1

Visi: Indonesia Kekuatan Global Abad 21, 22-28, dst.

Visi Horizontalisme adalah ”Membangun Indonesia sebagai Kekuatan Global Abad 21, 22-28.” Selanjutnya, ada korelasi yang sangat signifikan antara keanggotaan Indonesia di G20, agenda BRICS, dan pertumbuhan Indonesia sebagai“Kekuatan Regional” Asia Tenggara dan Pasifik menuju “Kekuatan Global” di masa depan. Dari sisi keanggotaan, semua negara anggota BRICS adalah juga anggota G20, seperti Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelima negera ini merupakan perwakilan kawasan sekaligus sebagai “kekuatan regional” di kawasan masing-masing––Brazil di Amerika Latin, Rusia di Eropa Timur (Eurasia), India di Asia Selatan, Tiongkok di Asia Timur, dan Afrika Selatan di Afrika. Adapun, Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang tergabung dalam keanggotaan G20 merupakan “Kekuatan Regional” di Asia Tenggara dan Pasifik.Dengan demikian, ada irisan antara Indonesia dan agenda BRICS. Kelima negara ini termasuk Indonesia merupakan komposisi dasar keanggotaan G20 dan sudah tentu memiliki agenda besar untuk memperkuat kedua posisinya––baik di G20 maupun di BRICS. Melihat pertumbuhan kekuatan Indonesia di Asia Tenggara dan Pasifik, negara-negara sebagai “Pusat Daratan Global” seperti Rusia dan Tiongkok mulai melirik Indonesia untuk bisa ikut bergabung di BRICS. Demikianlahketerlibatan Rusia dan Tiongkok di G20 dan BRICS punya pengaruh besar untuk merangkul Indonesia dan mendorong Indonesia menjadi lebih kuat di kawasannya. Langkah ini telah dilakukan dengan mendorong Indonesia terus aktif megambil peran yang signifikan dan efektif di G20.

(1)Indonesia dan G20: Agenda Geopolitik Regional

Indonesia secara resmi tergabung dalam G20 tahun 2008, sekaligus melegitimasi kekuatan Indonesia di Asia Tenggara sebagai satu-satunya negara ASEAN yang tergabung dalam G20. Dalam situasi ini, secara geopolitik, keanggotaan Indonesia di G20 telah menempatkan Indonesia jauh lebih efektif dan menguntungkan. Setidaknya, secara implisit G20 telah menempatkan Indonesia sebagai “kekuatan regional” Asia Tenggara dan Pasifik. Selain itu, G20 yang merupakan kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia telah mampu mempengaruhi agenda ekonomi global tidak hanya bagi negara anggotanya tetapi juga bagi negara di luar keanggotaan. Oleh karena itu, posisi ini menyebabkan Indonesia lebih leluasa melihat pertumbuhan kawasan. Dengan demikian, lebih cermat dalam menyusun dan mencapai kepentingan nasional di kawasan.Selama 15 tahun berjalan, sejak didirikan di tahun 1999, G20 telah menciptakan “penyebaran” kebijakan yang sangat kuat dan menjadi forum pengendali kuatan ekonomi dunia terutama bagi negara-negara yang paling kuat memegang posisi kekuatan ekonomi regional.Di sini Indonesia diuntungkan, sebab di satu sisi menjadi legitimasi bagi status indonesia sebagai kekuatan regional kawasan, di sini lain, Indonesia lebih leluasa terhubung dengan negara-negara maju yang dianggap bisa mendukung pencapaian kepentingan nasional Indonesia di level regional dan global.

Saya men-visi-kan, semakin baik Indonesia di G20, semakin cepat Indonesia bergabung dengan BRICS sebagai perwakilan “regional power” di Asia Tenggara. Sehingga momentum kawasan geopolitik dunia, yang saya sebut sebagai “Daerah Horizontal Dunia (DHD)” lebih cepat terbentuk.

(2)Indonesia dan BRICS: Agenda Geopolitik Global

Keterkaitan antara Indonesia dan agenda BRICS adalah tentang inisiatif Rusia dan Tiongkok untuk menjadikan Indonesia sebagai pemegang kunci kawasan Asia Tenggara dan Pasifik untuk membangun kawasan “Daerah Horizontal Dunia.” Kawasan ini mewakili proyeksi kekuatan negara-negara: Tiongkok, Rusia, India, Indonesia, dan Mongolia—sebagai konsep Arsitektur Politik Internasional DHD-TRIIM menuju “kekuatan regional” dan “kekuatan antarbenua” sebagai calon kekuatan global masa depan. Hal ini penting untuk dianalisa, di satu sisi, melihat kemajuan Rusia dan Tiongkoksebagai dua pemain utama ekonomi global, di sisi lain kedua negara ini cenderung “memperlemah” kekuatan Barat (Amerika Serikat, dan rumpunnya). Inilah irisan fundamental dari “Teori Politik ke-4“, yaitu “The Fourth Political Theory: Beyond Left and Right but Against the Center” yang disebut dengan istilah “Eurasianisme” aliran Rusia dan “Mazhab Horizontalisme” aliran Indonesia (Mazhab Indonesia). Atas pertimbangan di atas, sesungguhnya posisi Indonesia di G20 merupakan agenda besar Rusia dan Tiongkok untuk melibatkan Indonesia menjadi anggota BRICS. Lalu, menggabungkan seluruh “kekuatan regional” yang saling terhubung antarkawasan tanpa “pagar geometripolitik.” Dengan demikian, arsitektur “Daerah Horizontal Dunia” akan tumbuh lebih kuat.

Saya men-visi-kan, Rusia dan Tiongkok akan menggandeng Indonesia masuk di BRICS bergabung dengan kekuatan regional lainnya untuk menuju kekuatan Global di masa mendatang.Oleh karena itu, Indonesia mesti merespon situasi ini melalui evolusi dan perbaikan prinsip politik luar negeri dari “bebas-aktif” ke “poros-afirmatif” sebagai prinsip politik luar negeri Indonesia memasuki abad Horizontal.

(3)Indonesia dan Dunia: Calon Kekuatan Global

Posisi Indonesia sebagai kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik mesti ditata sekali lagi sebelum akhirnya menjadi kekuatan global. Hal ini menuntut Indonesia mengambil peran besar di G20 dan forum lainnya. Saya melihat dukungan Rusia dan Tiongkok melalui BRICS mampu secara efektif membawa Indonesia menjadi calon kekuatan global di masa mendatang, hanya saja jika Rusia dan Tiongkok bisa menggandeng Indonesia di BRICS. Sebaliknya, Rusia dan Tiongkok berkeinginan menjadi kekuatan Global masa depan. Dan, hal ini akan tercapai jika Indonesia merespon kerjasama kedua negara tersebut. Pertanyaan paling stratgeis yaitu“Apakah agenda BRICS memperkuat Indonesia di G20 sudah cukup meyakinkan Indonesia untuk bergabung di BRICS?” Hal itu bergantung pada sikap Indonesia apakah hanya ingin menjadi kekuatan regional di Asia Tenggara dan Pasifik atau ingin lebih maju menjadi negara kekuatan global di masa depan.Sesuai dengan misi kebijakan “poros-afirmatif”, maka sudah waktunya Indonesia aktif bekerjasama dengan Rusia dan Tingkok.

Pemutakhiran terkini sejak Januari 2008 | Jakarta, 28 Juli 2016

Profil | Riset | Seminar | Publikasi | Foto | Kontak | situs ini dilindungi undang-undang

Hakcipta 2008-2017 © Adi Rio Arianto