1

Misi: Evolusi Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia dari “Bebas-Aktif” ke “Poros-Afirmatif”

Misi Horizontalisme adalah mendorong tercapainya visi ”Indonesia sebagai Kekuatan Global Abad 21, 22-28” melalui penguatan kebijakan luar negeri Indonesia sebagai Kekuatan Regional Asia Tenggara dan Asia-Pasifik menuju kekuatan Global masa depan. Ini adalah agenda utama Horizontalisme dunia Abad 21 dimana Indonesia sebagai pemegang kunci politik, keamanan, dan perdamaian dunia. Kebijakan luar negeri “poros-afirmatif” didahului oleh “bebas-aktif” berusaha menegaskan kembali kekuatan Indonesia secara global. Politik luar negeri “poros-afirmatif” berusaha mempertajam prinsip politik luar negeri: “bebas-aktif.” Namun, seiring dengan evolusi hubungan internasional dan evolusi konteks dunia, “poros-afirmatif” secara implisit telah melangkahkan kakinya di pentas internasional. Konteks dunia telah berubah. Oleh karena itu, berangkat dari visi di atas, Horizontalisme memiliki misi mendorong dan mengawal Indonesia merangkai kembali: prinsip “bebas-aktif” membentuk rangkaian baru: prinsip “poros-afirmatif.”

Evolusi “Bebas-Aktif” ke “Poros-Afirmatif”

Prinsip “poros-afirmatif” pertama kali diperkenalkan oleh Adi Rio Arianto sebagai rangkaian baru prinsip politik luar negeri Indonesia yang juga mengilhami lahirnya gerakan politik universal Arahindonesia sebagai sebuah “kompas” masa depan dunia. “Poros-afirmatif” terdiri dari dua kata, yaitu “poros” dan “afirmatif”. “Poros” memiliki filosofi “Indonesia sebagai titik episentrum seluruh aktifitas dunia”, dan “afirmatif” memiliki filosofi sebagai “penegasan atas fakta yang memperlihatkan Indonesia sebagai titik episentrum dunia.” Dengan demikian, “poros-afrimatif” adalah “prinsip politik luar negeri Indonesia yang menekankan Indonesia sebagai episentrum aktifitas dunia.” Sejarah politik luar negeri Indonesia dibawah prinsip “bebas-aktif” sebagai “mendayung diantara dua karang” telah dilewati. Bukankah sudah saatnya Indonesia berlabuh kokoh? Oleh karena itu, prinsip “poros-afirmatif” sebagai “berlabuh kokoh di tengah-tengah diantara banyak karang dan ombak: menjadi karang terkuat diantara dua samudra dan dua benua” mestilah dibangun untuk menyambut kepemimpinan Indonesia masa depan. Posisi Indonesia sebagai poros laut dunia––Samudera Pasifik vis-à-vis Samudera Hindia; dan Daratan Australia vis-à-vis Daratan Asia semakin diperhitungkan oleh dunia. Kebijakan “poros-afirmatif” mesti hadir dan Horizontalisasi dunia mesti berjalan. Sebuah misi “poros-afirmatif” yaitu seluruh aktifitas dunia mesti bertolak dari Pusat Maritim Dunia. Semboyan “poros-afirmatif” adalah negara yang memiliki pulau terbanyak adalah negara terkuat di dunia.

Lima pilar prinsip politik luar negeri “poros-afirmatif”, yaitu: Indonesia sebagai (1)Pusat Maritim Global, (2)Ekuilibrium Daratan Global, (3)Negara Khatulistiwa Dunia, (4)Episentrum Politik Global, dan (5)Episentrum Keamanan Global. Misi lima pilar ini betujuan mencapai kekuatan global melalui instrumen diplomasi afirmatif (tegas). Lima pilar ini sebagai manifestasi dari pemikiran Horizontalisme yang termuat dalam konsep “Kekuatan Geometripolitika Dunia (KGD)”, mendahului pembangunan arsitektur “Daerah Atlantik Dunia (DAD)” vis-à-vis “Daerah Horizontal Dunia (DHD)”, serta mengafirmasi medan “Perang Geometri Antarbangsa (PGA).” Jika misi ini berjalan dengan baik, maka visi pembangunan dunia dengan sistem pemerintahan “Adikrasi” akan menjadikan dunia berada dalam kondisi aman dan makmur.

(1)Indonesia: Pusat Maritim Global

Pusat Maritim Global merupakan suatu kondisi dimana jalur lalu lintas laut berkiblat pada “poros-afirmatif.” Dibekali keuntungan Geografi, Indonesia mesti mempertegas “poros-afirmatif.” Mengingat pertumbuhan kekuatan Indonesia di level regional, secara global telah diperhitungkan. Gejalanya, Rusia dan Tiongkok mulai mendekati Indonesia dalam urusan teknologi Maritim. Rusia secara global––dalam satu dekade––telah pulih dari keterpurukan Pasca Perang Dingin. Rusia melihat potensi Indonesia dan aktif mendekati Indonesia bersama negara ASEAN. Adapun, Tiongkok mulai diprediksi akan menjadi kekuatan global, juga ikut mendekatkan diri ke Indonesia. Konflik Laut Tiongkok Selatan menjadi agenda Tiongkok dengan negara-negara wilayah Asia Tenggara. Tiongkok sebenarnya telah memainkan posisinya sebagai kekuatan regional di Asia Timur. Mencoba memperlebar jangkauan kekuatannya melalui isu Maritim. Dengan demikian agenda Tiongkok dan Indonesia beririsan.

(2)Indonesia: Ekuilibrium Daratan Global

Rusia dan Tingkok merupakan Kawasan Daratan Dunia yang secara geografis wilayahnya tidak memiliki kawasan laut sempurna “Half Land-Lock”. Kedua negara tersebut merupakan kawasan yang sebagian besar wilayahnya terkunci oleh daratan. Satu-satunya cara menjelajah sektor kelautan adalah berbagi dengan negara-negara tetangga atau negara-negara yang setidaknya memiliki wilayah laut sempurna. Inilah kekuatan Indonesia yang tidak dimiliki oleh Rusia dan Tiongkok, yaitu aktivitas-aktivitas yang berorientasi pada sektor Maritim. Namun demikian, kedua negara ini merupakan “Pusat Daratan Global.” Dan, kerjasama Rusia, Tiongkok, dan Indonesia menghasilkan garis keseimbangan antara Pusat Maritim Global dan Pusat Daratan Global. Hadirnya kekuatan Tiongkok di Asia, terutama di Laut Tiongkok Selatan secara geopolitik menguntungkan Indonesia sebab melegitimasi kekuatan regional kawasan dan lebih leluasa terhubung dengan negara-negara maju. Lagipula, Rusia dan Tiongkok adalah dua negara yang tergabung di G20 dan BRICS. Dan, terus menjalin hubungan dengan kedua negara ini akan menguntungkan Indonesia.

(3)Indonesia: Pusat Khatulistiwa Global

Indonesia adalah “negara utama” ASEAN. Secara geografis Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang dilewati oleh garis Khatulistiwa. Indonesia adalah negara yang dilewati oleh garis Khatulistiwa terpanjang di dunia. Dengan menggelar status ini, maka posisi Indonesia di ASEAN menjadi lebih kuat. Jalan Indonesia untuk menjadi Pusat Maritim Global akan semakin baik jika bisa menggabungkan kekuatan Maritim dan kekuatan Khatulistiwa. Jika, Indonesia telah mampu memegang kekuatan Maritim dan Khatulistiwa, maka hal itu berarti Indonesia telah mencapai “poros-afirmatif” dunia. Dukungan negara anggota ASEAN memperkokoh Indonesia sebagai negara pemimpin ASEAN. Negara-negara non-ASEAN, seperti Rusia dan Tiongkok terus mendorong Indonesia sebagai negara kunci Asia Tenggara dan Pasifik. ASEAN menjadi proyeksi “kekuatan regional” Indonesia. ASEAN tanpa “pagar geometripolitik” akan saling terhubung. Dan, itulah kekuatan ASEAN.

(4)Indonesia: Episentrum Politik Dunia

Posisi Indonesia sebagai kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik mesti ditata sekali lagi sebelum menjadi kekuatan global. Ini menuntut Indonesia untuk lebih aktif memperkuat kebijakan “poros-afirmatif. Indonesia mesti mengaktifkan lima pilar ini. Secara implisit dilakukan dengan menciptakan “pengaruh” terhadap negara-negara terdekat, lalu menilai respon yang muncul. Namun, Indonesia perlu terus mengafirmasi diri karena politik dan keamanan global masa depan bertumpu pada kekuatan kerjasama Pusat Maritim Global dan Pusat Daratan Global.  Akibatnya, pertumbuhan Rusia dan Tiongkok mesti diperhatikan.

(5)Indonesia: Episentrum Keamanan Dunia

Visi Horizontalisme adalah menjadikan Indonesia kekuatan regional yang tak tertandingi, kemudian merintis jalan menuju kekuatan Global atas kebijakan “poros-afirmatifnya.” Untuk mencapai visi di atas, maka sudah saatnya Indonesia menejalankan misi  melalui pelaksanaan kelima pilar prinsip “poros-afirmatif.” Poros-afirmatif mestilah berjalan. Manakala hal tersebut terlaksana dengan baik, maka Indonesia sudah akan mencapai Episentrum Keamanan Global masa depan, yaitu arsitektur keamanan Global yang terciptakan sebagai manifestasi dari Ekuilibrium negara Maritim dan negara Daratan Global. Itulah manifestasi dari pembentukan arsitektur “Daerah Horizontal Dunia” awal Abad 21, 22-28 ke depan.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Juli 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto