1

Struktur 7. Horizontalisme dan Sistem Adikrasi Horizontal (SAH): Adikrat dan Gotong-Royong Pembangunan Adikrasi di Seluruh Dunia

Adikrasi adalah suatu bentuk sistem pemerintahan yang akan muncul sebagai satu-satunya sistem pemerintahan di dunia pasca digelarnya Perang Dunia III. Adikrasi akan membentuk Adikrat, yaitu manusia-manusia Horizontal yang akan menyebar ke seluruh dunia saling gotong-royong untuk membangun dan menyebarluaskan pemahaman Horizontal kepada seluruh umat manusia yang masih hidup pasca Perang Dunia III. Adikrasi perlahan-lahan akan membentuk sebuah peradaban baru yang dimulai pada dekade ke-4 Abad Horizontal dunia. Dengan demikian, mari sejenak mengkaji fenomena peradaban, kaitannya dengan wilayah, generasi, dan batas umur sebuah generasi (batas umur sebuah peradaban dunia).

Peradaban adalah bangunan alam beserta gejala-nya yang disimbolkan dalam sebuah ideologi murni dan turunannya mencakup kehidupan manusia pada masa tertentu. Semua turunannya telah saling berpengaruh sesuai dengan dasar ideologi yang substansial dan fundamental. Ideologi tersebut bersifat tunggal sebab semua unsur kehidupan hanyalah turunan dari ideologi. Fenomena hukum, politik, ekonomi, dll adalah turunan dari ideologi. Sedangkan, keseimbangan universal adalah Ekuilibrium Peradaban, yaitu sebuah proses pertemuan dua peradaban besar yang berulang yang di dalamnya terjadi re-disintegrasi, re-integrasi, dan pergeseran nilai atas suatu simbol perwakilan sistem yang di-ejawantah-kan dalam bentuk pengkaburan atau pemurnian sistem yang tunggal.

Pergeseran universal adalah sebuah fenomena pergeseran ideologi yang tidak sempurna.Pergeseran universal bersifat positif dan negatif. Pergeseran universal sebagai proses penyatuan, pengkaburan, dan pemurnian nilai suatu sistem. Berikut empat frase kata yang menjadi poin utamanya, yaitu pertama pergeseran berkaitan dengan hal-hal yang bersifat transisi dan berulang, kedua takaran generasi di tiap zamannya, ketiga re-disintegrasi, re-integrasi, dan pergeseran nilai atas suatu simbol perwakilan sistem, keempat pengkaburan atau pemurnian sistem tunggal.

Jika kita mengamati sebuah proses, maka di akhir proses itu tentu ada hasil. Dan sebuah hal untuk sampai pada suatu hasil tentu ia telah melalui beberapa tahapan proses. Transisi adalah sebuah proses peralihan meliputi berbagai dimensi dan aspek tatanan hidup manusia. Dalam sebuah peralihan tentu ada dua hal yang sudah pasti terjadi, yang ditinggalkan dan  yang disambutkan, yang diruntuhkan dan yang ditegakkan, yang diciptakan dan yang dihilangkan, yang diluruskan dan yang dibengkokkan, dan lain-lain yang bersifat transitif. Jika kita hubungkan dengan fenomena alam maka peralihan atau transisi sangat dekat dengan kehidupan manusia. Siang dan malam adalah sebuah proses peralihan. Karena siang dan malam adalah sebuah ketetapan alam, sesuatu yang terjadi secara terus-menerus dan tidak pernah berhenti, maka ia pasti akan mengulangi transisinya dan sudah tentu ia akan mengulangi tahapan prosesnya. Maka dari sini dapat diambil sebuah kesimpulan ilmiah bahwa dalam setiap fenomena alam jika kita amati secara seksama maka sudah pasti akan kita temui terciptanya sebuah transisi yang berulang. Itulah tradisi alam. Pergeseran universal adalah fenomena alam yang bersifat masif, karena dalam perjalanannya melibatkan aspek yang luas dan rumit.

Keterkaitan antara generasi dan zaman adalah terletak pada batasan umur manusia. Fenomena revolusi adalah salah satu manifestasi dari generasi. Dalam setiap revolusi pasti hadir sebuah perubahan. Revolusi mengandung beberapa elemen, yaitu penggerak massa atau rakyat yang tergabung dalam satu komunitas yang teroganisir berarti ia harus punya pemimpin organisasi, rejim yang menjadi lawan main dari revolusioner untuk ditumbangkan kekuasaannya, waktu dan wilayah revolusi menyangkut kapan dan dimana revolusi terjadi. Sama halnya dengan transisi siang dan malam, revolusi pun punya aspek demikian. Ukuran malam dan siang idealnya adalah masing-masing seperdua dari dua puluh empat jam, ini khusus untuk daerah di bumi yang dilalui jalur khatulistiwa langsung. Namun, berapa jauh-pun rentang perbedaan jam (lama waktu) antara malam dan siang jelas bahwa tidak akan pernah ada suatu negara atau bangsa berada dalam posisi malam terus atau siang terus, sehingga kedua kondisi ini tetap akan bergulir sepanjang sejarah peradaban manusia. Batasan waktu sudah jelas, dan keterkaitan antara wilayah dan generasi telah nampak.

Setiap wilayah punya karakter manusia yang khas yang menjadi pembeda dengan wilayah lainnya atau di sini kita sebut sebagai generasi. Generasi manusia memiliki batas-batasan, salah satunya adalah batasan umur manusia yang ada di wilayah tersebut. Untuk melakukan sebuah revolusi tentu perlu generasi sebagai penggerak revolusi, dan setiap generasi sudah pasti punya batas waktu masing-masing. Sama halnya dengan siang dan malam. Pembedanya terletak pada siapa manusia yang ada ketika itu. Aktor pemain alam boleh saja berubah, tetapi konsep aktivitas alam tidak akan pernah berubah, terkait perencanaan, tahapan pelaksanaan, dan hasilnya sebagai akhir dari prosesnya. Jika pergeseran universal adalah sebuah proses alam yang transisi maka pasti ia memiliki batas waktu, pada titik tertentu akan berhenti berproses setelah menciptakan hasil, kemudian dalam waktu depan akan hadir kembali dengan nama yang berbeda, manusia yang berbeda dan waktu yang berbeda pula.

Fenomena batilisasi dan kananisasi terkait pergeseran global dalam konteks global memang sangat rumit untuk dipahami, tetapi bila ada standar yang jelas tentu akan lebih mudah dipahami karena adanya penyederhanaan kajian dalam bentuk klasifikasi proses yang berulang dan bertahap. Alam tidak akan pernah berhenti berproses. “Fase kananisasi, re-integrasi hak––penyatuan kembali nilai-nilai yang hak, di sini berarti sistem yang hak sedang dalam proses penegakkan, otomatis akan terjadi re-disintegrasi batil pada waktu yang bersamaan––peruntuhan kembali nilai-nilai yang batil, sebab sistem yang batil sedang dalam proses peruntuhan. Inilah kananisasi. Sebaliknya: “fase batilisasi, Re-integrasi batil––penyatuan kembali nilai-nilai yang batil, di sini berarti sistem yang batil sedang dalam proses penegakkan, otomatis akan terjadi re-disintegrasi hak pada waktu yang bersamaan––peruntuhan kembali nilai-nilai yang hak, sebab yang hak sedang dalam proses peruntuhan. Inilah batilisasi.

Horizontalisme Politik lahir di abad 21 di tahun 2000. Mengenai pergeseran universal, Horizontalisme menekankan pada dua aspek pergeseran yang saling kontradiktif, yaitu Universalisasi global (positif) dan Deuniversalisasi global (negatif). Universalisasi global adalah mekanisme pergeseran universal sebagai suatu arus yang senantiasa berbalik pada titik keseimbangan. Universalisasi global memandang bahwa pergeseran adalah suatu determinasi sistem yang sejak dahulu telah lebih awal ditetapkan prosesnya. Ia telah memiliki standar, ukuran kapasitas, dan titik-acuan yang jelas. Ia hadir  dari proses penciptaan alam yang satu menuju peradaban baru melalui beberapa tahap, ia hadir untuk menetapkan sebuah sistem yang adil melalui penciptaan sebuah tatanan hidup manusia yang baru di bawah kendali kekuasaan otoritas tertinggi Sang Pencipta, dimana untuk mencapai itu harus ada kekuatan hegemoni yang adil dalam kehidupan manusia termasuk bagaimana menguasai dan mengolah alam dengan menggunakan standar yang jelas. Ketetapan yang hak maupun ketetapan yang batil kedua-duanya telah ditetapkan sesuai batasannya. Ini adalah keniscayaan. Alam adalah hasil karya murni dari sang pencipta karena ada determinatornya. Inilah  “sunatullah.” Inilah akar hidup manusia sejak dahulu.

Universalisasi positif menolak mekanisme universalisasi negatif yang ingin menyatukan seluruh komponen hidup manusia dengan hukum buatan manusia yang tidak jelas. Sedangkan, universalisasi negatif adalah sebuah mekanisme pengkaburan wilayah, namun semuanya tetap dalam satu sistem yang tidak jelas. Universalisai negatif memiliki 3 instrumen dasar yang masing-masing komponen berdiri sendiri-sendiri dalam satu sistem, tetapi ketika ketiga komponen ini digabungkan, keberadaanya tidak berada dalam satu sistem, sehingga dimungkinkan adanya diferensiasi nilai yang ketika disatukan berpeluang menimbulkan konflik komponen. Spesifikasinya adalah bahwa dalam universalisai negatif  ideologi menyatu pada satu sistem yang lain, ekonomi menyatu pada satu sitem yang lain, teknologi menyatu pada satu sistem yang lain, sehingga ketika disatukan tidak ada sinkronisasi antarkomponen. Universalisasi positif menolak mekanisme yang seperti ini, tetapi fenomenanya adalah sesuatu yang harus dikaji dan diterima secara alamiah, prosesnya tetap dibawah kendali manusia.

Universalisasi positif mengarahkan manusia menuju pada sebuah kondisi massa yang jenuh dimana suatu peradaban bersama kaumnya mengalami titik equilibrium pada waktunya, sehingga hal-hal yang seharusnya menjadi tujuan yang tidak jelas kini berbalik arah menjadi suatu hal yang lebih jelas dan terstruktur. Ini adalah sebuah proses dimana alam mulai memposisikan diri untuk kembali pada titik keseimbangannya, sehingga manusia perlu menyesuaikan diri dengan alam. Ini terjadi karena manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan dari seluruh mahkluk yang ada saat ini. Universalisai positif fokus pada penghapusan kotak-kotak pemahaman ideologi suatu negara, bukan pada batas teritorialnya seperti klaim pada Universalist negatif yang selalu menjadi akar permasalahan antarbangsa. Jika dulu penjajahan hadir untuk mengotak-ngotakkan bangsa melalui pembatasan geografis wilayah kemudian mendogmakan paham tertentu, maka universalisasi positif hadir untuk menyatukan seluruh paham yang ada di penjuru dunia melalui satu tatanan kehidupan. Sehingga tidak ada perbedaan antarmanusia mengenai suatu masalah, sebab pada masa itu semuanya telah jelas batasannya.

Manusia tidak berhak dan tidak sepantasnya mengatur manusia lainnya menurut kemauan hatinya atau hukum yang dibuatnya sendiri. Fitrah manusia adalah mengatur manusia lainnya menurut aturan tuhan, artinya harus ada legitimasi dari tuhan kepada manusia untuk mengatur manusia lainnya, dan tentu menggunakan sistem tuhan yang satu. Pada akhirnya, penganut Horizontalisme memandang ideologi sebagai akar kehidupan manusia yang memang diciptakan satu dan menyatu. Sehingga komponen hidup lainnya seperti ekonomi, teknologi, sosial-politik, dll tidak harus diformulasikan dengan membuat sistem baru yang terpisah dari sistem ideologi yang telah ada. Konsep politik isolasi adalah kananisasi sistem yang pada awalnya dilakukan untuk memurnikan sebuah ideologi. Hal ini dilakukan untuk menciptakan keteraturan yang terorganisir bagi kehidupan manusia. Sistem Adikrasi Horizontal akan dimulai dari titik ini.

*tulisan ini sedang dalam pengembangan.

Pemutakhiran terkini | Jakarta, 28 Maret 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto