1

Struktur 2. Horizontalisme dan Sejarah Universal Manusia (SUM):  Perang dan Damai dalam Sejarah Umat Manusia

“Dunia tanpa malam bukanlah dunia, dunia tanpa siang bukanlah dunia. Demikian halnya, dunia tanpa perang bukanlah dunia, dunia tanpa perdamaian bukanlah dunia. Dengan demikian, dunia adalah tempat hadirnya perang dan damai sebagai manifestasi dari rotasi siang dan malam––Adi Rio Arianto”

Perang dan damai sebagi manifestasi dari perjuangan paling tinggi dari kelompok manusia untuk mengejar kepemimpinan universal. Dalam sejarah umat manusia, tidak akan ada “kekuasaan”, atau “pengakuan” tanpa “kepemimpinan.” Semuanya mengarah pada tujuan ideasional dan struktural. Mengejar kepemimpinan adalah yang paling tertinggi. Sebagai contoh Nazisme Jerman dan Fasisme Italia, Imperium Islam selama tujuh abad, Komunisme Uni Soviet selama 30 tahun. Motif untuk membatasi pertumbuhan kekuatan negara lain, seperti halnya kekuasaan Napoleon, Imperium Islam, dan Nazi Jerman. Semua fenomena ini termasuk dalam motif mengejar kepemimpinan dengan mencegah kepemimpinan di pihak lain. Fenomena ini adalah lumrah dalam sejarah umat manusia sebagai bentuk perjuangan untuk mengejar posisi sebagai pemeta dunia, yaitu manusia-manusia yang hidup berkelompok membagi-bagi wilayah dunia secara adil.

Penyusutan dan pemetaan universal atas Bangsa Horizontal, yaitu Perang Turki Usmani 1325 (abad ke 14)––Imperium Islam termasuk Imperium Uni Soviet––merupakan suatu fenomena Horizontalisme atas penaklukan secara sistematis bangsa-bangsa (kelompok-kelompok) dunia secara keseluruhan untuk mengejar kepemimpinan universal. Selanjutnya, diikuti oleh Perang Balkan , Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, dan Perang Dunia III menuju  perdamaian Asia “Pax Asiana” sebagai Era Horizontal dunia abad 21.

Bertolak-belakang dengan motif mengejar kepemimpinan universal, motif yang paling berbahaya dalam persaingan internasional adalah penjajahan. Penjajahan menyebabkan meletusnya perang kecil dan besar di seluruh dunia. Penjajahan menyebabkan perang Teluk, Afrika, Afghanistan dan Irak. Perang ini menyebabkan krisis dunia.Persaingan, perselisihan, dan konflik antara Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Rusia terkait Irak, Afghanistan, Timur Tengah, dan masalah internasional lainnyamerupakan penjajahan untuk meraih manfaat sumber daya alam.

Penjajahan mendominasi persaingan pentas internasional, memperebutkan pengaruh dan menguasai pihak lain.Penjajahan adalah faktor yang melahirkan persaingan internasional di antara negara-negara utama. Hal itu secara nyata mengobarkan berbagai perang lokal dan perang dunia. Untuk menghindarkan diri dari perang-perang ini, dibuat-buatlah perjanjian-perjanjian untuk mengamankan dunia sebagai dalih menjaga keamanan dan perdamaian. Horizontalisme mengakui kejadian ini sebagai penyusutan dan pemetaan universal yang sudah seharusnya terjadi pada fase yang telah ditentukan. Penjajahan adalah manifestasi dari kesetimbangan dunia. Dunia selalu berputar, ada yang menjajah dan yang dijajah. Proses ini terus berlangsung sampai bumi behenti berputar. Itulah siklus universal.

Pasca Perang Dunia I ke Perang Dunia II (1918-1939)

Dalih menjaga keamanan bukanlah dalih baru di dunia. Perjanjian Aix-la-Chapelle yang ditandatangani pada tahun 1818 oleh lima negara merupakan dalih menjaga keamanan. Dengan perantaraan perjanjian atau persekutuan ini, kelima negara menjadi penjaga keamanan dan ketertiban internasional. Mereka bisa melakukan intervensiterhadap negara lain secara seweang-wenang atas dalih ancaman terhadap perdamaian dan ketertiban internasional. Dalih menjaga perdamaian dan ketertiban komunitas internasional, selanjutnya menjadi jalan bagi negara-negara besar untuk melakukan intervensi, perang, dan alat untuk melestarikan penjajahan.Perdamaian dapat dicapaimelalui persekutuan di antara negara-negara adidaya melalui berbagai konferensi internasional. Setelah Perang Dunia I, perdamaian dijaga  melalui penciptaan badan-badan internasional. Dalam perjanjian damai tahun 1919, ditambahkan pasal untuk membentuk sebuah badan internasional guna menjaga perdamaian, yaitu Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Badan ini didirikan untuk menjaga perdamaian. Namun, negara-negara ini menyimpang dari komitmennya dan tidak ingin mundur dari negara-negara hasil jajahannya, dan badan itu sendiri yang menangani penjagaan perdamaian dan mencegah perang. Sedangkan, negara-negara adidaya tidak mau mundur dari negara-negara jajahannya, tidak mau mengubah keadaannya, kemudianmencari keseimbangan baruuntuk memelihara kepentingannya. Mereka bermaksud hendak membagi-bagi rampasan perang bekas milik Jerman dan Imperium Islam di antara mereka. Inggris mendapatkan bagian terbesar. Hal itu menyebabkan  rusaknya perdamaian yang seharusnya dijaga badan LBB, meletusnya perang, dan kemudian berakhir dengan Perang Dunia II.

Pasca Perang Dunia II ke Perang Dingin (1945-1947)

Setelah Perang Dunia II negara-negara adidaya berulang kali mendirikan badan internasional untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Negara-negara adidaya, yaitu Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet dan kemudian bergabung pula Perancis, melakukan pembahasan mengenai keharusan membentuk dunia pasca perang “pemetaan universal” dalam suatu model yang baru yang dapat menjamin stabilitas perdamaian dan mencegah peperangan. Mereka menambahkan pula tujuan lain yaitu kemudahan kerjasama ekonomi di antara sistem yang bermacam-macam dan berbeda-beda serta memelihara hak-hak asasi manusia. Sejak itu Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi penjaga perdamaian dan kata “perdamaian” tetap menjadi slogan internasional yang diulang-ulang oleh semua pihak dan dijadikan dalih bagi negara-negara adidaya untuk menjaga perdamaian, mencegah negara-negara lain dari pembebasan, dan mencegah pembebasan diri dari penjajahan. Demikianlah ide “menjaga perdamaian” telah berkembang hingga menjadi kokoh.

Masalah penjagaan perdamaian olehlembaga-lembaga atau badan-badan internasional telah memunculkan mitos “perlucutan senjata.” LBB berupaya untuk melaksanakan isu perlucutan senjata.  Inggris menjadikan isu tersebut sebagai sarana untuk melemahkan Perancis. Inggris mendorong Jerman untuk memperbanyak persenjataan dalam rangka membentuk keseimbangan di Eropa antara Jerman dan Perancis. Maka gagallah isu-isu perlucutan senjata dan meledaklah Perang Dunia II.Ketika terbentuk PBB, lembaga ini juga menggunakan isu perlucutan senjata. Tetapi, sampai sekarang tidak ada satu negara adidaya yang mampu memperlemah negara lain seperti yang dilakukan Inggris terhadap Perancis dalam LBB. Demikian pula PBB tidak mampu memberikan pengaruh.

Persaingan antara negara adidaya memunculkan berbagai konferensi internasional dan pakta-pakta. Konferensi Wina yang diadakan tahun 1815 adalah yang paling besar pengaruhnya. Sebelum Perang Dunia I meletus, beberapa konferensidiadakan. Di antaranya adalah Konferensi Berlin yang diselenggarakan untuk menyepakati penghentian batas-batas Imperium Islam dan pembagian bekas-bekas miliknya. Setelah Perang Dunia I juga diselenggarakan beberapa konferensi. Di antaranya Konferensi Berlin, Jenewa, dan Paris. Namun, setelah adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang membentuk keduanya menjadi satu kekuatan, tidak lagi diadakan satu konferensi satu pun. Kecuali pada tahun 1969 ketika para utusan negara-negara adidaya, yaitu Perancis, Inggris, Uni Soviet, dan Amerika Serikat mengadakan pertemuanterkait akivitas PBB untuk  membicarakan  krisis Timur Tengah. Pertemuan ini bukaalah konferensi, karena dilaksanakan dalam kerangka PBB.

Konferensi-konferensi telah diadakan setelah Perang Dunia II untuk membahas masalahantara Blok Timur dan Barat, sebab kedudukan Blok Timur lemah dalam PBB. Oleh karena itu Uni Soviet mencoba mengambil alih kendali inisiatif dari Blok Barat dan berupaya menyaingi Amerika Serikat sebagai negara pertama. Uni Soviet mencoba menyelesaikan masalah-masalah di luar PBB dan berhasil melakukannya dalam Konferensi Berlin dengan memperluas celah perbedaan antara Inggris-Perancis dan Amerika Serikat. Uni Soviet juga berhasil mengambil keputusan dengan mengadakan Konferensi Jenewa. Uni Soviet berhasil dalam konferensi itu. Penyelenggaraan konferensi-konferensi itu telah melemahkan Amerika Serikat dan memperkuat Uni Soviet. Inggris juga mencoba mengadakan berbagai konferensi dengan Amerika Serikat untuk memecahkan berbagai masalah di luar PBB. Diadakanlah Konferensi Bermuda, tetapi tidak berhasil.  Setelah itu tidak ada lagi konferensi antara negara-negara Blok Barat,melainkan hanya terbatas pada pertemuan-pertemuan rutin antara Amerika Serikat dan Inggris. Amerika Serikat telah menyadari bahwa penyelanggaraan konferensi di luar PBB akan melemahkan posisinya dan mengakibatkan lemahnya kedudukan Amerika Serikat secara internasional. Karena itu, Amerika Serikat kemudian tidak menyetujui pelaksanaan konferensi di luar PBB, terutama setelah terjadi detente. Yang disetujui Amerika Serikat adalah persekutuan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet setelah pertemuan Wina tahun 1961.

Perang Dingin ke Pasca Perang Dingin (1947-1990)

Adapun pakta-paktamerupakan hal lumrah yang terjadi di periode ini. Pakta-pakta dibuat oleh berbagai negara untuk memperkuat dirinya di hadapan negara lain atau untuk mencegah dominasi satu negara atas negara lain agar tidak merusak keseimbangan di antara mereka. Perjanjian Aix-la-Chapelle yang diadakan tahun 1818 merupakan suatu pakta. Pakta-pakta yang ada antara Inggris, Perancis, Austria, dan Jerman merupakan pakta untuk memperkuat dan menjaga keseimbangan. Kemudian pakta yang diadakan antara Perancis dan Inggris untuk melawan Jerman pada Perang Duia I, adalah pakta untuk melawan sebuah negara adidaya. NATO  yang lahir setelah Perang Dunia II diciptakan untuk melawan Uni Soviet, juga Pakta Warsawa yang diadakan setelah Perang Dunia II untuk melawan Blok  Barat.Semuanya adalah pakta-pakta  yang diadakan untuk menentang kekuatan lain. Maka pakta-pakta ini mirip dengan konferensi-konferensi internasional menjadi sarana  untuk melawan kekuatan lain, atau untuk menjaga keseimbangan. Inilah pakta-pakta yang lahir sebagai alat dan sumber pemicu konflik internasional.

Adapula pakta atau perjanjian yang diadakanoleh negara adidaya dengan negara-negara kecil. Pakta ini tidakdianggap sebagai alat konflik internasional secara langsung, melainkan hanya sebagai sarana penjajahan, atau sarana untuk memperkuat negara adidaya yang telah merekayasa perwujudannya. Pakta yang diadakan antara Irak dan Turki, kesepakatan sebelum Perang Dunia II yang dinamakan Pakta Sa’adabad, diadakan oleh Inggris dalam rangka memantapkan pengaruhnya di negeri-negeri tersebut dan dalam rangka menguatkan bobot internasionalnya di hadapan negara-negara adidaya lainnya seperti Perancis dan Uni Soviet.  Perjanjian-perjanjian yang diadakan Inggris dengan Irak, antara Inggris dan Mesir sebelum Perang Dunia II adalah alat untuk mengokohkan penjajahan Inggris, bukan untuk kepentingan perang. Pakta-pakta yang juga diadakan Inggris setelah Perang Dunia II seperti Pakta Baghdad, atau yang diadakan Amerika Serikat seperti ASEAN, atau yang dirancang Amerika Serikat agar Kuwait, Pakistan, Mesir, Maroko, Argentina, Korea Selatan, Bahrain, Australia, New Zealand, Philipina, Thailand, ditambah Israel tergabung dalam apa yang dinamakan “sekutu strategis di luar NATO” tiada lain adalah sarana penjajahan dan untuk meneguhkan pengaruh Amerika Serikat. Pakta juga menjadi urusan kepentingan perang. Pakta-pakta ini tidak menjadi alat konflik internasional yang langsung, kecuali pakta-pakta yang diadakan antara negara adidaya dengan sesamanya.

Pasca Perang Dingin ke Abad Horizontal (1990-2000)

Pasca Perang Dingin, NATO mestinya berakhir begitu Uni Soviet dan Blok Timur menyusut. Amerika Serikat tetap mempertahankan NATO bahkan berusaha memperluas NATO. Amerika Serikat telah menggabungkan banyak negara Eropa Timur ke dalam NATO. Amerika Serikat berupaya menggabungkan negaralain sebagaibentuk perubahan agenda NATO. NATO tidak lagi berhadapan dengan Blok Timur, melainkan  diagendakan untuk menentang anggota Blok Barat itu sendiri. Sebab Amerika Serikat telah melihat gelagat adanya upaya negara-negara Eropa yang ingin meloloskan diri dari cengkeraman Amerika Serikat. Maka Amerika Serikat lalu mempertahankan NATO agar negara-negara Eropa tetap berada di bawah cengkeramannya––karena Amerika Serikat adalah pihak yang mendominasi NATO–dan agar keamanan dan pertahanan Eropa tetap terikat dengan Amerika Serikat.Belakangan ini negara-negara yang bersekutu dengan Amerika Serikat pada Perang Teluk dan pendudukan Irak sebagai negara-negara koalisi––dapat dianggap sebagai contoh persekutuan yang dimaksudkan untuk memperkuat pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah dan memperkokoh orientasi politik unilateral Amerika Serikat. Pakta atau persekutuan itu adalah salah satu sarana penjajahan Amerika Serikat yang baru.

Itulah dasar-dasar yang menjadi landasan politik internasional secara umum. Dasar itu merupakan landasan bagi politik setiap negara yang berpengaruh terhadap politik internasional. Dengan dasar itu, aktivitas-aktivitas politik yang terjadi di dunia akan dapat dipahami, akan dapat ditafsirkan secara tepat atau sesuai dengan faktanya, atau setidaknya hampir tepat dan hampir sesuai dengan faktanya. Aktivitas-aktivitas politik yang dilakukan oleh berbagai negara, baik negara adidaya mapun negara kecil, tidak mungkin bisa dipahami dengan baik tanpa memahami motif dibalik fenomen tersebut.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Maret 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto