12

Misi: Pembaruan Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia dari “Indonesia Bebas Aktif (IBA)” ke “Indonesia Handayani Manunggal (IHM)”

Sampailah kita kepada halaman ini. Misi. Misi adalah kiat. Kiat-kiat yang semestinya dilakukan untuk mencapai kehendak tadi. Kiat dari Manunggalisme adalah mendorong tercapainya visi ”Indonesia Handayani Manunggal (IHM) sebagai Kekuatan Regional dan Kekuatan Global Abad 21, 22-28” melalui penguatan kebijakan luar negeri Indonesia sebagai jalan menuju Kekuatan Regional Asia Tenggara dan Asia-Pasifik berlanjut ke Kekuatan Global masa depan.

Ini adalah agenda utama Manunggalisme dunia Abad 21 dimana Indonesia sebagai pemegang kunci politik, keamanan, dan perdamaian dunia. Kebijakan luar negeri “Indonesia Handayani Manunggal” didahului oleh “Indonesia Bebas Aktif” berusaha menegaskan kembali kekuatan Indonesia secara global.

Prinsip Politik Luar Negeri “Indonesia Handayani Manunggal” berusaha memperbaharui gagasan dan nilai-nilai perjuangan jangka panjang dari Prinsip Politik Luar Negeri: “Indonesia Bebas Aktif.” Namun, seiring dengan evolusi hubungan internasional dan evolusi lingkungan strategis dunia, maka “Indonesia Handayani Manunggal” secara substansial telah melangkahkan kakinya di pentas internasional.

Saya melihat, hari ini berbeda dengan situasi saat Perang Dingin berkecamuk, konteks dunia telah berubah. Oleh karena itu, berangkat dari kiat di atas, Manunggalisme bertekad mendorong dan mengawal Indonesia merangkai kembali: prinsip “Bebas Aktif” membentuk rangkaian baru: prinsip “Handayani Manunggal.”

Evolusi “Indonesia Bebas Aktif (IBA)” ke “Indonesia Handayani Manunggal (IHM)”

Prinsip “Indonesia Handayani Manunggal”, menjadi rangkaian baru prinsip politik luar negeri Indonesia yang juga mengilhami lahirnya Gerakan Manunggalisasi Dunia Arahindonesia sebagai sebuah “kompas” masa depan dunia. Prinsip “Handayani Manunggal” terdiri dari dua kata, yaitu “Handayani” dan “Manunggal”.

Makna kata “Handayani” memiliki filosofi “Indonesia sebagai penggerak kehidupan “yang menghidupkan” : bertekad sebagai Arsitektum, Ekuilibrium, dan Episentrum seluruh aktifitas dunia”. Dan, makna kata “Manunggal” memiliki filosofi sebagai “penegasan atas fakta yang memperlihatkan Indonesia sebagai Bangsa pemersatu atas seluruh Bangsa-Bangsa di Dunia “Memanunggalkan Dunia” : juga bertekad sebagai Arsitektum, Ekuilibrium, dan Episentrum dunia.”

Dengan demikian, “Indonesia Handayani Manunggal” adalah “prinsip politik luar negeri Indonesia yang menekankan Indonesia sebagai Episentrum aktifitas dunia, melampaui posisi Arsitektum dan Ekuilibrium.”

Apa yang bisa kita pelajari dari cara berpikir filosofis di atas? ingat, Sejarah politik luar negeri Indonesia di bawah prinsip “Bebas Aktif” sebagai “mendayung di antara dua karang” telah dilewati. Konteks dunia telah berubah. Bukankah sudah saatnya Indonesia berlabuh kokoh dan terbang mengangkasa di atas Khatulistiwa dan mengawasi seluruh aktifitas Bangsa-Bangsa layaknya Garuda mercusuar dunia? Itulah prinsip dari “Handayani Manunggal” yang diusung oleh Manunggalisme.

Oleh karena itu, prinsip “Indonesia Handayani Manunggal” sebagai “berlabuh kokoh di tengah-tengah diantara banyak karang dan ombak: menjadi karang terkuat diantara dua samudera dan dua benua; dan terbang mengangkasa di atas khatulistiwa [secara leluasa, tegak, dan seimbang] untuk menghidupkan nilai-nilai Kemanunggalan Dunia” mestilah dibangun untuk menyambut kepemimpinan Indonesia masa depan.

Posisi Indonesia sebagai Episentrum Laut Dunia (Samudera Pasifik vis-à-vis Samudera Hindia); dan Ekuilibrium Daratan Dunia (Benua Australia vis-à-vis Benua Asia), dan Arsitektum Khatulistiwa Dunia (Garis Khatulistiwa Dunia) semakin diperhitungkan oleh dunia.

Kebijakan “Indonesia Handayani Manunggal” mesti hadir dan Manunggalisasi dunia mesti berjalan. Sebuah misi “Indonesia Handayani Manunggal” yaitu seluruh aktifitas dunia mesti bertolak dari Geometripolitikum Daerah Manunggal Dunia. Semboyan “Indonesia Handayani Manunggal” adalah negara yang memiliki pulau terbanyak adalah negara terkuat di dunia, dan negara yang dilewati oleh garis Khatulistiwa terpanjang di dunia adalah negara pemersatu dunia. Itulah kita, Indonesia. Bangsa Manunggal.

Lima pilar prinsip politik luar negeri “Indonesia Handayani Manunggal”, yaitu: Indonesia sebagai (1)Episentrum Maritim Dunia, (2)Ekuilibrium Daratan Dunia, (3)Arsitektum Khatulistiwa Dunia, (4)Geopolitikum Benua Indonesia, dan (5)Geometripolitikum Daerah Manunggal Dunia.

Misi lima pilar ini betujuan mencapai kekuatan global melalui instrumen Diplomasi Manunggal atau Diplomasi Gotong Royong (lurus, taat, tegas, dan gotong royong). Lima pilar ini sebagai manifestasi dari pemikiran Manunggalisme yang termuat dalam “Kekuatan Geometripolitika Dunia (KGD)”, mendahului pembangunan arsitektur “Daerah Atlantik Dunia (DAD)” vis-à-vis “Daerah Manunggal Dunia (DMD)”, serta menegaskan medan “Perang Geometri Antarbangsa (PGA).”

Jika misi ini berjalan dengan baik, maka visi pembangunan dunia dengan sistem pemerintahan “Adibumi Manunggal” akan menjadikan dunia berada dalam kondisi makmur.

(1)Indonesia: Episentrum Maritim Dunia

Pusat Maritim Global merupakan suatu kondisi dimana jalur lalu lintas laut berkiblat pada prinsip “Handayani Manunggal.” Dibekali keuntungan Geografi, Indonesia mesti mempertegas “Handayani Manunggal.”

Mengingat pertumbuhan kekuatan Indonesia di level regional, secara global telah diperhitungkan. Gejalanya, Rusia dan Tiongkok mulai mendekati Indonesia dalam urusan teknologi Maritim.

Rusia secara global––dalam satu dekade––telah pulih dari keterpurukan Pasca Perang Dingin. Rusia melihat potensi Indonesia dan aktif mendekati Indonesia bersama negara PERBARA.

Adapun, Tiongkok mulai diprediksi akan menjadi kekuatan global, juga ikut mendekatkan diri ke Indonesia. Konflik Laut Tiongkok Selatan menjadi agenda Tiongkok dengan negara-negara wilayah Asia Tenggara.

Tiongkok sebenarnya telah memainkan posisinya sebagai kekuatan regional di Asia Timur. Mencoba memperlebar jangkauan kekuatannya melalui isu Maritim. Dengan demikian agenda Tiongkok dan Indonesia beririsan.  Sama-sama mengkaitkan diri dalam kegiatan gotong royong Asia.

(2)Indonesia: Ekuilibrium Daratan Dunia

Rusia dan Tingkok merupakan Kawasan Daratan Dunia yang secara geografis wilayahnya tidak memiliki kawasan laut sempurna “Half Land-Lock”. Kedua negara tersebut merupakan kawasan yang sebagian besar wilayahnya terselimuti oleh zamrud daratan.

Satu-satunya cara menjelajah sektor kelautan adalah berbagi dengan negara-negara tetangga atau negara-negara yang setidaknya memiliki wilayah laut sempurna. Inilah kekuatan Indonesia yang tidak dimiliki oleh Rusia dan Tiongkok, yaitu aktivitas-aktivitas yang berorientasi pada sektor Maritim.

Namun demikian, kedua negara ini merupakan “Pusat Daratan Global.” Dan, kerjasama Rusia, Tiongkok, dan Indonesia menghasilkan garis keseimbangan antara Pusat Maritim Global dan Pusat Daratan Global.

Hadirnya kekuatan Tiongkok di Asia, terutama di Laut Tiongkok Selatan secara geopolitik menguntungkan Indonesia sebab melegitimasi kekuatan regional kawasan dan lebih leluasa terhubung dengan negara-negara maju.

Lagipula, Rusia dan Tiongkok adalah dua negara yang tergabung di G20 dan BRICS. Dan, terus menjalin hubungan dengan kedua negara ini akan menguntungkan Indonesia.

(3)Indonesia: Arsitektum Khatulistiwa Dunia

Indonesia adalah “negara utama” PERBARA. Secara geografis Indonesia merupakan satu-satunya negara PERBARA yang dilewati oleh garis Khatulistiwa.

Indonesia adalah negara yang dilewati oleh garis Khatulistiwa terpanjang di dunia. Dengan menggelar status ini, maka posisi Indonesia di PERBARA menjadi lebih kuat. Jalan Indonesia untuk menjadi Pusat Maritim Global akan semakin baik jika bisa menggabungkan kekuatan Maritim dan kekuatan Khatulistiwa.

Jika, Indonesia telah mampu memegang kekuatan Maritim dan Khatulistiwa, maka hal itu berarti Indonesia telah berada pada jalur prinsip “Handayani Manunggal”.

Dukungan negara anggota PERBARA memperkokoh Indonesia sebagai negara pemimpin PERBARA. Negara-negara non-PERBARA, seperti Rusia dan Tiongkok terus mendorong Indonesia sebagai negara kunci Asia Tenggara dan Pasifik.

Selanjutnya, PERBARA menjadi proyeksi “kekuatan regional” Indonesia. PERBARA tanpa “pagar geometripolitik” akan saling terhubung. Dan, itulah kekuatan PERBARA.

(4)Indonesia: Geopolitikum Benua Indonesia

Posisi Indonesia sebagai kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik mesti ditata sekali lagi sebelum menjadi kekuatan global. Ini menuntut Indonesia untuk lebih aktif menjaga perjalanan prinsip “Handayani Manunggal.

Indonesia mesti mengaktifkan lima pilar ini. Secara implisit dilakukan dengan menciptakan “pengaruh” terhadap negara-negara terdekat, lalu menilai respon yang muncul.

Namun, Indonesia perlu terus menegaskan diri karena politik dan keamanan global masa depan bertumpu pada kekuatan kerjasama Pusat Maritim Global dan Pusat Daratan Global.

Akibatnya, dan mau tidak mau, pertumbuhan bangsa Manunggal lainnya : Rusia dan Tiongkok mesti diperhatikan oleh Bangsa Indonesia secara berkelanjutan. Itulah kerja kita hari ini.

(5)Indonesia: Geometripolitikum Daerah Manunggal Dunia

Kehendak Manunggalisme adalah menjadikan Indonesia kekuatan regional yang tak tertandingi, kemudian merintis jalan menuju kekuatan Global atas prinsip “Handayani Manunggal.”

Untuk mencapai kehendak di atas, maka sudah saatnya Indonesia menejalankan misi pelaksanaan kelima pilar prinsip “Handayani Manunggal.”Handayani Manunggal mestilah berjalan.

Manakala hal tersebut terlaksana dengan baik, maka Indonesia sudah akan mencapai Geometripolitikum Daerah Manunggal Dunia masa depan, yaitu Arsitektur Keamanan Global sebagai manifestasi dari Ekuilibrium negara Maritim dan negara Daratan Global.

Itulah manifestasi dari pembentukan Geometripolitikum “Daerah Manunggal Dunia” awal Abad 21, 22-28 ke depan.

Pemutakhiran terkini : Jakarta, 20 Januari 2020 |  Ditulis sejak 2008

Profil | Kepakaran | KI-KKI | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta dilindungi UU ITE No. 11 Tahun 2008, Indonesia

Hakcipta 2008-2020 © Adi Rio Arianto