1

Struktur 6. Perang Geometri Antarbangsa (PGA): Pergeseran Kekuatan Dunia dari  Daerah Atlantik Dunia ke Daerah Horizontal Dunia

Dekade ini sejak tahun 2000, dunia telah memasuki abad Horizontal. Periode untuk Pasca Perang Dingin telah berakhir di penghujung tahun 1999 yang berlangsung selama satu dekade, yaitu 1990-2000. Tahun 2000, dunia memasuki zona Pra Perang Dunia III atau pra-kondisi Perang Geometri Antarbangsa. Abad Horizontal adalah abad dimana negara-negara saling mempertahankan diri, mendominasi, dan menciptakan postur global yang baru. Abad Horizontal menandai sebuah pergeseran besar kekuatan dunia dari Euro-Atlantik ke Asia-Pasifik, dari Eropa-Amerika ke Eurasia-Asia. Proses ini akan menghasilkan keseimbangan baru kekuasaan dunia. Saya pikir kali ini kita akan berdiskusi tentang Pra- Perang Dunia III.

Didukung oleh ditemukannya naskah yang hilang, The Nostradamus Code, oleh Dr. Michael Rathford, melalui prediksi-prediksi yang diuraikan dari makna tersembunyi, kode tersebut merujuk pada Perang Dunia III. Ini ditandai dengan fenomena awal abad 21 berupa serangan teroris Amerika Serikat atas Gedung WTC pada 11 September 2001, perang dengan Iran, penghancuran nuklir Roma, konfrontasi antara AS dan Tiongkok-Rusia. Keseimbangan global yang baru akan mengubah status quo dunia.

Kekuatan Eropa-Amerika dalam menciptakan keseimbangan maksimum dunia masih cukup signifikan. Kekuatan global masih dalam kendali Eropa-Amerika. Langkah selanjutnya adalah penting untuk menganalisa proyeksi kekuatan global baru masa depan dengan melihat konteks internasional tentang pertumbuhan kekuatan Asia, Afrika, Timur Tengah, Asia Pasifik, termasuk Australia atau Rusia. Kekuatan global akan terus bergerak bergeser secara perlahan-lahan.

Pergeseran global akan terjadi dari Eropa-Amerika ke wilayah lain. Oleh karena itu penting untuk menganalisis: Bagaimana “keseimbangan global yang baru” akan bergerak dan bergeser? Bagaimana proses keseimbangan global yang baru dihasilkan? Bagaimana Eropa-Amerika memersepsikan kekuatannya? Di manakah pergeseran akan terjadi sebagai titik Ekuilibrium (perang)? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berpindah hingga ke titik puncaknya? Di manakah kejadiannya pergeseran akan terjadi?Untuk menjawab pertanyaan ini, kuncinya adalah memahami konteks dunia dari sudut pandang keamanan global. Dari keamanan global ke perdamaian global, dan peradaban akan muncul. Pergeseran kekuatan akan terjadi dari pemegang kunci keseimbangan global yang telah tua menuju keseimbangan global yang baru. Keseimbangan global yang lama dibentuk dari Perang Dunia I (1942), Perang Dunia II (1945), dan Perang Dingin (1990). Dan, keseimbangan baru dunia mulai menuju titik balik pada Pasca Perang Dingin (1990), Globalisasi, dan memasuki abad Horizontal yang diprediksi sebagai abad meletusnya Perang Dunia III.

Bagaimana ini bisa dijelaskan? Saya menempatkan poin pertama. Status quo PBB saat ini sangat kompleks. Rencananya akan ada penambahan anggota baru untuk anggota tetap di Dewan Keamanan PBB yang akan datang dari Afrika, Jerman, Palestina, dan lain-lain. Namun, perlu waktu dan harus memenuhi banyak prosedur yang berada di bawah kendali oleh lima negara: Perancis, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Inggris. Perancis dan AS akan menjadi dua negara pertama yang memungkinkan status quo berubah. Di bawah proyeksi NATO, hubungan Prancis dan Amerika Serikat selalu mengalami benturan. Dan, Inggris, Tiongkok, dan Rusia akan berpikir dua kali untuk menggenapi tujuan itu.

Prancis akan melakukannya. Sebenarnya, Prancis berada dalam situasi yang kuat di bawah pemerintahan “Sarkozy”, tetapi dokumen putih masih bekerja untuk mendorong pertahanan Eropa di bawah Perancis dan Jerman. Sejak Dewan NATO-Russia dibuat pada tahun 1949, status antara Amerika Serikat dan Rusia mendapatkan harmonisasi, namun Rusia akan mereproduksi postur Eropa bersama Tiongkok. Ini akan mendorong kedua negara menciptakan keseimbangan kekuasaan baru di PBB. Sudah menjadi tradisi sebuah lama bahwa kekuasaan Dewan Keamanan PBB akan selalu berada dalam posisi status quo. Sangat mungkin terjadi kerusakan keseimbangan. Jadi, hipotesis-nya adalah: Apakah yang “keseimbangan global yang baru” harus diproduksi lagi?

Penciptaan keseimbangan global yang baru akan dimulai di NATO. Babak baru NATO adalah bagaimana melihat peran Amerika Serikat untuk selalu dominan di NATO. Dengan demikian, muncul paradigma Eropa I “membuat NATO berada di bawah kendali Amerika Serikat”, yang berfokus pada upaya AS untuk selalu dominan dalam tubuh NATO. Amerika Serikat ingin NATO untuk diposisikan di bawah pengaruh dan kontrol Amerika Serikat “membuat NATO di bawah kendali Amerika Serikat”. Di sisi lain negara-negara Eropa melihat dominasi Amerika Serikat di NATO sebagai ancaman bagi kedaulatan Eropa. Negara-negara Eropa melihat bahwa, jika dominasi Amerika Serikat dibiarkan terus menerus, maka dominasi akan menjadi bentuk kekuatan baru yang akan merusak keseimbangan Eropa. Akibatnya, memberikan ruang untuk saling mendominasi satu sama lain antara Eropa dan Amerika Serikat di NATO. Negara-negara Eropa berusaha untuk memposisikan Amerika Serikat di bawah kendali NATO. Dengan kata lain, muncul paradigma Eropa II, yaitu Eropa ingin “membuat Amerika Serikat berada dibawah NATO”, yaitu berada di bawah kendali negara-negara Eropa. Persaingan antara Eropa dan Amerika di PBB akan merembes ke NATO dan ini selanjutnya menyebabkan perpecahan besar di Eropa dan Amerika. Dengan demikian, keruntuhan Perdamaian Atlantik akan segera tiba dan akan diganti dengan Perdamaian Asia.

Keterkaitan persaingan di atas menunjukkan bahwa bahwa perang nuklir akan terjadi. Namun, hal tersebut mesti diukur. Untuk memahami ini, maka saya wajib menjelaskan asas keseimbangan Al-Jabar. Ini artinya, jika asas Al-Jabar diterapkan disini, maka kejadiannya adalah bahwa perang nuklir itu akan diimbangi oleh norma global dari kebijaksanaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (MDG’s), memikirkan agar bumi tetap hidup dan tidak hancur. Prinsip AL-Jabar adalah ketika ada yang berencana melakukan proses yang tidak seimbang, maka sebaliknya harus ada juga yang melakukan proses sebaliknya, yaitu mempertahankan keseimbangan yang ada, atau tidak, melakukan perlawanan terhadap pendatang baru. Namun, manusia tidak akan pernah bisa berperang bahkan berdamai sebelum mereka mampu menentukan posisinya baik secara ruang, massa dan waktu sebagai bentuk geopolitik status quo.  PD III memiliki variabel bergerak yaitu nuklir dan teknologi, sedangkan variabel tetap yaitu jumlah pulau aktif yang dimiliki oleh masing-masing negara, dan variabel spiral yaitu kekuatan ekonomi. Tiongkok mestilah menunjukkan jumlah seluruh kekuatannya karena itu penting untuk dihitung. Dalam hal ini dapat dikategorikan dalam tiga jenis yaitu : kapasitas, rasionalitas, dan probabilitas nuklir.

Menjelang terbentuknya zona Pra Perang Geometri Antarbangsa, negara-negara yang tergabung dalam rumpun Orthodox dunia––Tiongkok, Rusia, Indonesia, India, dan Mongolia (TRIIM) terus meningkatkan kekuatan dan keamanan negara. Juga, dengan kemunculan BRICS––yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, Republik Rakyat Tiongkok, dan Afrika Selatan turut mempercepat pembentukan zona PGA. Sedangkan, status quo keamanan dunia yang dibangun oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) tahun 1946, nampaknya diam-diam mengalami gejolak. Gejolak ini dapat dilihat dengan cara memahami bentuk, pola dan sumber ancaman yang muncul yang pada akhirnya mendorong semua negara-negara di atas untuk melakukan langkah taktis mencegah ancaman dengan jalan memperkuat pertahanan dan keamanan negara baik dari dalam maupun dari luar negara, termasuk dalam hal ini adalah memahami kemunculan aliansi-aliansi baru di seluruh dunia.

Zona Pra PGA terbentuk setelah berakhirnya zona Perang Dingin (1990) dan berakhirnya Pasca Perang Dingin (2001) yang ditandai dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru dunia, dalam hal ini munculnya negara-negara yang berasal dari rumpun Orthodox. Tanda-tanda ini semakin diperkuat dengan munculnya kerjasama antara negara-negara BRICS. Dalam situasi seperti ini, keamanan dunia mengalami perubahan bentuk, pola, dan sumber ancaman dunia, sehingga semangat negara-bangsa untuk meningkat kekuatan negara semakin luas. Untuk itu, negara-negara ini melakukan reaksi atas pergerakan menuju zona ini. semakin luasnya kapasitas kekuatan geopolitik dunia, meningkatnya anggaran belanja alat-alat perang militer, dan semakin gencarnya negara-bangsa dalam mereproduksi peralatan alutsista negara semakin mendorong dunia memasuki zona PGA.

Indonesia merupakan salah satu calon kekuatan dunia yang terikat dalam rumpun Orthodox dunia bersama-sama dengan Tiongkok, Rusia, India, dan Mongolia. Keberadaan Indonesia semakin diperhitungkan oleh dunia dalam membangun misi perdamaian dunia di Asia Pasifik. Catatan terkuat Indonesia dalam menjalankan misi perdamaian dunia ditandai dengan keaktifan Indonesia menjabat sebagai anggota tidak tetap DK-PBB. Indonesia tercatat telah tiga kali menjabat posisi ini, yaitu pada tahun 1973-1974, 1995-1996, dan paling terakhir pada 2007-2008. Sebelumnya, Indonesia juga telah menjadi negara yang aktif mengirimkan pasukan pemeliharaan perdamaian sejak tahun 1957. Dalam hal ini, penyelenggaraan perdamaian yang telah dilakukan oleh Indonesia bertujuan untuk menciptakan hubungan yang aman dan harmonis dengan memandang negara lain bukan sebagai ancaman dan sebaliknya negara lain tidak memandang Indonesia sebagai ancaman. Secara geopolitik Indonesia memiliki kekuatan terbaik dibandingkan negara Asia lainnya, seperti India dan Jepang. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh letak negara Indonesia yang diapit oleh dua samudera ––Hindia dan Pasifik, dan dua benua ––Asia dan Australia. Dengan posisi ini, Indonesia nampaknya memiliki pertumbuhan kekuatan yang baik, apalagi dengan bertambahnya anggaran untuk peningkatan teknologi alutsista Indonesia dalam kurun waktu 2010-2024, menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan militer dan ekonomi baru di Asia Tenggara. Perkembangan kekuatan alutsista Indonesia meningkat sejalan dengan perkembangan geopolitik internasional yang berlangsung sangat cepat dan kompleks serta menghadirkan fenomena global yang mempengaruhi gelombang perubahan di abad XXI. Bagi Indonesia, ini peluang besar untuk ikut mereproduksi keamanan internasional.

Posisi ini telah memperkuat peran Indonesia dalam jajaran negara-negara yang tergabung dalam TRIIM dan BRICS. Baik di TRIIM maupun di BRICS, Indonesia masih tetap menjadi anggota PBB. Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa besar kekuatan Indonesia dalam menjalankan misi tersebut, maka kekuatan negara Indonesia perlu diperbandingkan dengan negara lain, dalam hal ini adalah Jerman. Itu juga yang memperkuat penulisan tesis ini untuk tetap melibatkan Jerman dalam jajaran negara-negara BRICS dan TRIIM dalam mereproduksi satus quo keamanan internasional ke depan. Jerman sudah enam kali menjabat sebagai anggota tidak tetap DK-PBB dan selalu diikutkan dalam pengambilan keputusan bagi negara pemegang hak veto.  Jerman sebagai salah satu kelompok negara G4 melihat bahwa keanggotaan DK PBB perlu diperluas dengan tujuan untuk memperluas reproduksi status quo keamanan internasional di DK PBB. Perluasan ini sudah dilakukan sejak tahun 1973 sesuai dengan dokumen resmi Pemerintah Republik Federal Jerman: “Seit 1973 ist Deutschland Vollmitglied der Staatengemeinschaft der Vereinten Nationen (VN). Deutschalnd trag knapp neun Prozent des egularen VN-Haushalts und ist damit drittgrobter Breitragszahler. Deutschland ist VN-Stzstaat: seit 1996 trag Bonnden Titel “VN-Staadt”, hier sind 16 Organizationen der VN zu Hause.”

Bagi Jerman, fakta geografi ini dilihat sebagai bentuk kekuatan geopolitik untuk memperbesar peluang dalam memperkuat posisi Jerman di mata internasional, setidaknya Jerman bisa mampu mengungguli dahulu negara-negara di benua Eropa lalu memperluas pengaruhnya di luar benua Eropa. Dengan demikian, Jerman diikutsertakan dalam menganalisis tulisan ini dengan dengan sebutan istilah “BRICS +Jerman.” Indonesia dan Jerman memiliki misi yang sama-sama menarik perhatian dunia, terutama bila dilihat dari segi kerjasama militernya. Beberapa kerjasama militer antara Indonesia dan Jerman telah terjalin sejak dekade 90-an dan terus berlanjut hingga sekarang. Selain itu, kedua negara juga ikut terlibat dalam misi perdamaian di PBB sebagai anggota tidak tetap. Semua hal di atas merupakan indikator penting untuk digunakan dalam menganalisis kekuatan negara-negara menjelang memasuki zona PGA.

Zona Pra PGA ditandai dengan munculnya senjata nuklir sebagai senjata paling terkuat di dunia. Keberadaan senjata nuklir telah mengalami perkembangan secara pesat, dengan tujuan tidak hanya untuk mencegah dari munculnya ancaman di luar negara dengan cara menggunakan nuklir sebagai alat pertahanan negara tetapi juga untuk menunjukkan kepada negara lain bahwa nuklir memperkuat pertahanan negara dari berbagai ancaman terkuat. Untuk itulah nuklir menjadi alat terkuat untuk meningkatkan keamanan negara dari berbagai bentuk ancaman. Dengan demikian, mengukur keamanan negara berarti mengukur sejauh mana nuklir mengancam keamanan suatu negara. Sebagai konsekuensi-nya, maka saya perlu memaparkan kondisi keamanan dunia pada Pra PGA.

Ini dapat dijelaskan dengan cara memahami status quo keamanan internasional Pra PGA , negara-negara apa yang diindikasikan akan terlibat dalam mereproduksi status quo keamanan internasional, dan terakhir menjelaskan secara geopolitik dimana jantung dunia hari ini terletak yang dalam pemahaman penulis ada di Asia Pasifik, yaitu Indonesia. Hari ini Indonesia adalah “jantung dunia” yang segera akan menjadi titik perebutan bagi negara-negara besar di dunia. Oleh karena itu saya berasumsi bahwa “Siapa yang menguasai Indonesia  akan menguasai Asia Pasifik, siapa yang menguasai Asia Pasifik akan menguasai Daratan Asia, Siapa yang menguasai Daratan Asia akan menguasai dunia, dan akhirnya keamanan internasional telah bergeser dari daratan Eropa dan Amerika ke daratan Asia”.

Dengan demikian, menjadi sangat penting untuk mengkaji kondisi geopolitik Indonesia dari posisi geopolitik dunia, sama ketika memahami kondisi geopolitik Jerman di Eropa, dalam hal ini “Jerman sebagai Jantung Eropa”. Oleh karena itu, Jerman sebagai jantung Eropa memiliki ambisi yang kuat untuk masuk ke dalam struktur keanggotaan Dewan Keamanan tetap PBB setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Dewan Keamanan tidak tetap PBB tahun 2011-2012 lalu. Secara Geopolitik, Jerman memiliki peluang besar untuk menduduki jabatan tersebut. Posisi geografis negara Jerman sesuai dengan dokumen resmi Pemerintah Republik Federal Jerman bahwa: “Deutschland liegt im Herzen Europas und ist von neun Nachbarstaaten umgeben: Frankreich, Schweiz, Ostereich, Tschechien, Polen, Danemark, Niederlande, Belgien, und Luxemburg.[16] Posisi ini telah menambah nilai kekuatan Geopolitik Jerman di kawasan Eropa secara keseluruhan sekaligus sebagai satu-satunya negara terkuat di bagian tengah Benua Eropa dengan luas wilayah 357.021 km2.

Pada akhirnya, karena abad 21 merupakan waktu bagi dunia untuk memasuki zona PGA, Indonesia telah melibatkan diri dalam aktivitas negara-negara BRICS dan TRIIM. Untuk menganalisis zona PGA, maka beberapa pertanyaan berikut akan menjadi dasar fokus analisa ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: bagaimana kekuatan aliansi BRICS dalam Reproduksi Status Quo Keamanan Internasional Pra PGA? Sebagai perwakilan bangsa nir-Horizontal Dunia, bagaimana posisi Jerman terhadap negara-negara TRIIM dan atau BRICS? Bagaimana proyeksi kekuatan aliansi BRICS dan TRIIM dalam reproduksi status quo keamanan internasional pada Pra PGA? Bagaimana status quo keamanan internasional Pra PGA?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka akan dibahas mengenai status quo keamanan internasional dalam perspektif BRICS, TRIIM, dan Jerman Pra PGA yang terdiri dari: ancaman dan keamanan internasional dalam perspektif BRICS, ancaman dan keamanan internasional dalam perspektif Jerman. berikutnya adalah analisis kekuatan aliansi BRICS dalam reproduksi status quo keamanan internasional Pra PGA yaitu proyeksi kekuatan aliansi BRICS dalam reproduksi status quo keamanan internasional pada Pra PGA 1 dan analisis perilaku BRICS memasuki zona Pra PGA.

Selai itu, memahami elemen-elemen kekuatan negara dan aliansi dilihat dari proyeksi terhadap ancaman keamanan dunia dari penggunaan senjata nuklir sehingga kondisi geopolitik mesti dipahami secara mendalam. Juga termasuk di dalamnya adalah membahas strategi, model, dan formula kekuatan negara-negara yang tergabung dalam TRIIM, BRICS dan Jerman dalam pengambilan keputusan untuk mereproduksi status quo keamanan internasional ke depan. Pada akhirnya, untuk lebih jauh memahami proses terbentuknya zona baru Pra PGA, analisis ini akan mendalami pola-pola perubahan dan pergeseran proyeksi keamanan Internasional dari negara-negara nir-Horizontal (Eropa dan Amerika) menuju Asia khususnya Asia Pasifik, dan melakukan prediksi-prediksi awal tentang proses terjadinya pergeseran, dan melihat dimana posisi negara-negara BRICS dan TRIIM dalam fenomena ini. Saya juga akan menganalisis perilaku BRICS, TRIIM, dan juga Jerman sebagai bentuk kemampuan negara-negara tersebut dalam proses pengambilan keputusan untuk misi keamanan dunia. Saya melihat proses pengambilan keputusan tersebut akan lebih banyak dipengaruhi oleh tatanan geopolitik dunia menjelang terbentuknya zona PGA.

Jerman akan menjadi “jembatan penghubung penting” ketika pergeseran kekuatan dunia mulai berlangsung dari negara-negara Atlantik Dunia menuju ke negara-negara Horizontal Dunia. Dalam pemikiran saya, Jerman akan menjadi negara paling netral pasca Perang Geometri Antarbangsa. Itulah sebabnya, mengapa Jerman penting untuk dianalisis. Itulah bentuk penghormatan Jerman terhadap negara-negara utama Bangsa Horizontal. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh Rusia ketika proses berakhirnya Perang Dingin dimana Rusia memberi penghormatan kepada Jerman untuk bersatu kembali: reunifikasi Jerman menandai berakhirnya kepemimpinan Rusia di Eropa-Eurasia. Dan, secara gamblang, fenomena tersebut menunjukkan bahwa betapa Rusia adalah bangsa yang penuh sopan santun.

*tulisan ini sedang dalam pengembangan. Mohon diberi masukan.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Maret 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto