1
PANAMA PAPERS: Inggris, UE, dan Afirmasi Pound Sterling

PANAMA PAPERS: Inggris, UE, dan Afirmasi Pound Sterling

Panama Papers di satu sisi sebagai tanda bahwa kekuatan mata uang Pound Sterling atau Pound Inggris masih sangat kuat dalam percaturan keuangan global, di sisi lain, menjadi tanda degradasi atas pengaruh Inggris di Uni Eropa (UE).

Inggris bersikukuh untuk tetap menggunakan mata uang Pound-nya di Eropa, padahal negara-negara Eropa yang tergabung dalam organisasi UE telah lama menggunakan mata uang bersama yaitu Euro. Selain itu, mencuaknya isu referendum Inggris tahun 2014 lalu dimana keinginan Inggris untuk keluar dari keanggotaan UE juga menandai kelemahan Inggris di Eropa. Namun, isu ini nampaknya berbanding terbalik dengan kekuatan mata uang Pound Inggris di UE.

Panama Papers nampaknya ingin memberitahu dunia bahwa Inggris masih punya andil kuat atas mata uang Pound-nya terhadap percaturan keuangan dunia, yang secara signifikan merembes pada isu politik regional dan global. Dilansir CNNIndonesia (07/04/16) Panama Papers menunjukkan bahwa Inggris merupakan negara tertinggi ketiga soal jumlah perantara dari Mossack Fonseca yang beroperasi dalam perbatasannya, dengan total 32.682 perantara.

Panama Paper di satu sisi ingin menyapu rata tokoh-tokoh politik lokal yang tidak sejalan agenda koorporat keuangan global, di sisi lain, menjadi efek domino bagi lengsernya pemimpin negara-negara kontra-Barat. Surat kabar Time (8/04/16), mengisyaratkan bahwa Panama Papers punya andil kuat dalam kisruh politik Inggris, dalam situasi ini Panama Papers menjadi berita buruk bagi Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

Bagi Inggris, Panama Papers seolah-olah ingin merubah arah perpolitikan Inggris di Eropa dimana dengan mengguncang kepemimpinan Cameron adalah salah satu tujuan politiknya. Sebelumnya, di bawah Cameron, mencuaknya isu referendum Inggris telah memicu melemahnya kekuatan negara-negara Anglo-Amerika. Hal ini menurut pengamat Amerika menjadi tanda melemahnya kekuatan Euro-Amerika di arena global.

Selain itu, Panama Papers sedang menegaskan bahwa Pound Inggris masih punya andil besar di percaturan regional Eropa dimana negara-negara UE yang terlanjur menggunakan mata uang Euro tetap akan melihat Pound Inggris sebagai salah satu kekuatan finansial UE. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Panama Papers juga menjadi indikasi negatif bagi kelemahan Pound di panggung global dimana Cameron punya porsi besar dalam mengendalikan nilai Pound kaitannya terhadap arsitektur perpolitikan Inggris di Eropa dan di arena global.

Langkah politik Cameron di Inggris nampaknya tersandung oleh menculnya isu referendum Inggris terhadap keanggotaanya di UE. Loyalitas Inggris di UE dibawah kepemimpinana Cameron terus menurun sejak isu referendum muncul pada tahun 2014. Dan, Hal ini tampaknya memicu perpecahan bagi kekuatan Anglo-Amerika di arena global.

Negara-negara UE harus berpikir keras untuk melihat sejauh mana kekuatan UE tanpa Inggris, mengingat jika suatu saat Inggris benar-benar keluar dari UE. Namun, niat Inggris untuk meninggalkan UE  nampaknya masih ragu-ragu setelah adanya intervensi AS agar Inggris tetap di UE.

Kemudian, Panama Papers telah membuka lebar kekuatan Pound Inggris di panggung global. Hal ini menjadi patokan bagi loyalitas Inggris di UE dan  mampu memicu kelemahan Pound Inggris secara global. Panama Papers selanjutnya akan menyudutkan Inggris di Eropa, dan tentu saja hal ini diperparah dengan status Inggris yang berada di luar zona Euro.

Para anggota UE cenderung mendesak Inggris untuk mengambil sikap mengenai keterlibatan Inggris dalam operasi mafia pajak Panama Papers. Mengingat British Virgins Island (BVI) berada dibawah otoritas Inggris yang menjadi salah satu lokasi utama beroperasinya mafia pajak.

Selain itu, pemerintah Inggris menyatakan telah melacak 2 miliar pound dari pengemplang pajak yang memiliki perusahaan offshore sejak 2010. (CNNIndonesia, 10/04/16). Ditambah lagi dengan adanya previlage Pound, Inggris nampaknya punya andil kuat dalam jariangan mafia pajak Panama Papers.

Panama Papers di satu sisi mengafirmasi kemampaun Pound secara global, di sisi lain menjadi sinyal degradasi pengaruh Inggris di Eropa. Seiring dengan meningkatnya kekuatan ekonomi Jerman dan Perancis di Eropa, politik Euro akan terus menekan Inggris atas previlige Pound.

Pada akhirnya, Inggris harus belajar dari Panama Papers. Setidaknya, tugas besar yang akan ditempuh oleh Inggris adalah mengenai masa depan keanggotaannya di UE dan keingininan Inggris untuk melebur Pound ke dalam Euro sebagai mata uang regional negara-negara UE. Sebagai kesimpulan, Panama Papers di satu sisi berusaha membongkar jejak mafia keuangan dan pajak global, di sisi lain menelaah pengaruh kekuatan Pound Inggris dari isu keuangan global ke isu politik regional dan global.

Adi Rio Arianto | Senayan City, 22 April 2016. Pkl 02.30 pagi

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto