12

GLOBALINIUM: Era Pembangunan “Kekuatan Universal” Bangsa Horizontal di Abad Pertama Era Horizontal (Abad 21, 22-28, dst…)

Filosofi dan asal-usul istilah “Globalinium” dan/atau “Universalium”, pertama kali dicetuskan oleh Tokoh Pemikir Timur di Abad Pertama Era Horizontal (tahun 2000-dst…), Adi Rio Arianto. Ia adalah tokoh penggagas kerangka berpikir Filsafat Hubungan Internasional beraliran Timur khususnya bagi pemikir “Sekolah Indonesia” atau “Mazhab Indonesia” yang dikenal dengan perspektif Horizontalisme (MHP). Bersama rekan-rekan pemikirnya membentuk kajian ke-filsuf-an bernama “Mazhab Jakarta (MJ, 2017)” untuk mengkawal sistem dunia dari perspektif “sudut pandang” ke-Timur-an. “…dari Timur Dunia membangun wacana Timur untuk Dunia dengan negara-negara utamanya yaitu Tiongkok, Rusia, India, Indonesia, Mongolia, Mesir, serta ditambah dengan gabungan tiga benua besar Asia, Afrika, dan Eurasia yang disingkat dengan istilah “TRIIMAAE” (lihat Adi Rio Arianto dalam “Keamanan Siber Menuju Perang Geometri Antarbangsa: Geometripolitika dan Arsitektur Keamanan Dunia Era Horizontal Abad 21″ (Prosiding AIHII, 2016: 18-20)).”

Horizontalisasi Dunia : Membuat Sistem Dunia Berkiblat ke Dunia Timur

Setelah membangun Teori Geometripolitika di awal Abad 21 yang didahului oleh Teori Geopolitika oleh Tokoh-Tokoh Pemikir Barat, Ia kemudian menggagas Globalinium di dekade kedua sebagai bagian dari Horizontalisasi Dunia. Horizontalisasi Dunia artinya membuat sistem dunia berkiblat ke Dunia Timur (horizon ke-Timur-an). Globalinium ialah istilah yang diangkat untuk menggambarkan periode pembangunan secara besar-besaran (dari semua bidang kehidupan manusia: ideologi, politik, ekonomi, strategi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan lingkungan geometrinya). Dalam pemikiran Horizontalis, Globalinium diarahkan untuk menggapai Kekuatan Universal pada Abad 21. Ia bersinergi dengan ARAHIndonesia, yaitu Gerakan Politik Internasional (GPI), Gerakan Keamanan Antarbangsa (GKA), dan Gerakan Bahasa Indonesia Bahasa Dunia (BIBD) di Era Horizontal pada Abad 21. Adapun, meminjam istilah Al-Farabi (Filsuf Horizontal Abad 9-10) tentang Teori Negara Utama. Maka, Indonesia ialah salah satu Negara Utama Bangsa Horizontal Abad 21. Persatuan Negara utama ini akan terus berjalan sepanjang 7 abad ke depan di bawah perspektif “sudut pandang” Horizontalisme.

Globalinium menandai era manusia mengimplementasikan pembangunan nilai-nilai Timur,  oleh karena itu tugas para Horizontalis adalah berusaha mengerucutkan arah kebangkitan Kekuatan Universal Bangsa Horizontal di Era Horizontal Abad 21 yang dipimpin oleh beberapa negara utama “TRIIMAAE” yang salah satunya adalah Indonesia. Kedua istilah ini berusaha untuk mendorong berjalannya Horizontalisasi dunia Abad 21.

Genealogi dan asal-usul kata Globalinium berasal dari bahasa Indonesia yang terdiri dari 3 kata, yaitu: Global, Horizontal, dan Milenium. Secara filosofis bisa dimaknai sebagai berikut:

Pertama, “Global dan Universal” adalah “wilayah dan lingkungan (geometri terbatas dan tidak terbatas).” Wilayah yang dimaksud adalah “bumi tanah air manusia dan ruang geometri yang menyelimutinya” sebagai ruang hidup manusia yang oleh Horizontalisme terbagi menjadi 8 dimensi wilayah dunia, yaitu: darat, laut (maritim), udara (dirgantara), bawah tanah, siber (mayantara), ruang hampa, galaksi, dan khatulistiwa (garis stasioner matahahari). Pemikiran di atas merupakan runutan Teori Geometripolitika yang digagas oleh Adi Rio Arianto sebagai penemuan terbaru dalam Studi Hubungan Internasional khususnya dalam Kajian Keamanan Internasional (KKI). Adapun perbedaan antara Global dan Universal adalah sub-ordinat, dimana universal memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dan kompleks. Oleh karena itu, Horizontalisme memperluas jumlah aktor Hubungan Internasional, yaitu manusia (tunggal), kelompok, negara, bangsa, kawasan, antarkawasan, benua, antarbenua, bumi, dan antar-planet. Hal ini kemudian diikuti oleh perluasan ruang lingkup Hubungan Internasional menjadi Hubungan Global, Hubungan Antarbangsa, dan naik satu tingkat (lagi) menuju Hubungan Universal/Dunia. Hal ini pada akhirnya mampu memperluas kajian Politik dari Politik Internasional menuju Politik Global, Politik Antarbangsa, dan naik satu tingkat (lagi) menuju Politik Universal/Dunia. Demikian halnya perkembangan keamanan dunia, dari Keamanan Internasional menuju Keamanan Global, Keamanan Antarbangsa, dan (lagi) menuju ke tingkat Keamanan Universal/Dunia;

Kedua, “Horizontal” adalah perspektif “sudut pandang” Timur (khususnya Indonesia) dalam menilai Hubungan Antarbangsa yang diambil dari kata “hanif” yaitu lurus, taat dan/atau baik, juga dari kata “horizon” yaitu garis, lurus, kaki langit, khatulistiwa, atau ufuk (menurut KBBI). Dari filosofi inilah muncul istilah “sistem dunia adalah taat dan gotong-royong” sebagai simbol dari proses kelahiran anak manusia yang taat dan saling bergotong-royong dengan sistem tubuh induknya (lihat Adi Rio Arianto “Keamanan Siber Menuju Perang Geometri Antarbangsa: Geometripolitika dan Arsitektur Keamanan Dunia Era Horizontal Abad 21″ (Prosiding AIHII, 2016: 18-20)). Adi Rio Arianto menganggap ini sebagai asal-muasal “genealogi” yang sangat potensial dan signifikan bagi Indonesia dan dunia, sebab Teori Horizontalisme Politik akan bertalian dengan Teori Politik Mercusuar yang digagas oleh Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Selanjutnya, dalam tataran praktikal, Politik Mercusuar bersinergi lentur dengan Politik Poros Afirmatif. Sebabnya adalah dalam diskusi-diskusi ilmiah, genealogi kata “Horizontalisme” berujung pada implementasi garis horizon yang akhirnya mengarah pada wilayah terpanjang di dunia dari negara yang dilewati oleh garis Khatulistiwa dunia, itulah negara “Geometripolitik” Indonesia Abad 21. Hal ini berkaitan erat dengan pemikiran tentang “Mandala Negara” yang digunakan oleh Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, dan Kerajaan Demak. Hal ini (juga) diperkuat dengan garis Maritim Indonesia sebagai yang terpanjang di dunia. Adapun Garis Horizon Khatulistiwa melewati sembilan negara-negara di dunia. Dan, Indonesia adalah negara yang dilewati oleh Horizon Matahari terpanjang di dunia. Untuk alasan filosofis ini, Adi Rio Arianto mendengungkan sebuah visi universal, bahwa:

“sesungguhnya pada abad ini dan mendatang, Indonesia harus berani mengambil tanggung jawab penuh membangun ke-abadi-an Universal sepanjang sejarah dunia di Era Horizontal. Indonesia harus berani mengambil tanggung jawab penuh dalam memimpin dunia Abad 21. Oleh karena itu, Indonesia harus berani mendefinisikan ulang tatanan dunia Abad 21. Indonesia harus berani menjadi pelopor bagi kepemimpinan Bangsa Horizontal atas penguasaan 8 dimensi wilayah dunia.” Itulah sebabnya mengapa Indonesia bersama Bangsa Horizontal lainnya menggunakan sudut pandang “Horizontalisme” untuk mendobrak, mengubah, dan mengarahkan sistem kekuasaan dan kepemimpinan universal masa depan dari DAD menuju DHD melalui gagasan Pusat Maritim Dunia, Pusat Khatulistiwa Dunia, Ekuilibrium Daratan Dunia, Arsitektum Keamanan Dunia, dan Episentrum Kekuasaan Dunia. Kelima pilar ini telah termaktub dalam prinsip “Poros Afirmatif” yang akan mengangkat Indonesia sebagai Kekuatan Universal Abad 21, 22-28, dst; dan,

Ketiga, “Milenium” adalah periode waktu. Menurut perhitungan Matematika, 1 Milenium adalah 1.000 tahun. Bangsa Horizontal menyebut Era yang dimulai sejak tahun 2000 sebagai Era Horizontal. Adi Rio Arianto menggunakan istilah ini untuk memperkuat aktifitas Horizontalisasi dunia abad 21. Ia bahkan telah memperkenalkan Gerakan Politik Internasional (GPI), Gerakan Keamanan Antarbangsa (GKA), dan Gerakan Bahasa Indonesia Bahasa Dunia (BIBD)  yang dikenal dengan ARAHIndonesia. Milenium ke-3 adalah periode pembangunan Sejarah “Kekuatan Universal” Timur dibawah satu payung pemikiran, Horizontalisme. Itulah Milenium Horizontal. Era Horizontal. Era Pemerintahan Bangsa Horizontal di seluruh Dunia. Era kemakmuran Timur.

Adi Rio Arianto menyebut gagasan di atas sebagai bunga rampai dari Perspektif “sudut pandang” Horizontalisme mewakili Wacana Timur khususnya untuk memperkuat Sekolah Indonesia “Mazhab Indonesia.” Melalui Globalinium, Universalium, dan Arahindonesia, ia memperkuat pencapaian visi Indonesia sebagai –minimal bergandengan dengan, maksimal– sebagai “Kekuatan Global” pada Abad 21, 22-28, dst.

Sistem Adibumi Horizontal : Kepemimpinan dari, oleh, untuk bumi tanah air manusia dan lingkungan geometrinya

Berkaitan dengan Sistem Adibumi Horizontal, Globalinium berusaha memperkenalkan periode dimana Indonesia bersama dengan Bangsa Horizontal lainnya aktif melaksanakan pembangunan dunia dengan sistem pemerintahan “Adibumi Horizontal” melalui ajaran Teori Lima Patika (Laksapatik, Rencapatik, Adilapatik, Jagapatik, dan Nasihapatik) melampaui teori “Demokrasi Liberal” atas pemikiran Montesquieu yang dikenal dengan ajaran Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif). Sistem Adibumi Horizontal bermakna “kepemimpinan dari bumi tanah air manusia dan lingkungan geometrinya, oleh bumi tanah air manusia dan lingkungan geometrinya, dan untuk bumi tanah air manusia dan lingkungan geometrinya.”

Kata “Lima Patika” terdiri dari dua suku kata, yaitu “lima” yang diambil dari bahasa Jawa berarti “lima bagian”, dan Patika yang diambil dari bahasa Mesir Kuno (Sepat) dan Jawa (Patih) berarti “kepemimpinan yang didalamnya terkandung kekuasaan dan kebijaksanaan utama”. “Lima Patika” berarti “lima bagian kepemimpinan, kekuasaan, dan kebijaksanaan utama”.

Ajaran dari Teori Lima Patika dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut: pertama, Rencapatik adalah badan perancang hukum dan kekuasaan. Artinya Dalam sistem pemerintahan Adibumi, setiap pemerintah wajib membuat hukum dan kekuasaan berdasarkan keadaan alamiah bumi tanah air manusia dan lingkungan geometrinya, jika tidak sesuai dengan lingkungan geometrinya, kebijakan tersebut tidak dapat diimplementasikan dalam suatu masyarakat; kedua, Laksapatik adalah badan pelaksana hukum dan kekuasaan. Artinya, setiap kebijakan yang telah direncanakan dan dirumuskan oleh Rencapatik akan menjadi kewajiban penuh untuk ditunaikan oleh badan ini; ketiga, Adilapatik adalah badan yang mengadili segala penyalahgunaan hukum dan kekuasaan dari Laksapatik. Artinya jika dalam suatu pemerintahan Adibumi terjadi kekeliruan arah dan implementasinya, maka atas pertimbangan-pertimbangan secara menyeluruh, Lakasapatik bisa diadili oleh Adilapatik; keempat, Jagapatik adalah badan penjaga dan pengawas atas kinerja ketiga lembaga tadi yang dipegang oleh Masyarakat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Fungsi Jagapatik adalah mengawasi jalannya pemerintahan secara menyeluruh berkoordinasi dengan badan Nasihapatik; kelima, Nasihapatik yaitu badan penasihat dalam sistem pemerintahan Adibumi Horizontal.  Nasihapatik dipegang oleh Masyarakat Filsuf. Keterhubungan Lima Patika ini adalah posisi Rencapatik, Laksapatik, dan Adilapatik adalah setara. Sedangkan, Jagapatik dan Nasihapatik adalah kekuasaan Adibumi Dwitunggal Tertinggi. Mensinergikan dengan nilai-nilai “Kebijaksanaan” Ptahhotep dalam “Maksim Ptahhotep”, nilai-nilai “Ketaatan” Hammurabi dalam “Kode Hammurabi”, nilai-nilai “Kebhinekaan” Empu Tantular dalam “Sutasoma”, nilai-nilai “Kenegaraan” Empu Prapanca dalam “Nāgarakṛtâgama”, nilai nilai “Kerakyatan” Tan Malaka dalam “Naar de Republiek Indonesia”, nilai-nilai “Kepribumisasian” Pramoedya Ananta Toer dalam “Bumi Manusia”. Semua nilai-nilai ini lentur dalam pemikiran Adibumi Horizontal.

Dalam hubungannya dengan Globalinium, sistem pemerintahan Adibumi Horizontal mesti ditopang oleh Adibumian. Oleh karena itu, Globalinium menjadi istilah strategis yang diangkat untuk mempengaruhi arah pembangunan dunia masa depan. Globalinium yang dipandu oleh pemikiran Horizontalisme berusaha untuk menciptakan “Kemakmuran Yang Agung” bagi Bangsa Horizontal. Dengan demikian, hubungan antara Globalinium dan Horizontalisasi Dunia tidak akan terpisah, melainkan keduanya bersatu dan bersama-sama membangun Indonesia dan negara-negara Horizontal lainnya dibawah satu naungan perspektif: Horizontalisme.

Horizontalisasi dunia akan terus bergerak menuju medan pembangunan Dunia Timur di Milenium ke-3. Menurut kalender Masehi, dunia telah memasuki Milenium ke-3 atau “dunia sedang menuju pada tahun 3.000-an. Dan, Milenium ke-3 ini oleh Adi Rio Arianto disebut sebagai Era Horizontal dengan mengambil titik acuan awal pada tahun 2000. Hal ini mengingat Horizontalisasi dunia tengah berjalan yang telah dimulai sejak tahun 2000 silam. Hal ini sekaligus menandai secara ilmiah titik acuan bagi permulaan Era Horizontal pada abad 21. Sekaligus menandai kelahiran pemikiran Adibumi Horizontal pada Abad 21. Adi Rio Arianto adalah Bapak Horizontalisme.

Adi Rio Arianto terus mengkawal penguatan posisi Indonesia dan Dunia Timur di level global melalui pendirian dan penguatan cara pandang Hubungan Internasional dan Kepemimpinan Dunia dari perspektif “sudut pandang” keindonesiaan melalui penciptaan Jurnal dan gagasan pendirian Pusat Kajian Keamanan Internasional/Dunia (PKKI/D)  di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Kampus ini merupakan satu-satu nya kampus di Indonesia yang memiliki orientasi penuh dan berkarakter “bela negara” yang secara strategis berada di pusat Ibukota Indonesia, Jakarta. Itulah sebabnya sudut pandang Indonesia “Horizontalisme” akan lahir di kampus ini dengan tujuan: (1)membangun cara pandang ke-Timur-an dan keindonesiaan “Horizontalisme” dalam menilai konstalasi Antarbangsa; (2)mengkawal arah dan menjaga konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan melalui instrumen institusional universitas (kurikulum, jurnal, dan pusat kajian), teoritikal (ide), dan praktikal (riset); dan (3)membela kepentingan bangsa Indonesia dan negara-negara Horizontal lainnya di level lokal, nasional, internasional, regional, global, antarbangsa, dan universal.

Tulisan ini sedang dalam pengembangan sejak 20 Januari 2008-2019 | Jakarta, 12 Oktober 2019

Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2019 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Antarbangsa — Strategi. Pertahanan. Keamanan."