1

Struktur 1. Mazhab Horizontalisme Politik Era Horizontal (MHP): Era Baru Setelah “Pasca Perang Dingin” Abad 21, 22-28

“Mokenina dunia siy pitu mia, nde dangia samia miana topa alingka yi Eropa, maka ncayitumo yitu sala sangu miana mokenina dunia. Ronamo nde alingka ka yi Eropa, ambuliaka apetula-tulamo kadangiana wolio siy minaaka zamani na opu ta yi Arabu (terjemahan dari bahasa Buton ke Indonesia: “Yang memegang dunia berjumlah 7 orang, jika suatu saat ada seorang yang berasal dari Topa berhasil menginjakkan kaki di tanah Eropa, maka seorang tersebut merupakan salah satu pemimpin dunia. Bilamana seorang tersebut berangkat ke Eropa, maka se-pulangnya dari sana, seorang tersebut segera menetapkan masa depan “bercerita/memiliki visi” berdasarkan asal-usul tanah Buton di tanah Arab”  ––Dawila”

Horizontalisme Politik: Suatu Pendekatan Matematis dalam Memahami Tatanan Dunia Abad 21

Matematika adalah pondasi bumi universal. Dan, bumi manusia universal adalah bulat. Setiap manusia yang ingin memahami dunia berupa bumi dan isinya mestilah memahami Matematika. Matematika sebagai kerangka filsafat berpikir manusia. Dan, manusia Horizontalisme adalah manusia Matematika yang hidup berkelompok “gotong-royong” dan berkembang. Manusia Horizontalisme hidup di Era Horizontal. Dengan demikian, kelahiran manusia Horizontal menandai Era Baru tatanan––Politik, Keamanan, dan Perdamaian––dunia abad 21. Itulah Abad Horizontal, periode dimana dunia mengalami evolusi universal sejak pendaratan pertama “Kerajaan Tuhan” pada abad ketujuh.

Kerajaan Tuhan adalah peradaban manusia Horizontal yang hidup selama tujuh abad berturut-turut berdasarkan “pemetaan universal” yang di awali di Arab dipimpin oleh Duniawan Muhammad, ke Damaskus dipimpin oleh Duniawan Bani Ummayah, ke Bagdad dipimpin oleh Duniawan Bani Abbasyah, ke Konstantinopel dipimpin oleh Duniawan Bani Ustmaniah. Setelah 7 abad berlabuh, Kerajaan Tuhan menuju “titik balik” keseimbangannya, runtuh. Diawali dengan “penyusutan universal” Turki (Konstantinopel), Irak (Abbasyah), Suriah (Ustmaniah), dan paling akhir pemusnahan Arab. Evolusi terjadi didahului oleh rotasi dan revolusi. Itulah rotasi dan revolusi bumi, yaitu pergiliran antara wilayah “siang” dan “malam” bumi. Kedua wilayah tersebut silih berganti menerima sinar matahari sebagai sumber kehidupan universalnya. Dan, karena filsafat adalah hasil karya manusia di bumi, maka pemikirannya terbentuk mengikuti aktivitas bumi. Horizontalisme percaya bahwa pergiliran dunia telah terjadi dari “Daerah Horizontal Dunia” ke “Daerah Atlantik Dunia” yang berlangsung pada abad 14 dan berakhir pada abad 20, dan pembalikannya mesti terjadi pada abad 21. Itulah “pergiliran universal.”

Era Renaisans dimulai pada awal abad 14 di Eropa dan di akhiri pada awal abad 21 di Eropa. Sedangkan, Era Horizontal dimulai pada abad 21 di Asia dan di akhiri pada abad 28 di Asia. Selalu ada jalan kecil di antaranya, yaitu sejarah universal sebagai silih bergantinya––Rotasi dan Revolusi––kepemimpinan dunia selang waktu menurut jarak Geometri dunia.Selanjutnya, apa yang diwarisi oleh Amerika Serikat adalah sisa-sisa peradaban dari kerajaan Anglo-Saxon pertama––Imperium Britania Raya, Prancsis, dan Jerman sebagai “Tiga Kekuatan Anglo-Saxon Eropa.” Dengan skema yang sama, berlaku untuk Turki yang mewarisi sisa-sisa peradaban Horizontal pertama––Imperium Islam. Sebelum Renaisan dunia berada dalam abad Dekonstruktivisme, dan memasuki Renaisan dunia berada dalam abad Konsturktivisme, dan memasuki abad 14 dunia berada dalam abad Realisme dan berakhir di penghujung tahun (1999). Awal abad 21 tepatnya pada tahun 2000, dunia memasuki Abad Horizontal.

Masyarakat Orthodox Dunia baik di Indonesia (selatan) maupun di Rusia (utara), mesti memahami inti dasar pemikiran Anglo-Saxon: dari Posivismenya Realisme, Liberalisme, Kontruktivisme hingga pasca Positivisme. Semua perspektif ini segera tenggelam dan digantikan oleh pemikiran baru yang dibawa oleh Ilmuwan dan filsuf abad 21. Selanjutnya, pemikiran Horizontal segera menjadi satu-satunya cara melihat Tatanan Dunia Abad 21, 22-28.

Apakah manusia menciptakan filsafatnya sendiri? Mengapa manusia menciptakan filsafat? Kapan mereka menciptakan filsafatnya? Bagaimana mereka menciptakan filsafatnya? Dan untuk apa mereka menciptakan filsafat? Manusia berfilsafat karena mereka memiliki “posisi” yang saya sebut sebagai “geopolitik” manusia. Masalahnya adalah tidak ada manusia yang hidup sepanjang 7 abad (700 tahun) sekaligus. Masalah kedua adalah manusia mana yang mendiami wilayah tersebut, karena pada dasarnya filsafat manusia itu lahir dari interaksi sesama manusia di wilayahnya. Masalah ketiga adalah bahwa filsafat non-horizontal (di-luar-horizontal) dipengaruhi oleh manusia realisme, kapitalisme. Oleh karena itu kita kembali ke filsafat Adam dan Hawa sebagai dasar ilmu tentang perspektif dunia. Manusia itu menciptakan filsafatnya sendiri sejak ia menghirup udara pertamanya.

Mengukur besar atau kecilnya perang dengan cara jumlah penduduk yang mati akibat perang dibagi dengan teknologi dan luas wilayah perang. Jadi, belum tentu perang dunia I dan II itu terbesar. Sebab semua tergantung pada karakter manusia, teknologi perang, dan daerah mana di bumi tempat perang tersebut terjadi, semuanya telah mempengaruhi cara pandang manusia tentang perang itu sendiri di bumi.

Secara matematika, digambarkan bahwa Perputaran Bumi pada porosnya adalah rotasi bumi, jadi sama, artinya model skema geopolitik mengalami evolusi adalah ketika masa 7 abad (700 tahun) berputar menurut diagram. Selanjutnya, Revolusi bumi selama 365 hari adalah skema besar pergantian titik geopolitik dunia: pergantian. Cek Diagram Kehidupan Adi Rio Arianto. Ada 7 siklus pergiliran kehidupan manusia sepanjang umur bumi. Mengapa dulu Muhammad berkata “belajarlah hingga ke Negeri Tiongkok (Tiongkok)”? ada persoalan peradaban di sana.

Sedangkan, tokoh-tokoh nir-Horizontal saat ini dengan bijaksana menolak ketokohan ilmuwan Islam dan segera mereduksi ajarannya lalu memunculkan ilmuwan-ilmuwan baru dari kalangan mereka sendiri. Jelas, bahwa penghapusan peradaban adalah melalui penghilangan pengakuan atas tokoh-tokoh tersebut. Gambaran ini dapat dipahami melalui cerita berikut: Jangan mewariskan sesuatu yang tidak kamu pahami dengan baik: cek bukunya Darmadi Darmawangsa “Fight Like A Tiger And Win Like A Champion”, bahwa ada 3 monyet yang akhirnya tidak ingin lagi memanjat pisang itu. Perhatian Keabsahan Ilmuwan Albert Einstein, bahwa sesungguhnya penemuannya tentang Nuklir telah dirancang oleh kaum non-horizontal sehingga memudahkan mengarahkan dunia akan kemana di bawah panji-panji mereka. Dan, kaum Horizontal pada masanya menghormati hal tersebut. Dan, kini giliran mereka untuk menghormati kebangkitan kaum Horizontal di dekade pertengahan abad 21 ini. Saya akhirnya mengajak untuk melihat pertarungan dua kata ini sebagai asal usul filsafatnya. Berikut adalah penjabaran tentang pemikiran, pondasi, dan asumsi dari pemikiran Horizontalisme.

Pemikiran, Pondasi, dan Asumsi Mazhab Horizontalisme

Mazhab Horizontalisme adalah perspektif politik global (HI) aliran Indonesia yang digagas oleh kelompok Ilmuwan HI Indonesia, selanjutnya menamakan diri sebagai “Sekolah Indonesia.” Horizontalisme hadir sebagai respon atas melemahnya perspektif yang telah ada––Realisme, Liberalisme, dan Marxisme––yang sudah tidak mampu lagi menjelaskan fenomena politik dunia di awal abad 21, khususnya di Asia Pasifik dan Eurasia. Horizontalisme berusaha memperkaya cara pandang manusia periode abad 21. Horizontalisme memiliki cara pandang yang beririsan dengan “Teori Politik ke-4” dari pemikiran Alexander Dugin (Rusia), yaitu “The Fourth Political Theory: Beyond Left and Right but Against the Center” yang disebut dengan istilah “Eurasianisme.” Alexander Dugin adalah seorang Ilmuwan Politik Kebangsaan Rusia. Meskipun beririsan, namun Horizontalisme tetap memperkaya diri terkait politik global Asia, sedangkan  “Teori Politik ke-4” bertaut pada politik “Eurasianisme.”

Pembangunan pemikiran ini bertujuan untuk menegaskan tiga hal, yaitu: (1)para penganut Horizontalisme akan terus melibatkan diri sebagai aktor perpolitikan dunia dengan cara berfilsafat dan mempengaruhi yang lain, (2)para penganut Horizontalisme akan terus melibatkan diri sebagai aktor perpolitikan dunia, berfilsafat, dan mengambil posisi tegas sebagai filsuf yang mengakibatkan karya ini memberi pengaruh terhadap yang lain, dan (3)Tujuan filsafat ini adalah untuk mempengaruhi dan memetakan tatanan politik dunia di abad 21-28, dst. Para penganut Horizontalisme meletakkan pondasi berpikir matematis bahwa bumi adalah bulat. Oleh karena itu, kepemimpinan dunia datang silih berganti, timbul tenggelam, bergerak melingkar, dan mengembang menurut deret geometri matematika dengan rasio (7n). Pada akhirnya, dunia tumbuh mengikuti siklus terbaiknya, yaitu diawali dengan sejarah filsafat Positivisme datang mendahului Pascapositivisme, menyusul era Horizontaldunia abad 21.

Tokoh-tokoh dunia yang menjadi dasar perspektif ini datang dari Al-Khwarizmi (780-850) melalui pemikirannya tentang “Aljabar”, Al-Kindi (801-873) “Relativisme”, Al-Farabi (870-950) “Negara dan Sistem Pemerintahan”, Ibnu Sina (980-1037) “Negara dan Manusia”, Ibnu Khaldun (1332-1406) “Mukaddimah.” Sedangkan, tokoh-tokoh Indonesia yang punya sumbangan kuat dalam penyempurnaan Perspektif Horizontalisme berasal dari tujuh presiden Indonesia semenjak Era Soekarno hingga Joko Widodo. Di awal pemerintahan, Soekarno telah menyumbang pemikiran Horizontal atas kebijakannya “Poros Jakarta-Peking-Moskow”. Kebijakan Soekarno tentang “Poros Jakarta-Peking-Moskow” adalah salah satu pondasi Horizontalisme. Poros ini adalah komposisi dasar bangsa Asia asli. Soeharto dengan “Macan Asianya”, Habibie dengan “Kemandirian Teknologi Indonesia”, Abdurahman Wahid dengan “Pluralisme Berbangsa”, Megawati dengan “Kemandirian Alutsista Indonesia”, dan yang paling kuat datang dari pemikiran Presiden Susilo Bambang Yodoyono dengan kebijakan “Nol Musuh, Sejuta Teman.” Kebijakan “Nol Musuh, Sejuta Teman” menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya sangat baik dan berpikir sistematis. Inilah salah satu pembuktian perspektif Horizontalisme. Adapun Joko Widodo turut menyumbang dengan kebijakan “Poros Maritim Dunia.” Presiden berikutnya mungkin akan menyumbangkan pemikirannya tentang “Indonesia Macan Dunia.” Ketujuh pemikiran ini menjadi penguat bagi Sekolah Indonesia. Penggunaan istilah nama “SBY” juga menjadi salah satu ciri khas perspektif ini.

Hexapilar Pemikiran Horizontalisme merupakan enam pilar dasar berpikir sebagai acuan melihat dunia dari sudut pandang Horizontalisme, pilar-pilar tersebut adalah: (1)asumsi normatif,(2)asumsi ideasional, (3)asumsi universal, (4)universalisme manusia, (5)Adikrasi, dan (6)kepemimpinan antarbangsa.

(1)Asumsi Normatif: “Manusia Memiliki Sifat Sangat Baik”

Asumsi normatif adalah “moral standar” manusia sebagai ukuran dasar berpikir dan interaksi. Asumsi normatif Horizontalisme, yaitu: (1)pada dasarnya manusia itu “sangat baik”––pemilik sifat terbaik dari seluruh sifat makhluk ciptaan Tuhan;berbanding lurus dengan sifatnya, maka manusia hidup membentuk kelompok terdekatnya dan berkembang, (2)manusia pada dasarnya butuh materi berupa makan, minum, reproduksi; selain itu, manusia juga butuh sesuatu yang nir-materi berupa naluri untuk memimpin dan atau dipimpin, dominasi, aman, bahagia, makmur, menguasai sesuatu diluar diri dan kelompoknya menurut legitimasi, (3)untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya, manusia butuh alat interaksi berupa simbol, bahasa, ilmu pengetahuan, dan teknologi; manakala interaksi yang diciptakan bersifat protagonis termasuk komensalisme atau mutualisme maka kelompok tersebut cenderung tumbuh menjadi lebih besar, namun jika interaksi yang diciptakan bersifat anatagonis termasuk parasitisme maka kelompok tersebut mengalami“penyusutan”, (4)untuk mencapai interaksi yang maksimal, manusia memerlukan jarak, ruang, volume, kecepatan, percepatan, dan waktu yang secara simultan menciptakan “pemetaan” medan dan wilayah yang baik dan maksimal bagi kelompoknya, itulah Kekuatan Geometripolitika Dunia abad 21, (5)pada akhirnya manusia yakin atas hubungan antarkelompok dalam suatu medan dan wilayah yang bersifat konstan (konstanta) akan menghasilkan filsafat dan cara berpikir yang konstan, namun perlu diingat, karena cara berpikir manusia bersifat dinamis, maka filsafat yang dihasilkan juga akan terus berkembang, sedangkan medan selalu konstan, (6)Pemikiran ini mendorong lahirnya manusia yang makmur: itulah manusia Horizontal.

(2)Asumsi Ideasional: “Manusia adalah Makhluk Matematis”

Asusmsi ideasional adalah ukuran pola pikir manusia proyeksinya terhadap aktivitas ideasional antara manusia dan alam. Asumsi ideasional Horizontalisme, yaitu: (1)manusia adalah makhluk matematis yang berpikir secara sistematis. Ia membutuhkan materi, ruang, dan massa termasuk waktu untuk memikirkan apa yang akan dilakukan. Di sisi lain ia juga membutuhkan sesuatu yang nir-materi berupa keinginan untuk memimpin dan dipimpin. Adapun kepemimpinan dunia dibagi ke dalam empat wilayah zona yaitu Geometripolitik Vertikal Positif vis-à-vis Geometripolitik Vertikal Negatif, juga Geometripolitik Horizontal Positif vis-à-vis Geometripolitik Horizontal Negatif; (2)Atas pemikiran sistematis ini, manusia membagi zona kepemimpinan menjadi dua fase yaitu kepemimpinan yang terjadi di fase malam (batilisasi) dan siang (kananisasi). Kedua wilayah ini memiliki karakternya masing-masing sesuai dengan pemimpin wilayahnya, yang mana rotasi kepemimpinan berlangsung selama tujuh abad (700 tahun). Hal ini disebabkan karena bumi adalah bulat (360 derajat), jadi setiap pergantian wajib mengganti sistem kehidupannya; (3)setiap terjadi rotasi kepemimpinan maka ada yang memimpin dan dipimpin; (4)sistem ekonomi dibagi ke dalam empat wilayah yaitu Ekonomi Vertikal Positif vis-à-vis Ekonomi Vertikal Negatif, juga Ekonomi Horizontal Positif vis-à-vis Ekonomi Horizontal Negatif; (5)sistem perdamaian, keadilan, dan kebebasan dibagi ke dalam empat wilayah yaitu Perdamaian Vertikal Positif vis-à-vis Perdamaian Vertikal Negatif, juga zona Perdamaian Horizontal Positif vis-à-vis Perdamaian Horizontal Negatif; (6)ada pagar geometripolitik antarhimpunan manusia yang digambarkan dalam Bejana Dunia; (7)setiap ruang, masa, dan waktu memiliki tujuan akhir, dalam hal ini setiap perspektif memiliki tujuan akhir, dan ketika tujuan tersebut telah tercapai maka perspektif tersebut ikut punah dan digantikan oleh perspektif lain di masa sesudah perspektif tersebut lahir. Hal ini datang silih berganti sebagai manifestasi dari permukaan bumi yang berbentuk bulat dan terus berputar.

(3)Asumsi Universal: “Manusia Hidup Dalam Dua Medan”

Asumsi universal adalah pola pikir manusia proyeksinya terhadap aktivitas struktural antara manusia dan alam. Asumsi universal Horizontalisme, yaitu: (1)Interaksi antarmanusia di seluruh dunia menciptakan dua medan global yaitu Medan Horizontal (Abad 21-27 sebagai Era Horizontal Dunia) mewakili “siang” dan Medan Nir-Horizontal (Abad 14-20 sebagai Era Realisme) mewakili “malam”, (2)Interaksi manusia internal kawasan mendorong terbentuknya Pusat Maritim Global dan Pusat Daratan Global, (3)Interaksi manusia antarkawasan mendorong terbentuknya medan Pusat Geometripolitika Dunia, (4)pembentukan Benua Indonesia sebagai benua termuda di dunia, (5)pembentukan Daerah Eurasia Dunia sebagai Pusat Daratan Global, (6)Dunia percaya pada “Kekuatan Antarbenua” sebagai dasar “Kekuatan Global” Abad 21.Itulah makna hakiki dari Horizontalisme Antarbangsa sebagai “gotong-royong dunia untuk mengejar kepemimpinan universal”, (7)untuk mengamankan dunia abad 21, dunia mestilah percaya pada manusia Horizontal, yaitu manusia “gotong-royong” yang datang dari negara Pusat Maritim Dunia dan Pusat Daratan Dunia. Ekulibrium kedua Pusat tersebut menghasilkan Daerah Horizontal Dunia (DHD) sebagai Episentrum Politik Global dan Episentrum Keamanan Global Abad Horizontal.

(4)Universalisme Manusia: “Mengejar Kepemimpinan Universal”

Tujuan manusia Horizontal adalah untuk “mengejar kepemimpinan universal menjaga keseimbangan dunia.” (1)tujuan manusia adalah memimpin bukan berkuasa. Memimpin manusia yang lain bukan menguasai manusia yang lain sesuai dengan kemampuan kuadran-nya; (2)tujuan manusia adalah untuk dipimpin bukan dikuasai. Dipimpin oleh pemimpin yang satu bukan dikuasai oleh penguasa yang satu, yaitu kuadran yang memimpin pada periode tersebut; (3)adapun syarat menjadi pemimpin di kuadran tersebut ditentukan oleh kemampuan wilayahnya setelah memenuhi 4 kualitas utama; (4)aliansi adalah gotong-royong dunia yang terhimpun dari sekumpulan manusia dari kuadran I, II, III, dan IV dengan melepas pagar geometripolitiknya; (4)setiap manusia wajib mengakui kuadran-nya masing-masing lalu menentukan siapa yang memimpin. Sebagai titik acuan-nya adalah dimulai dari 7a, 14a, 21a  mengikuti deret geometri dengan rasio yang konstan (a = 100 tahun); (5)manusia adalah makhluk matematis yang selalu mengikuti kelompok terdekatnya: himpunan Horizontal dan nir-Horizontal. Masing-masing himpunan memberi peluang untuk memimpin dan dipimpin sesuai periode jaraknya. Setiap periode punya ciri dan memiliki titik ekuilibrium, saling mempersilakan sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam Diagram Siklus Kehidupan dan Bejana Dunia. Sebagai pembuktian-nya mesti ada perang besar di abad 21, perang terbesar di zaman ini (rotasi geometripolitik dunia) yaitu perang yang terjadi untuk melegitimasi kepemimpinan malam menuju siang, sebaliknya siang menuju malam. Ini saya sebut sebagai periode batilisasi dan kananisasi global. Dimulai pada tahun 2000 hingga tahun 2800 atau dari abad 21 hingga abad 28. Titik sempurna abad ini terjadi pada periode abad 21, 28, dan kelipatannya yaitu 700 tahun. Itulah “skema pergiliran universal” dunia.

(5)Sistem Pemerintahan: “Adikrasi Horizontal dan Adikrat”

Sistem pemerintahan manusia Horizontal yaitu: (1)Adikrasi adalah sistem pemerintahan bangsa Horizontal. Dengan demikian, pembangunnan Adikrasi di seluruh dunia mesti berjalan, sedangkan pemerintahan yang belum dipimpin oleh selain bangsa Horizontal––selain sistem Adikrasi tidak diijinkan sama sekali; (2)Sudah menjadi kewajiban bagi manusia Horizontal membenahi himpunan negara-negara dunia untuk tunduk dan patuh pada sistem Bangsa Horizontal sebagaimana dulu penghormatan dan tunduk patuh yang ditunjukkan oleh Bangsa Horizontal kepada bangsa nir-Horizontal menerima sistem Demokrasi secara sukarela. Sudah waktunya bergantian memimpin dunia. Inilah momentum bagi kepemimpinan dunia oleh bangsa Horizontal. Seluruh dunia mesti patuh pada bangsa Horizontal dan mendukung pembangunan Adikrasi di seluruh dunia. Oleh karena itu dunia butuh Adikrat-Adikrat yang kokoh. Kaum Horizontal percaya akan adanya pergantian kepemimpinan dunia memasuki awal abad 21. Momen inilah yang sedang dinantikan oleh masyarakat dunia memasuki abad Horizontal dunia, abad dimana sedang terjadi perang pembuka menuju Perang Geometri Antarbangsa. Sebagaimana kaum Ortodoks menghormati bangkitnya ilmuwan Pax Amerikana setelah pengrusakan “Daerah Horizontal Dunia” pada abad 14 hingga abad 20, maka giliran bangsa nir-Horizontal menghormati kejatuhan-nya dan membuka diri untuk menghormati kebangkitan Mazhab Indonesia sebagai peradaban Pax Asiana di bawah kendali Tiongkok, Rusia, Indonesia, India, dan Mongolia sebagai “negara-negara utamanya” Al-Farabi.

(6)Kepemimpinan Dunia: “Manusia Hidup Gotong-Royong”

Kepemimpinan antarbangsa berkembang dalam 3 skema, yaitu: (1)Politik Antarbangsa Vertikal Positif dan Negatif, dan Politik Antarbangsa Horizontal Positif dan Negatif, (2)Geopolitik Antarbangsa Vertikal Positif dan Negatif; dan Horizontal Positif dan Negatif, (3)Geometripolitik Antarbangsa Vertical Positif dan Negatif; dan Geometripolitk Horizontal Positif dan Negatif, (4)Gotong-royong dunia adalah aliansi dunia untuk mengamankan dunia di abad 21 hingga abad 28. Pengantar zona ini adalah perang besar di masing-masing fase yang terjadi di dekade ke-3 atau ke-4 di setiap abad. Hal ini bisa dilihat dalam “diagram siklus kehidupan” mendahului “tradisi perang universal umat manusia.” Perang adalah “sejarah pergiliran universal.” Itulah tradisi dunia sejak awal.

Horizontalisme Politik: Suatu Perjuangan untuk Mencapai Kepemimpinan Universal

Tujuan manusia Horizontal adalah “mencapai kepemimpinan universal untuk menjaga keseimbangan dunia.” Tiga unsur utama kepemimpinan universal, yaitu (1)pengakuan universal. Manusia boleh saja hidup dengan cara mendominasi manusia yang lain, namun pengakuan adalah simbol kedaulatan atas sebuah kepemimpinan universal. Dalam situasi ini, tujuan manusia adalah mencapai pengakuan; (2)penguasaan universal. Manusia boleh saja hidup dengan cara menguasai seluruhnya atau sebagian hidup manusia lain. Namun, tujuan hakiki manusia adalah memimpin bukan berkuasa. Memimpin manusia yang lain bukan menguasai manusia yang lain sesuai dengan kemampuan kuadrannya. Sebaliknya, tujuan manusia adalah untuk dipimpin bukan dikuasai. Dipimpin oleh pemimpin yang satu bukan dikuasai oleh penguasa yang satu, yaitu kuadran yang memimpin pada periode tersebut; dan (3)kebijaksanaan universal. Apa yang membedakan antara manusia dan makhluk ciptaan tuhan lainnya adalah mengenai suri teladan dan kearifan berpikir. Tak seorang manusiapun mendapatkan penghargaan atas hasil dominasinya setelah mengejar pengakuan dan penguasaan universal keculai diawali dan diakhiri dengan kebijaksaan akal. Mendapatkan pengakuan belum tentu mendapatkan kebijaksaan, atau mendapatkan penguasaan belum tentu mendapatkan kebijaksanaan. Secara mendasar, tidak semua pengakuan adalah kepemimpinan dan tidak semua penguasaan adalah kepemimpinan, tetapi sutau kepemimpinan universal sudah tentu terdapat pengakuan serta penguasaan universal. Dalam kepemimpinan universal sudah pasti terdapat kebijaksaan universal. Kepemimpinan memang butuh pengakuan dan penguasaan. Namun, tanpa unsur kebijaksaan, kepemimpinan akan menyusut menjadi kekuasaan. Sedangkan, kekuasaan cenderung jahat. Jahat bukan moral manusia Horizontal. Oleh karena itu, kepemimpinan universal selalu didampingi oleh kebijaksaaan universal atas pengakuan dan penguasaan terhadap manusia lain.

Horizontalisme Politik: Suatu Fenomena Universal

Horizontalisme berusaha mempertegas arah Hubungan Internasional tentang bentangan geopolitik antarabangsa, organisasi Eropa-Amerika, Aliansi Atlantik dalam memahami konstelasi politik global menjelang pecahnya perang dunia III, mengantarkan pembaca memahami Aliansi Atlantik dalam kerangka global Governance, dan menguraikan pergeseran geopolitik dan politik dunia di seluruh dunia. Bagaimanapun juga Aliansi Atlantik telah mampu menunjukkan eksistensi-nya secara mendalam menjaga status quo perdamaian di dua benua: Eropa dan Amerika, sehingga kemampuannya dalam menggiring global Governance cukup meyakinkan di seluruh dunia. Hari ini dunia mesti mengakui bahwa Aliansi Atlantik merupakan satu-satunya organisasi militer terkuat di dunia. Namun, dunia terus bergulir menjelang matinya kegelapan dan munculnya peradaban baru dari dunia yang jauh.

Sebagai tanda tanda Perang Dunia III fenomena Horizontalisme berikut menunjukkan gejala yang dimaksud, yaitu(1)Bangkitnya Era Digital sebagai salah satu perimeter keamanan negara; (2)Bangkitnya mikropita Jerman sebagai alat pelindung dari kerusakan nuklir. TVRI, Bonn Jerman pada Pukul 09.00 WITA membuktikan fenomena ini. Jerman sangat memahami Mazhab Frankfurt, oleh karena itu teknologi untuk menyimpan data sebagai sejarah peradaban telah dimulai dengan metode Mikropita mencegah kerusakannya dari serangan bom nuklir. Ini berarti kehilangan data akan menyebabkan hilangnya peradaban. Barangkali, kali ini Jerman belajar untuk ketiga kalinya siap berperang kembali; (3)Bangkitnya Ortodoks Rusia beraliansi dengan Tiongkok, Indonesia, India, dan Mongolia (TRIIM); (4)Pesatnya pertumbuhan teknologi Tiongkok (salah satu contohnya adalah Huawei). Meningkatnya ikatan ideologi dan psikologi antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok di ACFTA. Indonesia perlu membentuk formasi adaptasi negara dimana ikatan yang sudah terjalin di ACFTA telah menghubungkan kepentingan Tiongkok dan negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia. Ketika dunia mencapai perimbangan baru, Indonesia akan duduk berdampingan dengan Tiongkok. Selain itu,Tiongkok telah menyimpan data dan senjata Nuklir di bulan; (5)Munculnya kekuatan Inggris mengenai keamanan soft technologi dan mencuaknya tensi loyalitas Inggris di Eropa terkait politik Pound Sterlingnya dan lahirnya referendum Inggris dari UE pada tanggal 23 Juni 2016 yang dikenal dengan peristiwa Brexit (British Exit); (6)Munculnya organisasi universal di daratan Asia sebagai cikal-bakal “negara Adikrasi utama” yang merintis dan mengawali permulaan peradaban abad 21; (7)Terjadinya rotasi keseimbangan besar-besaran oleh negara-negara Rusia, Tiongkok, Indonesia, India, dan Mongolia menggantikan perimbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, (8)lahirnya FPDA yaitu aliansi lima negara Asia Tenggara, (9)Munculnya pertautan antara “negara-negara utamanya Bangsa Horizontal” yaitu ASEAN Defense Ministers’s Meeting yaitu Konferensi Regional Architecture in South East Asia dengan “negara-negara utamanya Bangsa Atlantik” yaitu Royal Higher Institute for Defense, Kementerian Pertahanan Belgia sebagai Ibukota Eropa dimana terdapat Kantor NATO dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussel, (10)Kebangkitan Dunia Selatan bersamaan dengan kebangkitan bangsa Ortodoks, (11)Eksistensi NATO Sebagai Fenomena Horizontalisme.

Horizontalisme Politik: Proyeksi Tatanan Dunia Abad 21, 22-28, dst…

Salah satu proyeksi terbesar Horizontalisme adalah terjadinya pergiliran universal antara dunia malam menggantikan siang (batilisasi) atau sebaliknya dunia siang menggantikan malam (kananisasi). Pergantian ini menadai terjadinya pergeseran kepemimpinan dari suatu kelompok menuju ke kelompok lain. Horizontalisme memiliki proyeksi tentang terjadinya pergeseran besar di abad 21. Menunggu pembuktiannya adalah terjadi perang besar, yaitu Perang Geometri Antarbangsa (PGA). Perang Geometri Antarbangsa boleh jadi merupakan Perang Dunia III (PD III). Perbedaaan antara PGA dan PD III adalah terletak pada metodologi, yaitu terkait cara berperang dan teknologi yang digunakan.

Mengetahui gejala perang sebelum kemunculannya merupakan tugas para ilmuwan politik internasional dalam memperediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Saya memberi garis besar tentang periode prakondisi Perang Dunia III dalam dua kategori, yaitu kategori struktural dan kategori kultural. Secara struktural periode prakondisi Perang Dunia III diawali dengan bangkitnya kekuatan militer Korea, baik Korea Utara maupun Korea Selatan sebagai negara perantara dari Amerika Serikat dan Rusia, munculnya kekuatan nuklir dan militer Iran yang mengancam lembaga perdamaian internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan menguatnya aliansi bayangan Rusia-Tiongkok dalam mengenadalikan politik keamanan di PBB. Sedangkan, secara kultural prakondisi Perang Dunia III ditandai dengan musnahnya Kalender Maya sebagai petunjuk bagi organisasi bawah tanah yaitu Freemasonry, dkk, menguatnya arus globalisasi sebagai pemicu perang ekonomi, dan munculnya jaring-jaring pakta pertahanan baru sebagai pesaing Aliansi Atlantik. Perang Dunia III diprediksi terjadi pada dekade ketiga atau keempat milenium ketiga. Perkiraan perang terjadi di garis tanggal Internasional dan Lautan Atlantik. Kedua lokasi ini merupakan titik wilayah Kekuatan Geometripolitika Dunia abad 21 sebagai lokasi terjadinya pergeseran dunia dari Daerah Atlantik Dunia ke Daerah Horizontal Dunia.

Hadir tiga jenis aliansi dunia memasuki abad Horizontal, yaitu Aliansi Atlantik, Aliansi Bayangan, Aliansi Pemangsa Aliansi. Dan, Perang Dunia III ialah “keniscayaan”. Ia membentuk butiran perdamaian sebelum dunia kembali berperang. Kadang manusia lengah oleh waktu, hingga tak memahami kapan keniscayaan tersebut akan berlaku secara universal. Dunia secara berkala melakukan “pencucian” sejarah untuk membentuk “keseimbangan universal” nya yang baru. Itu juga yang meneladani Perang Kemalisme di Abad 14, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, Perang Globalisasi, dan Perang Dunia III (baca: “Perang Geometri Antarbangsa”) yang sebentar lagi akan berkobar. Hati-hati di jarak Milenium III, Dekade III. sebab di sanalah status Quo Perang Dunia III akan dibentuk dan didudukkan, memasuki Batun 14 sebagai zaman baru.  Perang Dunia III ialah “keniscayaan.” Memasuki dekade ketiga abad 21, acap kali revolusi muncul, cara berpikir manusia sering mengalami kemunduran, pergeseran, lalu muncullah evaluasi lewat perang dan perdamaian. Perlahan-lahan manusia semakin terasing oleh munculnya zaman baru. lalu berusaha beradaptasi dengan teknologi yang memadai. Karena peran pemikiran sangat besar dan saat ini pemikiran belum sepadan dengan semangat zaman. Maka, segala bentuk usaha yang dilakukan oleh manusia untuk kemajuan peradaban nya malah menggilas keseimbangan yang sudah ada, hingga akhirnya menghilang seluruhnya tanpa jejak. Demikianlah kisah “Atlantik Yang Hilang” menurut Plato.

Menyanggah pendapat Huntington tentang pentingnya kesamaan bahasa dalam bangunan kekuatan negara, maka pelajaran untuk film “The Last Samurai” mengenai perbedaan bahasa memicu kelemahan dalam perang semesta. Besarnya peluang slah komunikasi sangat lebar. Di satu sisi mencoba mempelajari bahasa musuh dengan cara memperlakukannya dengan baik layaknya keluarga, di sisi lain ketika musuh mulai berada di posisi puncak keamanannya, ia menyerang balik tanpa mengenal bahasa. Sebagai contoh dalam film, sang musuh diperintahkan untuk menaruh pedang yang ia miliki, karena salah komunikasi, ia malah berbalik melawan (Huntington,1996:77).

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Juli 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto