1

Globalinium dan/atau Universalium: Pembangunan “Kekuatan Universal” Bangsa Horizontal di Abad Pertama Era Horizontal (Abad 21-28, dst…)

Filosofi, genealogi, dan asal-usul istilah “Globalinium” dan/atau “Universalium”, pertama kali dicetuskan oleh Tokoh Pemikir Hubungan Internasional Indonesia di Abad Pertama Era Horizontal (tahun 2000-dst…), Adi Rio Arianto. Ia adalah penggagas kerangka berpikir Filsafat Hubungan Internasional beraliran Indonesia “Sekolah Indonesia” atau “Mazhab Indonesia” yang dikenal dengan perspektif Horizontalisme (MHP). Bersama rekan-rekan pemikirnya membentuk kajian ke-filsuf-an bernama “Mazhab Jakarta” untuk mengkawal sistem dunia dari “sudut pandang” Indonesia.

Setelah ia menemukan konsep Geometripolitika di awal Abad 21 yang didahului oleh penemuan konsep Geopolitika, maka Ia kemudian menggagas Globalinium dan Universalium di dekade kedua sebagai bagian dari Horizontalisasi dunia. Globalinium dan Universalium merupakan istilah yang diangkat untuk menggambarkan periode pembangunan secara besar-besaran Bangsa Horizontal untuk menggapai Kekuatan Universal Abad 21. Ia bersinergi dengan ARAHIndonesia, yaitu Gerakan Politik Internasional, Global, dan Universal Era Horizontal Abad 21. Adapun, meminjam istilah Al-Farabi (Filsuf Horizontal Abad 9-10)  tentang konsep Negara Utama. Maka, Indonesia ialah salah satu Negara Utama Bangsa Horizontal Abad 21. Persatuan Negara utama ini akan terus berjalan sepanjang 7 abad ke depan di bawah perspektif Horizontalisme.

Globalinium dan Universalium berusaha untuk mengkawal pembangunan nilai-nilai dasar pemikiran Horizontalisme dan berusaha membangkitkan Kekuatan Universal Bangsa Horizontal di Era Horizontal Abad 21 yang dipimpin oleh beberapa negara utama yang salah satunya adalah Indonesia. Kedua istilah ini berusaha untuk mendorong berjalannya Horizontalisasi dunia Abad 21.

Genealoginya dan asal-usul kata Globalinium dan Universalium berasal dari bahasa Indonesia yang terdiri dari 3 kata, yaitu: Global/ Universal, Horizontal, dan Milenium. Secara filosofis bisa dimaknai sebagai berikut:

Pertama, “Global dan Universal” adalah “wilayah.” Wilayah yang dimaksud adalah “bumi” sebagai ruang hidup tempat manusia beraktifitas yang oleh Horizontalisme terbagi menjadi 8 dimensi wilayah dunia (Konsep Geometripolitika), yaitu darat, laut, udara, bawah tanah, siber, ruang hampa, galaksi, dan khatulistiwa. Ini adalah bagian dari konsep dan ilmu Geometripolitika yang digagas oleh Adi Rio Arianto sebagai penemuan terbarunya di ranah Hubungan Internasional khususnya di sektor Keamanan Internasional. Adapun perbedaan antara Global dan Universal adalah sub-ordinat, dimana universal memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dan kompleks. Oleh karena itu, Horizontalisme memperluas jumlah aktor Hubungan Internasional, yaitu individu, kelompok, negara, bangsa, kawasan, antarkawasan, benua, antarbenua, bumi, dan planet. Hal ini kemudian diikuti oleh perluasan ruang lingkup Hubungan Internasional menjadi Hubungan Global, Hubungan Antarbangsa, dan naik satu tingkat (lagi) menuju Hubungan Universal. Hal ini pada akhirnya mampu memperluas kajian Politik dari Politik Internasional menuju Politik Global, Politik Antarbangsa, dan naik satu tingkat (lagi) menuju Politik Universal. Demikian halnya perkembangan keamanan dunia, dari Keamanan Internasional menuju Keamanan Global, Keamanan Antarbangsa, dan (lagi) menuju ke tingkat Keamanan Universal;

Kedua, “Horizontal” adalah “sudut pandang” Indonesia (perspektif Hubungan Antarbangsa) yang diambil dari kata “hanif” yaitu lurus atau baik, juga dari kata “horizon” yaitu garis, kaki langit, khatulistiwa, atau ufuk (menurut KBBI). Adi Rio Arianto menganggap ini sebagai asal-muasal “genealogi” yang sangat potensial dan signifikan bagi Indonesia dan dunia, sebab konsep Horizontal akan bertalian dengan Politik Mercusuar yang digagas oleh Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Politik Mercusuar akan bersinergi dengan Politik Poros Afirmatif yang digagas oleh Adi Rio Arianto. Sebab genealogi kata “Horizontalisme” berujung pada implementasi garis horizon yang akhirnya mengarah pada wilayah terpanjang di dunia dari negara yang dilewati oleh garis Khatulistiwa dunia, itulah negara “Geometripolitik” Indonesia Abad 21. Hal ini berkaitan erat dengan kosep “Mandala Negara” yang digunakan oleh Kerajaan Majapahit. Hal ini (juga) diperkuat dengan garis Maritim terpanjang di dunia. Adapun Garis Horizon Khatulistiwa melewati sembilan negara-negara di dunia. Dan, Indonesia adalah negara yang dilewati oleh Horizon terpanjang di dunia. Untuk alasan filosofis ini, Adi Rio Arianto mendengungkan sebuah visi universal, bahwa:

“sesungguhnya pada abad ini dan mendatang, Indonesia harus berani mengambil tanggung jawab penuh membangun ke-abadi-an Universal sepanjang sejarah dunia di Era Horizontal. Indonesia harus berani mengambil tanggung jawab penuh dalam memimpin dunia Abad 21. Oleh karena itu, Indonesia harus berani mendefinisikan ulang dunia Abad 21. Indonesia harus berani menjadi pelopor bagi kepemimpinan Bangsa Horizontal atas penguasaan 8 dimensi wilayah dunia.” Itulah sebabnya mengapa Indonesia bersama Bangsa Horizontal lainnya menggunakan “sudut pandang” Horizontal untuk mendobrak, mengubah, dan mengarahkan sistem politik universal masa depan dari DAD menuju DHD melalui gagasan Pusat Maritim Dunia, Ekuilibrium Daratan Dunia, Pusat Khatulistiwa Dunia, Episentrum Politik Dunia, dan Episentrum Keamanan Dunia. Kelima pilar ini telah termaktub dalam prinsip “Poros-Afirmatif” yang akan mengangkat Indonesia sebagai Kekuatan Universal Abad 21, 22-28, dst; dan,

Ketiga, “Milenium” adalah periode waktu. 1 Milenium adalah 1.000 tahun. Bangsa Horizontal menyebut Era yang dimulai sejak tahun 2000 sebagai Era Horizontal. Adi Rio Arianto menggunakan istilah ini untuk memperkuat aktifitas Horizontalisasi dunia abad 21. Ia bahkan telah memperkenalkan Gerakan Politik Antarbangsa yang dikenal dengan ARAHIndonesia. Milenium ke-3 adalah periode pembangunan Sejarah “Kekuatan Universal” Indonesia dibawah satu payung Bangsa Horizontal. Itulah Milenium Horizontal. Era Horizontal.

Adi Rio Arianto menyebut gagasan di atas sebagai bunga rampai dari Perspektif Horizontalisme mewakili Sekolah Indonesia “Mazhab Indonesia.” Melalui Globalinium, Universalium, dan Arahindonesia, ia memperkuat pencapaian visi Indonesia sebagai “Kekuatan Global” Abad 21, 22-28, dst. Globalinium berusaha untuk memperkenalkan periode dimana Indonesia bersama dengan Bangsa Horizontal lainnya sedang aktif melakukan pembangunan global dengan sistem pemerintahan Adikrasi Horizontal.

Oleh karena itu, Globalinium merupakan sebuah istilah khusus yang diangkat untuk mempengaruhi arah pembangunan global masa depan. Globalinium yang dipandu oleh pemikiran Horizontalisme berusaha untuk menciptakan kemakmuran Bangsa Horizontal. Dengan demikian, hubungan antara Globalinium dan Horizontalisasi Global tidak akan terpisah, melainkan keduanya bersatu dan bersama-sama membangun Indonesia dan negara-negara Horizontal lainnya dibawah satu naungan perspektif global, yaitu Horizontalisme.

Horizontalisasi dunia akan terus bergerak menuju medan pembangunan Indonesia di Milenium ke-3. Menurut kalender Masehi, dunia telah memasuki Milenium ke-3 atau “dunia sedang menuju pada tahun 3.000-an. Dan, Milenium ke-3 ini oleh Adi Rio Arianto disebut sebagai Era Horizontal dengan mengambil titik acuan awalnya pada tahun 2000. Hal ini mengingat Horizontalisasi dunia tengah berjalan yang telah dimulai sejak tahun 2000 silam. Hal ini sekaligus menandai secara ilmiah titik acuan bagi permulaan Era Horizontal pada abad 21. Sekaligus menandai kelahiran pemikiran Filsuf Pertama Abad 21. Itulah Filsuf Horizontalisme Adi Rio Arianto sebagai Bapak Pendiri Filsafat Horizontalisme Dunia Abad 21.

Adi Rio Arianto selanjutnya mengkawal penguatan posisi Indonesia di level global melalui pendirian dan penguatan cara pandang Hubungan Internasional dari “sudut pandang” keindonesiaan melalui penciptaan jurnal dan pendirian pusat studi  di Kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Kampus ini merupakan satu-satu nya kampus di Indonesia yang memiliki orientasi penuh dan berkarakter “bela negara” yang secara strategis berada di pusat Ibukota Jakarta. Itulah sebabnya sudut pandang Indonesia “Horizontalisme” akan lahir di kampus ini dengan tujuan: (1)membangun cara pandang keindonesiaan “Horizontalisme” dalam menilai konstalasi Antarbangsa; (2)mengkawal arah dan menjaga konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan melalui instrumen institusional universitas (kurikulum, jurnal, dan pusat studi), teoritikal (ide), dan praktikal (riset); dan (3)membela kepentingan bangsa Indonesia dan negara-negara Horizontal lainnya di level nasional, internasional, regional, global, antarbangsa, dan universal.

Tulisan ini sedang dalam pengembangan sejak 20 Januari 2016 | Jakarta, 1 Agustus 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto