1

Soekarno dan Refleksi Pemikiran Horizontalisme

Revolusi (1945-1949) merupakan kurun yang begitu kuat membekas dalam sanubari masyarakat Indonesia. Berbagai peristiwa heroisme, sekecil apapun, sulit untuk dilupakan. Selain itu dalam kurun ini juga ditandai kemunculan laskar-laskar, partai-partai dengan ideologi beragam.

Revolusi kemerdekaan menjadi puncak perlawanan yang secara sistematis dilakukan sejak awal abad ini. Pengenyahan terhadap unsur yang dianggap menindas, menghisap rakyat berlangsung sejak lama. Sebagaimana diketahui, perkembangan pemahaman bumi putera terhadap kolonialisasi sejak tahun belasan (1910-an) mengarah pada semua kondisi buruk yang berlangsung dalam masyarakat disebabkan struktur sosial yang kapitalis. Puncak pertama dari gerakan menentang penghisapan kapitalisme terjadi dalam pemberontakan 1926/1927 yang berlangsung di Jawa dan Sumatra.

Banyak kelompok masyarakat yang dibentuk dalam paruh kedua tahun 1940-an, berkencenderungan meng-kiri-kan revolusi. Seperti PSI, Pemuda Sosialis Indonesia (pesindo), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang dibentuk tahun 1947—berjalan efektif sampai tahun 1966, diketuai Njono (putra buruh kereta api). Rata-rata mereka mempunyai organisasi sebagai wahana komunikasi kelompoknya dengan masyarakat. PSI menerbitkan Pembaroean, Pesindo mengeluarkan Pembela Ra’jat. Sedang PKI—dalam tahun 1923 menerbitkan Kiri—sejak awal revolusi menerbitkan Bintang Merah.

Dalam arus kiri ini tidak luput pula Kementerian Pertahanan Staf Pendidikan Politik Tentara Jogjakarta menerbitkan buletin “kiri” Soeloeh Tentara (edisi pertama terbit tahun 1947). Sejak nomor ke-4 (Maret 1947), mungkin dalam rangka menunjukkan terbitan ini kiri, disetiap kover buletin ia cantumkan gambar bintang merah. Artikel-artikel yang dimuat mulai memperkenalkan informasi dunia sosialis seperti “Tentara Wanita Tiongkok” “Beroeang Merah”(no 7, Mei 1947)—yang membahas Rusia dimasa Stalin.

Soeloeh Tentara mengangkat isu-isu antara lain : buruh, tani, tentara rakyat, kelaskaran yang dikaitkan dengan pendidikan politik. Dalam berkembangan berkesenian, tokoh-tokoh seperti W.R  Supratman, Kusbini, Ismail Marzuki, C. Simanjuntak dan sebagainya, juga melahirkan lagu-lagu yang dapat digunakan untuk menyemangati rakyat yang berjuang. Seperti Lagu “Indonesia Raya” karya W.R Supratman; juga karya C. Simanjuntak “Maju Tak Gentar”, “Tanah Air Tumpah Darah”, karya Ismail Marzuki “Halo-Halo Bandung”, “Karangan Bunga dari Selatan”, “Gugur Bunga”, L. Manik “Satu Nusa Satu Bangsa”, maupunkarya kusbini “Bagimu Negeri”.

“Indonesia Raya”—kelahirannya diinspirasi oleh gerakan pemuda dalam paruh akhir tahun 1920-an, dan pertama kali diperdengarkan dalam permainan biola pada konggres Pemuda Indonesia II (27-28 Oktober 1928)—setelah ditinjau kembali lirik dan pengulangan-pengulangannya pada september 1944, akhirnya diterima sebagai lagu wajib kebangsaan dalam tahun 1953. Dalam tahun 1950-an kita dapati, dua jenis lirik lagu politik pertama, lagu-lagu yang bercorak “nasionalisme”—perlawanan maupun sikap anti terhadap unsur-unsur kekuasaan asing (Barat), imperialisme maupun neo-kolonialisme. Kedua, lagu yang mempersoalkan sistem kapitalisme yang masih berlangsung.

Untuk jenis pertama, kita akan jumpai mimpi-mimpi heroisme yang dipaksakan ke rakyat untuk menanamkan semangat bela negara. Sering kali Chauvinis dan Fasist. Kata-kata seperti : “ini dadaku, mana dadamu”, “rebut”, “ganyang”, “gempur”, merupakan kosakata yang lumrah ditemui dalam syair-syair lagu ini. Lagu “Nasakom Bersatu”, karya Soebroto Ki Atmajo, disiapkan dalam rangka menyambut hari sumpah pemuda tahun 1961. Lirik selengkapnya berbunyi :

Atjungkan tindju kita, satu padu (bersatu)/ Bulat semangat kita, Hajo! Terus Madju/Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu/Nasakom satu tjita, sosialismepasti djaja/ 

Fenomena seperti ini, nampaknya, juga pernah berlangsung di Jerman semasa berkuasanya Hitler. Gambaran seperti itu, kadang terjadi dinegeri-negeri selepas mengalami peperangan. Misalnya, Jerman pasca perang dunia II. Perkembangan di Indonesia secara lebih intens, berlangsung setelah diberlakukannyasistem demokrasi terpimpin, dalam tahun 1959. Oleh Soekarno, jargon-jargon Revolusi dihidupkan kembali.

Tujuan Soekarno semata-mata hanyalah dalam rangka: ganyang imperialisme (jargon Soekarno yang paling terkenal adalah : go to hell with your aids/persetan dengan bantuan-bantuanmu). Anti imperialisme inilah yang disalahartikan sebagai dalam rangka menuju masyarakat sosialisme. [lihat pidato Soekarno : Re-So-Pim (Revolusi Indonesia Socialism-Nation Leadership) 17 times 17th August, Department of Information Republic of Indonesia]. Bagaimanapun, nampaknya, imperialisme—Amerika—yang meraja lela dianggap menutup kemungkinan tumbuhnya borjuasi bumiputera yang tangguh.

Sedang untuk jenis kedua, lirik-lirik lagu yang disajikan dalam bentuk penyampaian realitas sosial yang ada. Dalam hal ini termasuk dipersoalkan makna dari kerja, produksi, sistem sosial. Meskipun kadang kala juga tidak lepas dari jargon-jargon politik. Dalam konteks ini, akan didapati lagu yang ditulis oleh orang yang berpaham marxis, sosial demokrasi, maupun penganut ‘sosialisme ala soekarno’ (Marhaenisme). Lagu “gending gendjer-gendjer”––secara ahistoris sering disalahartikan dan dikaitkan dengan peristiwa pembunuhan para jendral dalam peristiwa G30S/PKI 1965––misalnya, lebih merupakan lagu yang berkisah tentang kehidupan masyarakat Indonesia awal tahun 1950-an yang ditandai dengan kemiskinan yang mengenaskan.

Gendjer adalah tanaman sejenis enceng gondok yang tumbuh liar diselokan (rawa-rawa), dikonsomsi rakyat miskin sebagai lauk-pauk. Lagu “Gending Gendjer-Gendjer” sendiri, diciptakan oleh Samsudin Proboharjono dalam tahun 1953––merupakan lagu tentang potret kehidupan masyarakat Banyuwangi (Jawa Timur), sehingga dilantunkan dalam lirik Banyuwangi––hanya berpretensi menyampaikan kenyataan sosial kaum miskin yang mengkonsumsi gendjer. Selengkapnya syair lagu “Gending Gendjer-Gendjer” sebagai berikut :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.  Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ dudjejer-djejer diunting pada didasar/ emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah. 

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ setengah mateng dientas digawe iwak/ setengah mateng dientas digawe iwak/ sega sa piring sambel penjel ndok ngamben/ gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.

Sedangkan lagu yang berusaha mengajak rakyat melakukan perubahan––setelah diberi penjelasan arti kerja yang telah mereka lakukan adalah “Krontjong Buruh-Tani”, karya Sjamsuri :

Dari pagi sampailah petang aku bekerja, Memeras keringat, membanting tulang, sekuat tenaga, segala kerdja di dunia ini tak tertjipta tanpa tenagaku, Namun upah kerdjaku tiada tjukup ‘tuk sekedar makan, kita buruh tidak akan hanya menjerah kepada nasib, Bersatu dan berjuang untuk mentjapai kebahagian, Dini hari diwaktu fadjar sebelum bertjahaja, Tak ku kenal lelah, bangun pergi aku turun ke sawah, Betapa berat aku bergulat dalam lumpur pagi hingga petang, Namun djerih pajahku hanya sedikit ku ikut mengenjam, kita tani haruslah berani mengubah nasib sendiri, Bangkit serta berjuang lenjapkan ketidakadilan.

Lagu ini jelas mengangkat masalah kerja, arti kerja, dan bahwa upah yang didapat kerja sangat tidak memadai (“namun upah kerdjaku tiada tjukup ‘tuk sekedar makan”, dan “Namun djerih pajahku hanja sedikit ku ikut mengejam”). Lagu ini cenderung menyiratkan semangat anti kapitalisme. Sehingga diakhir lagu dinyatakan sikap : “kita tani haruslah berani mengubah nasib sendiri, bangkit serta berdjuang untuk lenjapkan ketidakadilan”.

Diadaptasi dari: Progress, No.1, Jilid 3, 1993
Jakarta, 29 Maret 2016
Adi Rio Arianto
Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto