1

Struktur 4. Daerah Atlantik Dunia (DAD): Arsitektur Kekuatan Global Abad 14, 15-21, dst.

Daerah Atlantik Dunia (DAD) adalah wilayah teduh dunia sepanjang abad abad 14 hingga awal abad 21 yang dibentuk oleh perdamaian bangsa-bangsa Anglo-Saxon Eropa dan Amerika di seluruh dunia. Ini saya sebut sebagai perdamaian tingkat dunia sebagai “perdamaian Atlantik”. Periode Atlantik adalah suatu masa ketika dunia berada dalam masa Pencerahan (Renaisans, abad 14) hingga akhir “Pasca Perang Dingin” di Eropa, tepatnya tahun 2000.

Evolusi Keamanan Global: Kemerosotan Amerika Serikat Abad 21

Pembentukan arsitektur keamanan global tidak terpisah dari jangkauan kebijakan kekuasaan Amerika Serikat yang telah lama berjalan dibawah program keamanan Pentagon. Pentagon merupakan simbol kekuatan Amerika Serikat di dunia yang secara fundamental telah dianut oleh Amerika Serikat sejak Pidato Washington dideklarasikan. Kebijakan keamanan Amerika Serikat telah mengakar menjadi acuan negara-negara di dunia dalam membangun kebijakan keamanan. Pada akhirnya telah terjadi pergeseran kebijakan keamanan Amerika Serikat sejak memasuki Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, dan Penghujung Abad 20 hingga memasuki abad 21. Arsitektur keamanan global di awal Abad 21 diwarnai oleh 2 peristiwa penting, yaitu Teror Bom WTC 11 September 2001 dan satu setengah dekade kemudian disusul Teror Bom Paris 13 Desember 2015. Kejadian ini menciptakan evolusi kebijakan keamanan Amerika Serikat Abad 21.

Seringkali ketika Amerika Serikat mendengungkan isu tentang agama dan keyakinan maka proyeksinya selalu berkisar pada gejolak zaman dan katalisnya, sedangkan ketika Amerika Serikat melontarkan isu perang dan damai maka proyeksinya menjurus pada politik internasional dan perdagangan, dan ketika isu hak asasi manusia mencuak di permukaan maka proyeksinya tidak lain adalah terkait demokrasi dan kebebasan.

Peminat globalisme tentu paham akan pasang surut gelombang kekuasaan Amerika Serikat. Sebenarnya, secara tidak langsung hal ini sudah diproyeksikan ke dalam agenda global (segel) Amerika Serikat oleh kaum Mason Misionaris Amerika Serikat. Bagi Anda peminat Mason (Fremasonry) tentu paham. Ada sedikit kejanggalan dalam tubuh Pentagon yang tidak bisa dijelaskan lebih jauh. Namun, sedikit dapat diketahui bahwa hari ini Pentagon mulai kehilangan arah akibat dari musnahnya Kalender Maya hingga penghujung tahun 2012.

Anda tentu saja masih ingat dengan peristiwa 11 September, peristiwa runtuhnya Pentagon (Gedung Kembar WTC) 15 tahun silam. Setelah kejadian tersebut Amerika Serikat mulai mengambil alih kekuasaan global melalui keberhasilan konspirasi dari peristiwa tersebut. Ini masih baik di kala itu, karena Amerika Serikat masih memiliki petunjuk yang tegas. Diam-diam Pentagon sengaja dihancurkan untuk mereformasi “Status Quo” dan mengevaluasi “luas jangkauan kekuasaan” Amerika Serikat. Dan, jauh hari itu sudah direncanakan akan selesai pada akhir tahun 2012. Maka di akhir tahun 2012 ini, siapapun patut waspada.

Untuk melegitimasi kekuasaan baru Pentagon, maka Amerika Serikat mencoba mengalihkan dengan jalan mengumpulkan pandangan internasional agar melirik hal tersebut. Nah, untuk mengulang kembali rasa tidak bersalah “innocent of America”, pada September 2012 Amerika Serikat sengaja mengumbar isu yang senada. Yah, “innocent of Moslem” adalah objeknya yang terbesar, di mana akibat dari mencuaknya isu ini, gelombang aksi seluruh umat muslim bergeming. Keberhasilan ini sekaligus memberitahukan kepada dunia internasional bahwa Amerika Serikat siap menopang kembali kekuasaan Pentagon. Amerika Serikat ingin mengatakan kepada mitra dan oposisinya bahwa Pentagon sudah siap kembali pada jalurnya untuk memimpin dunia ke sekian kalinya.

Setidaknya patut digarisbawahi bahwa jalan terbaik untuk mengguncang animo dunia internasional adalah dengan menekan isu identitas keagamaan. Ini adalah tradisi konspirasi barat terhadap dunia timur. Karena tak ada beban yang lebih berat untuk dipikul oleh masyarakat internasional kecuali karena mencuaknya isu identitas keagamaan dibanding perang atau semacamnya. Dengan demikian, konspirasi ini benar adanya tidak lain untuk mengalihkan perhatian dari daratan timur ke daratan barat menjelang kematangan Pentagon.

Setidaknya, ada empat kategori analisis yang dapat diproyeksi untuk menjelaskan fenomena yang mencuak dalam “innocent of Moslem”, yaitu: pertama, terkait arus kekuasaan melalui politik internasional, kedua terkait gelombang bisnis dan perdagangan, ketiga terkait isu perang dan damai, keempat tentang demokrasi dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Struktur kekuasaan melalui politik internasional merupakan tingkatan tertinggi hubungan internasional bagi bangsa-bangsa di dunia. Acap kali sebuah negara mengukur kedaulatannya terhadap negara lain, maka jangkauan politik internasional menjadi standar pengukuran-nya. Pada tahun 2001 konspirasi terbesar untuk melegitimasi gelombang kekuasaan Pentagon berhasil dijalankan. Politik internasional kala itu secara membabi buta menopangkan dirinya pada kekuatan tunggal Amerika Serikat. “Pre-eventive political” pun diciptakan. Sehingga, kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh negara lain jika bertentangan dengannya maka akan dipangkas tanpa kompromi. Hari ini terjadi untuk hal yang sama dengan metode yang berbeda.

Seiring dengan musnahnya petunjuk waktu “old men” dalam kalender Maya, maka kekuatan Pentagon ikut melemah bersamanya. Memang benar Pentagon telah direnovasi sedemikian canggihnya, namun zaman melihatnya berbeda. “Dalam beberapa dekade ke depan kekuasaan tunggal Amerika Serikat patut berpindah tangan ke tempat lain.” Dan tidak satupun yang lebih pantas membuktikannya kalau bukan kekuasaan itu sendiri. Maka, mau tidak mau Amerika Serikat dengan sengaja atau tidak sengaja menguak konspirasi melalui mencuaknya isu ini. Pernyataan ini sebenarnya sangat rumit untuk dianalisis, namun “nubuat” (proyeksi) zaman yang tertuang dalam kitab suci tak pernah menyalahi janjinya.

Selanjutnya, salah satu keterkaitan isu di atas bila dilihat dari segi perdagangan adalah bahwa Amerika Serikat sudah tidak mampu lagi membendung gelombang kekuatan pasar dari saingannya, negeri Tirai Bambu Tiongkok. Sejak ekonomi Tiongkok melesat di tahun 2010 Amerika Serikat mulai kewalahan. Berbagai bentuk mobilisasi dilakukan, dalam hal militer Amerika Serikat sengaja menempatkan basis militer-nya di sekitar laut Indonesia. Anda tahu daya beli paling tinggi negara-negara di dunia adalah Indonesia. Jadi ketika gelombang ekonomi Tiongkok masuk ke Indonesia maka hal tersebut dilihat sebagai ancaman bagi Amerika Serikat. Dan untuk membendung hal tersebut, maka masyarakat internasional dipaksa dikagetkan melalui konspirasi ini agar melihat kembali kekuasaan Pentagon, hal ini guna mengertak ekonomi Tiongkok di Indonesia. Tapi, tentu Tiongkok melihatnya berbeda.

Terkait isu perang dan damai, yah isu ini memiliki kaitan dengan isu di atas. Saingan terbesar Amerika Serikat dalam proyek alutsista adalah Iran di bawah pemerintahan Mahmoud Ahmadinejad. Sejak masa kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad, Amerika Serikat merasa dipaksa dan khawatir dengan status quo kekuasaannya. Kekuatan Iran semakin melaju, Amerika Serikat semakin ketakutan. Untuk membendung hal tersebut, negara Israel sengaja dibangun sebagai pangkalan tidak langsung kekuatan Amerika Serikat di sana. Negara Israel ternyata sengaja dibangun menjadi “indirectly buffer state” (negara penyanggah terpisah) dalam menghalau kekuatan Iran, tentu setelah melindas Palestina. Melalui ini juga Amerika Serikat mencoba melakukan “political detterence” untuk usaha pembendungan.

Mengenai isu demokrasi dan kebijakan luar negeri, dapat dilihat melalui analisis hubungan diplomatik Amerika Serikat di seluruh negara “eksekuator”. Indonesia adalah salah satunya. Dalam kasus ini, dampak yang timbul dari mencuaknya isu ini adalah terbunuhnya Duta Besar Amerika Serikat dan beberapa diplomat-nya di Libya. Hal ini bukanlah bagian dari aksi, melainkan reaksi yang timbul akibat kurang cerdasnya Amerika Serikat dalam monitoring konspirasi, terutama ketika dipantau dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Peristiwa ini sekaligus memberikan bukti berkelanjutan bahwa demokrasi Amerika Serikat mulai memudar di pasaran internasional.

Keempat analisis di atas merupakan alasan dan proyeksi untuk menjelaskan bahwa kekuasaan Pentagon sedang dilanda krisis yang berujung pada gelombang keruntuhan kekuasaan Amerika Serikat di abad 21, yaitu gelombang keruntuhan Pentagon menjelang zaman baru.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Juli 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto