12

Struktur 3. Konsep Geometripolitika Dunia (KGD): Dasar-Dasar Ilmu Geometripolitika, Al-Jabar, dan Hukum Adi Rio Arianto (Teorama Arianto)

Dasar-dasar ilmu Gometripolitika meliputi keseimbangan, kekuatan, dan keamanan. Ketiga unsur ini adalah proyeksi penciptaan kekuasaan, perdamaian, dan keamanan dunia yang berujung pada kepemimpinan universal. Dengan demikian, perlu menelaah lebih dalam apakah yang dimaksud dengan “seimbang”? Bagaimanakah mengukur suatu “kekuatan”? Di Era sekarang, bagaimanakah ciri-ciri sesuatu yang dikatakan “aman”? Sesuatu hal apapun di dunia ini mestilah mandiri secara fisik (nyata) dan psikologi (maya), dalam term saya ini disebut dengan ‘tema’. Tema ini dibentuk oleh keamanan yang mapan dari variasi ancaman. Kedua tema mempunyai loyalitas masing-masing.

Mengingat ilmu Matematika, dimana konstanta phi adalah 22/7, maka jari-jari bumi adalah sesuatu yang konstan. Itulah sebabnya, Teorama Arianto memiliki Konstanta KA = 0,18πrc2. Ini menjelaskan sejauh mana nuklir menembus jari-jari bumi sampai hancur, maka bulan dan planet lain adalah solusinya seperti yang sudah dilakukan oleh Tiongkok dan Jerman. Selain itu, mengingat fenomena munculnya kekuatan volume secara vertikal, baik positif dan negatif, udara mestinya mempunyai dinding pertahanan dari laser dalam hal ini sebanding dengan volume ruang udara. Dengan demikian, penting untuk memahami keamanan sebuah negara secara vertikal.

Penciptaan pertahanan negara dimulai dalam tujuh struktur tingkatan yaitu air, embrio, otot, darah, tulang, daging, dan ruh. Saya menolak analisis Hans Joachim Morgenthau (lihat Morgenthau, Politik Antarbangsa, 1949: 176) tentang proses membangun pertahanan negara, membangun pertahanan organisasi regional layaknya Aliansi Atlantik sesungguhnya berbeda dengan membangun pertahanan sebuah negara. Sebab aliansi lahir didahului oleh kekuatan negara-negara utama sebagai motor utama penggerak aliansi. Itulah manifestasi dari gotong-royong, selalu ada tim pengarah atau pemimpin.

Geometripolitika membagi wilayah dunia menjadi 8 (delapan) medan atau dimensi. Delapan dimensi ini adalah penemuan konsep baru tentang Arsitektur Keamanan Dunia Era Horizontal. (lihat Adi Rio Arianto “Keamanan Siber Menuju Perang Geometri Antarbangsa: Geometripolitika dan Arsitektur Keamanan Dunia Era Horizontal Abad 21” (Prosiding AIHII, 2016: 31)). Lahirnya konsep Geometripolitika yang membagi keamanan dunia menjadi 8 dimensi akibat munculnya 2 teknologi universal Abad 21, Senjata Nuklir dan Teknologi Siber. Delapan dimensi tersebut yaitu: Darat, Laut, Udara, Bawah Tanah (yang kemudian saya menyebut empat dimensi ini sebagai dimensi Geometri Terbatas); serta Galaksi, Ruang Hampa, Siber, Khatulistiwa (saya kemudian menyebut dimensi ini sebagai dimensi Geometri Tak Terbatas).

Berkaitan dengan konsep Trigonometri dalam Matematika, maka Geometripolitika memiliki cara pandang yang signifikan dalam menjelaskan formasi keamanan dunia, yaitu keamanan ruang daratan (Kuadran I), keamanan ruang udara (kuadran II), keamanan ruang laut (III), , dan Keamanan ruang bawah tanah (kuadran IV). Titik tengah dari kuadran merupakan jari-jari dan diameter lingkungan kekuasaan Geometripolitik sebuah bangsa, dimana dengan menghitung jarak kekuasaan ini maka kondisi geografi akan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan sebuah negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Oleh karena itu titik ini perlu diperhitungkan sebagai wilayah strategis dalam membangun sistem keamanan negara.

Delapan di mensi di atas selanjutnya menjadi tolak ukur untuk menganalisa terbentuknya prazona dan zona Perang Geometri Antarbangsa (PGA) yang kemudian akan mempengaruhi arah Mazhab Horizontalisme, Mazhab Jakarta, Poros Afirmatif, Politik Mercusuar, Globalinium, Poros Khatulitiwa Dunia, Adikratik, Geometripolitika, Filsuf, dan terbentuknya Era Horizontal Abad 21. 

Dengan demikian, wajar bagi Ir. Soekarno yg saat itu risau dengan soal Pertahanan yang lahir dari dan bersandar pada pengetahuan tentang ilmu Geopolitika. Sekarang, kita risau dengan soal Pertahanan yang lahir dari dan bersandar pada pengetahuan tentang ilmu Geometripolitika. 

Selain itu, Geometripolitika juga mengalami 4 pertumbuhan sekaligus penyusutan wilayah yaitu: Geometripolitik Vertikal Positif dan Negatif, Geometripolitik Horizontal Positif dan Negatif, dan  Geometripolitik Tak Terbatas. Setiap wilayah memiliki jari-jari dan tepian negara. “Asumsi: perilaku negara ibarat perilaku manusia. Ia butuh rasa ke(aman)an dan kasih sayang, tingkat loyalitasnya: antara sayang dan cemburu berbanding lurus seperti jumlah rasa ke(aman)an dan kasih sayang yang diberikan oleh pengguna negara kepada negara, sekali negara “mengeluh” maka tak ada jalan lain selain berperang untuk keamanan lalu berdamai kembali”.

Geometripolitika adalah sumber keseimbangan, kekuatan, dan keamanan yang akhirnya mengabdikan diri pada tujuan keamanan internasional. Geometripolitika sebagai sumber keamanan segitiga maka Geometripolitika mengikat manusia, dengan demikian manusia tidak akan mampu menentukan kapan mesti berperang, berdiplomasi, dan berdamai jika tidak mampu menentukan posisi titik Geometripolitik sebagai identitas keamanan segitiga yang ia miliki.

Dilihat dari proyeksi bangunannya, ada dua jenis keamanan yaitu keamanan volume dan keamanan datar. Keamanan volume terdiri dari tujuh sistem keamanan: sistem laser kerucut, sistem laser kubus, sistem laser prisma, sistem tabung, dll. Keamanan sistem datar terdiri atas tujuh sistem yaitu sistem segitiga, sistem bujur sangkar, sistem jajaran genjang, sistem trapesiun, dll. Semua jenis keamanan ini dapat dihitung dengan menggunakan Konstanta Adi Rio Arianto dengan mengikuti contoh soal dalam tulisannya.

Asas Aljabar tentang “Pengurangan” dan “Keseimbangan” universal merupakan filosofi dasar dari keseimbangan universal. Apa yang terjadi pada benua Afrika adalah sebuah contoh fenomena penciptaan keseimbangan universal. Pemetaan Afrika menunjukkan dalam suatu kurun tertentu, beberapa pemimpin di suatu wilayah mengalami proses “pengurangan” dan “keseimbangan” kekuatan. Mengapa negara-negara Afrika mesti menghadapi “pemetaan” sedemikian rupa? Tujuannya adalah untuk melakukan proses keseimbangan kepemimpinan bangsa Afrika di dunia. Inilah proses “pemetaan” untuk Afrika. Juga berlaku bagi pemetaan Amerika, Asia, Eropa, dll.

Perubahan nama negara seperti Persia menjadi Iran, Prusia menjadi Jerman, dll. Satu-satunya yg tidak berubah adalah Inggris dan Arab. Uni-Soviet adalah contoh negara Horizontalisme sebagai manusia Islam dan Orthodox asli. Keduanya memiliki pertalian. Fakta mengenai Perangko yang digunakan oleh Uni Soviet menunjukkan bahwa asas keseimbangan Aljabar menjadi pondasi dasar bagi sistem negara Uni Soviet. Dengan demikian Imperium Islam dan Uni Soviet memiliki pertalian.

Geometripolitika percaya bahwa “keamanan segitiga adalah keamanan yang bersumber dari penggabungan antara Keseimbangan Geopolitik, Kebijakan Pertahanan, dan Keamanan Internasional.’ Negara adalah makhluk hidup. Ia bernapas, butuh makan dan minum, butuh proyeksi serta butuh tempat tinggal, namun ia tetap dikendalikan. Jika keseimbangan terganggu, maka ia berhak memunculkan “bencana.”

Distribusi militer Amerika Serikat di seluruh dunia menggunakan bangunan Geometripolitik Horizontal segi lima sesuai formasi Pentagon. Setiap negara memiliki teritorial halaman depan dan belakang negara. Masing-masing sebagai Geometripolitik Vertikal Positif dan Geometripolitik Vertikal Negatif. Ketika muncul ancaman, pergerakan Geometripolitik mesti fleksibel membentuk sistem prisma, kubus, segitiga, tergantung arah proyeksi ancaman. Skenario-nya dapat dipahami dalam bentuk gambar bergerak. Dalam kasus Libensraum Jerman, imperialisme tak terbatasnya Hitler mesti dipahami dalam dua dimensi, yaitu manakah arah positif dan negatifnya. Dengan demikian, keamanan dan pertahanan secara mendasar dibangun oleh Geometripolitik. Sebaliknya kualitas Geometripolitik ditentukan oleh kualitas manusianya.

Negara tidak semestinya menciptakan teknologi yang lambat karena ia memperlambat sistem keamanan, oleh karena itu pergerakan negarawan mesti dipercepat. Tuhan selalu mengizinkan manusia berperang menurut garis waktu, ruang, dan masa. Jika “malam” tiba, perdamaian akan menjauhi kehidupan manusia. Dan, yang membuat manusia berdaulat adalah ketika ia berada dalam puncak keamanannya. Sebaliknya, yang membuat manusia bertekuk lutut adalah ketika ia berada di ujung ketakutan.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Maret 2016

Profil | Kepakaran | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta | Situs ini dilindungi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11 Tahun 2008, Republik Indonesia

Hakcipta 2008-2018 © Adi Rio Arianto. "Mazhab Horizontalisme Politik — Strategi. Pertahanan. Keamanan."