju/ Achir derita mendekat/ datang hari kiamat/ Tjampakkanlah penindasan/ Hiduplah kekuatan/ Pantjangkanlah pandji merah/ di dunia kaum pekerdja.

Jargon “merah” kembali digunakan. Dalam bahasa Indonesia kata “merah” mempunyai makna khusus. Misalnya, pada penyebutan bendera kebangsaan “merah-putih”. “Merah” dalam konteks ini diidentikkan dengan “berani” yaitu pengorbanan dengan “darah”. Artinya siap berkorban sampai titik darah penghabisan untuk menghapuskan penindasan dan penghisapan kapitalisme.

Agaknya,  kata ’merah’ dalam konteks komunis, dan ‘merah’ di benak rakyat Indonesia memiliki kemiripan terutama dalam hal perwujudan sikap patriotik : Perjuangan tanpa menyerah. Dan yang dibutuhkan PKI dengan jargon “merah”, nampaknya, sebagai upaya pengembalian sikap politik patriotik masyarakat untuk memiliki semangat juang––sebuah prasyarat dan mengkonsolidasi suasana revolusioner.

Dengan adanya lagu-lagu di atas, mobilisasi massa memang terjadi “Bahaya” semakin ke kiri inilah yang nampaknya mendorong negara “polisi dunia” Amerika Serikat bermain untuk mengubah arah pembangunan Indonesia menjadi layak bagi penanaman modal asing. Terjadinya peristiwa pembunuhan yang bernama gerakan 30 September 1965. Dalam dokumen CIA (Centre Intelligent of Amerika) peristiwa ini disebut sebagai “The Djakarta Operation”. Sebuah revolusi peng-kanan-an Indonesia.

Sejak peristiwa tersebut kekuasaan dilandaskan pada kekuatan rejim militer yang sudah pasti pro-Barat, pro-Kapitalisme––dan tentu saja––pro-Imperialisme. Konsekuensi dari perubahan ini adalah dilakukan pemberangusan segala aktivitas politik masyarakat. Terjadi pula pemberangusan penciptaan, peredaran, pembudayaan, dan pemasyarakatan lagu-lagu politik. Koes Bersaudara tampil kembali dalam Koes Plus (terjadi pergantian personel drumer dari Nono Koeswoyo ke Mury).

Kelompok ini dilepaskan untuk membawa lagu-lagu “kacang-goreng” tentang remaja dan cinta-cengeng. Di bawah kebijakan depolitisasi ini mereka merajai blantika musik. Arus baru dalam musik ini berhasil menina-bobokan masyarakat dari persoalan-persoalan politik.

Diadaptasi dari: Progress, No.1, Jilid 3, 1993
Jakarta, 30 Maret 2016
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto