12

Visi: Indonesia Kekuatan Global Abad 21, 22-28, dst.

Pada dasarnya, sebagai suatu pemikiran, Manunggalisme memiliki kehendak. Kehendak Manunggalisme adalah terlebih dahulu membangun Indonesia sebagai Kekuatan Regional di antara Bangsa-Bangsa Asia Tenggara yang kini terikat dalam Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (PERBARA) alias ASEAN. Tidak mudah menjadi kekuatan kawasan, syarat awalnya adalah Indonesia wajib menjadi bangsa pengayom di antara Bangsa-Bangsa yang ada di kawasan. Selanjutnya, bergotong royong dengan kekuatan kawasan lainnya untuk melangkah ke Kekuatan Global Abad 21, 22-28, dst.

Kehendak ini tentu saja tidak mudah untuk dicapai. Itu sebabnya Manunggalisme mendorong prinsip “Hubungan Antarbangsa Bersifat Gotong Royong”. Sifat gotong royong ini yang kemudian akan selalu ditunjukkan oleh Bangsa-Bangsa Manunggal dalam berinteraksi sesama. Untuk melihat kehendak ini, Saya mengajak saudara sekalian untuk melihat interkasi Indonesia di beberapa lembaga internasional strategis, seperti : G20 dan BRICS (Brazil, Russia, India, China/Tiongkok, dan Afrika Selatan).  Serta interaksi Indonesia dengan dua Bangsa Manunggal lainnya di dunia, yaitu: Tiongkok dan Rusia.

Bila kita telusuri secara mendalam, ada keterkaitan kuat antara keanggotaan Indonesia di G20, agenda BRICS, dan pertumbuhan Indonesia sebagai “Kekuatan Regional” Asia Tenggara dan Pasifik menuju “Kekuatan Global” di masa depan.

Dari sisi keanggotaan, semua negara anggota BRICS adalah juga anggota G20, seperti Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelima negera ini merupakan perwakilan kawasan sekaligus sebagai “kekuatan regional” di kawasan masing-masing––Brazil di Amerika Latin, Rusia di Eurasia, India di Asia Selatan, Tiongkok di Asia Timur, dan Afrika Selatan di Afrika.

Adapun, Indonesia adalah satu-satunya negara PERBARA yang tergabung dalam keanggotaan G20. Indonesia merupakan “Kekuatan Regional” di Asia Tenggara dan Pasifik. Dengan demikian, ada irisan antara Indonesia dan agenda BRICS. Kelima negara ini termasuk Indonesia merupakan komposisi dasar keanggotaan G20 dan sudah tentu memiliki agenda besar untuk memperkuat kedua posisinya––baik di G20 maupun di BRICS.

Melihat pertumbuhan kekuatan Indonesia di Asia Tenggara dan Pasifik, negara-negara sebagai “Pusat Daratan Global” seperti Rusia dan Tiongkok mulai melirik Indonesia untuk bisa ikut bergabung di BRICS. Demikianlah keterlibatan Rusia dan Tiongkok di G20 dan BRICS punya pengaruh besar untuk merangkul Indonesia dan mendorong Indonesia menjadi lebih kuat di kawasannya. Langkah ini telah dilakukan dengan mendorong Indonesia terus aktif membina dan mengambil peran yang signifikan dan efektif di G20. Barangkali prinsip kebijakan luar negeri “Handayani Manunggal” bisa mendorong kehendak untuk bersatu.

(1)Indonesia dan G20: Agenda di Kawasan

Dalam permanunggalan dunia Abad 21, Indonesia secara resmi tergabung dalam G20 tahun 2008, sekaligus melegitimasi kekuatan Indonesia di Asia Tenggara sebagai satu-satunya negara PERBARA yang tergabung dalam G20. Dalam situasi ini, keanggotaan Indonesia di G20 telah menempatkan Indonesia jauh lebih efektif dan menguntungkan. Setidaknya, secara prosedural, G20 telah menempatkan Indonesia sebagai “kekuatan regional” Asia Tenggara dan Pasifik. Semoga juga berdampak baik dari sisi substansionalnya.

Selain itu, G20 yang merupakan kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia telah mampu mempengaruhi agenda ekonomi global tidak hanya bagi negara anggotanya tetapi juga bagi negara di luar keanggotaan. Oleh karena itu, posisi ini menyebabkan Indonesia lebih leluasa melihat pertumbuhan kawasan. Dengan demikian, lebih cermat dalam menyusun dan mencapai kepentingan nasional di kawasan.

Selama beberapa dasawarsa berjalan, sejak didirikan di tahun 1999, G20 telah menciptakan “penyebaran” kebijakan yang sangat kuat dan menjadi forum pengendali kuatan ekonomi dunia terutama bagi negara-negara yang paling kuat memegang posisi kekuatan ekonomi regional. Di sini Indonesia diuntungkan, sebab di satu sisi menjadi legitimasi bagi status indonesia sebagai kekuatan regional kawasan, di sini lain, Indonesia lebih leluasa terhubung dengan negara-negara kuat yang dianggap bisa mendukung pencapaian kepentingan nasional Indonesia di level regional dan global.

Saya melihat, semakin baik Indonesia di G20, semakin cepat Indonesia bergabung dengan BRICS sebagai perwakilan “kekuatan regional” di Asia Tenggara. Sehingga momentum persatuan kawasan di dunia Timur, yang saya sebut sebagai “Daerah Manunggal Dunia (DMD)” lebih cepat terbentuk.

(2)Indonesia dan BRICS: Agenda Global

Keterkaitan antara Indonesia dan agenda BRICS adalah tentang inisiatif Rusia dan Tiongkok untuk menjadikan Indonesia sebagai pemegang kunci kawasan Asia Tenggara dan Pasifik untuk membangun kawasan “Daerah Manunggal Dunia.” Kawasan ini mewakili proyeksi kekuatan negara-negara: Tiongkok, Rusia, Indonesia, India, Mesir, dan Mongolia, serta Asia, Afrika, dan Eurasia (TRIIMAAE)—sebagai konsep Arsitektur Politik Dunia DMD-TRIIMAAE menuju “kekuatan regional” dan “kekuatan antarbenua” sebagai calon kekuatan global masa depan (untuk ulasan ini, lihat tulisan Saya “Keamanan Siber Menuju Perang Geometri Antarbangsa: Geometripolitika dan Arsitektur Keamanan Dunia Era Horizontal (Manunggal) Abad 21″ (Prosiding AIHII, 2016: 31)).

Hal ini penting untuk dianalisa, di satu sisi, melihat kemajuan Rusia dan Tiongkok sebagai dua pemain utama ekonomi global, di sisi lain kedua negara ini cenderung “memperlemah” kekuatan Barat (Amerika Serikat, dan rumpunnya). Inilah irisan fundamental Filsafat Hubungan Internasional Timur antara “Teori Politik ke-4“, yaitu “The Fourth Political Theory: Beyond Left and Right but Against the Center” yang disebut dengan istilah “Eurasianisme” (aliran Rusia) dan “Manunggalisme” dengan prinsip bahwa “Hubungan Antarbangsa Bersifat Gotong Royong” (aliran Indonesia).

Atas pertimbangan di atas, Saya melihat dengan seksama bahwa posisi Indonesia di G20 merupakan agenda besar Rusia dan Tiongkok untuk melibatkan Indonesia menjadi anggota BRICS. Lalu, menggabungkan seluruh “kekuatan regional” yang saling terhubung antarkawasan tanpa “pagar geometripolitik.” Dengan demikian, arsitektur “Daerah Manunggal Dunia (DMD)” akan tumbuh lebih kuat.

Saya men-visi-kan, Rusia dan Tiongkok akan menggandeng Indonesia masuk di BRICS bergabung dengan kekuatan regional lainnya untuk menuju kekuatan Global di masa mendatang. Oleh karena itu, Indonesia mesti merespon situasi ini melalui evolusi dan perbaikan prinsip politik luar negeri dari “Bebas Aktif” ke “Handayani Manunggal” sebagai prinsip politik luar negeri Indonesia memasuki Abad 21.

(3)Indonesia dan Dunia: Calon Kekuatan Global

Terakhir, memang benar bahwa posisi Indonesia sebagai kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik perlu ditata sekali lagi sebelum akhirnya menjadi kekuatan global. Hal ini menuntut Indonesia mengambil peran besar di G20 dan forum internasional lainnya yang bersifat strategis.

Saya melihat dukungan Rusia dan Tiongkok melalui BRICS mampu secara efektif membawa Indonesia menjadi calon kekuatan global di masa mendatang, hanya saja jika Rusia dan Tiongkok bisa menggandeng Indonesia di BRICS. Sebaliknya, Rusia dan Tiongkok berkeinginan menjadi kekuatan Global masa depan. Dan, hal ini akan tercapai jika Indonesia terlibat dalam kerjasama strategis kedua negara tersebut.

Pertanyaan kuncinya adalah “Apakah agenda BRICS memperkuat Indonesia di G20 sudah cukup meyakinkan Indonesia untuk bergabung di BRICS?” Hal itu bergantung pada sikap Indonesia apakah hanya ingin menjadi kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik atau ingin lebih maju menjadi negara kekuatan global di masa depan.

Sesuai dengan prinsip “Handayani Manunggal”, maka sudah waktunya Indonesia membina kerjasama berkelanjutan dan bergotong royong menghidupkan nilai-nilai Kemanunggalan dunia dengan Rusia dan Tingkok dan negara-negara Timur lainnya. Setelah itu, barulah kita mampu menata Bangsa-Bangsa Nir-Manunggal.

Pemutakhiran terkini : Jakarta, 20 Januari 2020 | Ditulis sejak Januari 2008.

Profil | Kepakaran | KI-KKI | Seminar | Foto | Kontak | Hakcipta dilindungi UU ITE No. 11 Tahun 2008, Indonesia

Hakcipta 2008-2020 © Adi Rio Arianto